Cinta Berkedok Persahabatan

Cinta Berkedok Persahabatan
Episode 6


__ADS_3

Renata dan alvin sangat bahagia setelah mengetahui gadis yang dibawa puteranya adalah haya, anak sahabat mereka.


"Kami baik sayang, bagaimana keadaan mommy sama daddy kamu apa mereka ikut kesini?," tanya alvin pada haya, arfha yang mendengar pertanyaan papahnya soal kedua orang tua haya pun segera mengajak kedua orang tuanya untuk bicara di dalam.


Renata menangis lemas begitu mendengar penjelasan arfha dan haya tentang alesha dan edward sahabat nya itu, "sayang aunty benar-benar tidak tahu, maafkan kami sayang," ucap alesha pada haya sambil terus menangis.


"Ga apa-apa aunty, ini sudah takdir yang harus haya jalani, inshaAllah haya kuat aunty,"


"Sayang, kamu tumbuh jadi gadis cantik dan kuat seperti ibu mu, kamu tidak kehilangan siapapun sayang, masih ada aunty sama uncle yang akan selalu menjaga kamu sayang,"


"Benar sayang, sekarang kamu tinggal dimana?," tanya alvin sekarang.


"Haya menyewa apartement dengan teman haya dari london uncle," jawab haya


"Kamu pindah ajah kesini sayang, uncle khawatir kalau kamu ngekos sendirian, sekarang kamu adalah anak gadis kami, kamu akan kami jaga dengan baik," lanjut alvin


"Benar yang uncle alvin bilang haya, kamu pindah kesini yahh, temenin aunty disini," tambah renata


"Maaf aunty, uncle bukannya haya tidak mau, tapi haya tidak enak sama teman haya, nanti dia jadi sendirian disana," jawab haya.


"Yasudah mah, terserah haya dulu saja bagaimana nyamannya, tapi kamu harus ingat rumah ini adalah rumah kamu, kapan pun kamu bisa datang kesini sayang," ucap alvin


"Iyah uncle, terimakasih uncle,"


"Owhh iyah tadi arfha bilang kamu jadi karyawan di kantornya arfha sayang?,"


"Iyah uncle, haya karyawannya arfha,"


"Ohh yahh, syukurlah sayang, aunty jadi tenang kalau kamu ada disekitaran kami,"


"Iyah aunty, terimakasih,"


"Sudah-sudah mah pah, jangan bersedih terus, kita harus bikin haya bahagia kan, ohh iyah arfha lapar mah, apa sudah ada makanan?,"


"Iyah kamu bener sayang, ayo haya kamu harus bahagia sayang, kamu tidak pernah sendiri ada kami,"


"Iyah aunty, ohh iyah aunty arfha katanya laper biar haya ajah yang masakin mumpung lagi libur haya mau masakin aunty sama uncle juga,"


"Emang kami bisa masak sayang?,"


"Bisa aunty, tapi gak tau menurut aunty sama uncle enak atau engga," ucap haya sambil tersenyum


"Yasudah ayo kalau mau masak aku sudah lapar, tadi aku gak sarapan soalnya," ucap arfha yang langsung menarik tangan haya dan membawanya kedapur.


"Kamu ini arfh, kenapa hobby banget narik-narik aku sihh, pelan-pelan dong siapa suruh gak sarapan,"


"Aku kan gak sarapan jemput kamu,"


"ikhh dasarr bisanya nyalahin orang,"


Melihat pertengkaran haya dan arfha renata dan alvin pun tersenyum.


"Akhirnya mereka bertemu juga yahh pa,"


"Iyah mah, kelihatan sekali arfha sangat bahagia,"


"Iyah pah,"


Setibanya di dapur haya pun memakai celemek dan bersiap memasak.


"Arfh, apa kamu punya ikat rambut?,"


"Apa? Kamu ini ada-ada ajah hay, aku kan laki-laki mana punya ikat rambut,"


"Yah kamu minta ke mba kamu dong, minta cariin iket rambut,"


"Mba aku lagi izin keluar hay, makanya tadi aku minta makan sama mamah,"

__ADS_1


"Ishh kamu ini memang paling menyebalkan, yasudahlah," haya pun melihat disekitanya mencari sesuatu yang sekiranya bisa dia pakai untuk merapikan rambutnya yang tergerai itu.


Setelah melihat-lihat haya pun tertuju pada sebuah sumpit yang agak panjang, haya pun mengambilnya dan menggulung rambutnya keatas lalu menyelipkan sumpit itu sebagai pengikat rambutnya.


Walaupun hanya bermodalkan sumpit tapi haya berhasil menyanggul rambutnya yang panjang itu ke atas meskipun masih ada tersisa sedikit-sedikit yang tidak terbawa tadi.


Arfha yang melihat penampilan haya begitu terpesona, sekarang dihadapannya haya terlihat lebih cantik lagi dengan leher dan tengkuknya yang terlihat jelas didepan arfha, begitu mulus dan putih dengan dihiasi rambutnya yang tidak terikat membuat haya terlihat semakin cantik.


"Ya ampun, ingin rasanya aku menikahimu detik ini juga hay," gumam arfha didalam hatinya sambil menelan salivanya.


"Lihatlah anak mu itu, sungguh mesum sekali"ucap renata pada alvin.


"Wajarlah mah, harusnya seperti itu kan, namanya itu respon normal arfha sebagai laki-laki, tapi kasihan juga dia mah,"


"Kasihan kenapa?,"


"Sudah pasti sekarang arfha tambah ngebet mau nikahin haya, tapi haya nya masih belum tau bakal nerima arfha atau engga hehe,"


"Heh, papah ini, yahh didoain dong pah, jangan sampai haya nolak, aku gak mau menantu yang lain, apalagi si rania itu," ucap renata.


"Rania?, rania siapa mah?," tanya alvin


"Itu gadis dari keluarga chandra, itu sepertinya yang nenek mu bakalan jodohin buat arfha, soalnya nenek pernah bawa dia kemari,"


"Ohh yah, aku tidak tau, kapan mereka kemari?,"


"Yah untung ajah waktu kamu sama arfha gak ada,"


"Yasudahlah mah, mau siapapun gadisnya kalau arfha gak mau gaka akan berpengaruh padanya,"


"Iyah pah,"


"Arfh tolong ambilkan paprika dikulkas," pinta haya pada arfha yang sedari tadi memang berdiri disampingnya tapi arfha yang sedang menikmati keindahan didepan matanya, tidak mendengarkan ucapan haya.


"Arfha...hei..kenapa bengong, apa laper bikin telinga budek juga yaa?," ucap haya sekarang sambil menepuk lengan arfha.


"Ahh sudahlah aku yang ambil sendiri, kamu lebih baik tunggu ajah dimeja makan, jangan disini gangguin ajah,"


Arfha tidak mematuhi perkataan haya, dia tetap berada di dapur memperhatikan gadis pujaannya itu memasak, hanya kali ini arfha duduk dikursi tidak berdiri terus didekat haya.


Setelah sekitar hampir satu jam di dapur haya pun selesai dengan semua menu nya. "Arfha jangan bengong lagi, ayo panggil aunty sama uncle untuk makan, aku udah selesai,"


"Ok, " jawab arfha lalu memanggil kedua orang tuanya yang sebenarnya dari tadi memperhatikan mereka.


Sekarang mereka berempat pun berkumpul dimeja makan, "wahh seperti sedang direstoran yaa pah?,"


"Iyah mah, haya sayang kamu bukan hanya cantik tapi juga pinter masak, beruntung sekali suami kamu nanti nak," ucap alvin sambil melirik memberi kode pada puteranya arfha.


"Iyah, arfha memang beruntung pah," ucap arfha dengan cuek nya.


Seperti biasa haya tidak pernah menanggapi ucapan arfha dengan serius.


"Ayo di makan aunty uncle, cicipi dulu semoga suka,"


"Iyah makasih yaa sayang,"


"Wah haya ini enak sekali, gimana kalau tiap hari kamu masakin aku?," ucap arfha


"Iyah sayang makanan kamu enak semuanya,"


"Makasih mah, iyah arfh nanti kalau sempat aku akan masakin," ucap haya


Selesai makan haya diajak mengobrol oleh alvin dan renata di taman, lalu alvin tiba-tiba memanggil arfha yang masih saja makan karena dia begitu suka makanan yang haya masak, "arfh coba sini," teriak alvin.


"Apa pah?, "


kamu mutasikan haya ke kantor papah yahh, papah butuh yang kaya haya deh buat di perusahaan papah," arfha yang tidak terima dengan ucapan papah nya segera bangkit dan menuju taman.

__ADS_1


"Gak bisa pah, haya punya nya arfha, ga bisa di pindah kemana-mana, soalnya bukan cuma perusahaan arfha ajah yang butuh haya, tapi arfha juga," ucap arfha dengan gamblang membuat haya melogo kali ini.


"Pelit banget sihh kamu ini,"


"Biarin, haya memang cuma punya arfha," ucap arfha kali ini dengan mengenggam tangan haya lalu menariknya.


"Tuan nyonya ada tamu diluar," tamu diluar ucap salah satu asisten rumah tanggal renata.


"Siapa bi?,"


"Sepertinya gadis yang waktu itu di dibawa nyonya tua, nyonya"


"Hah, gadis itu lagi mau apa dia kesini?,"


"Siapa yang kamu bilang puteri keluarga chandra itu?," tanya alvin pada istrinya.


"Iyah pah,"


Renata pun menemui tamu itu, "siang tante, apa kabar?," sapa rania begitu melihat renata.


"Ahh iyah Alhamdulillah baik,"jawab renata dengan tatapan bertanya-tanya


"Ini tante aku kesini di suruh nenek farida mengantarkan ini untuk arfha, apa arfha nya ada tante?," tanya rania


"ishh gadis ini benar-benar tidak tau malu, pasti itu alasannya saja untuk bertemu arfha, benar-benar serasi sekali dengan nenek tua itu,"kesal renata di dalam hati.


"Oh arfha ada di taman masuklah," ucap renata yang berusaha bersikap ramah walaupun sebenarnya dia tidak suka pada gadis itu.


"Owhh iyah terimakasih tante,"


Begitu sampai di dekat taman rania tertegun melihat arfha.


"Ya tuhan, itu yang namanya arfha, gagah sekali, benar yang dikatakan nenek farida padaku, Arfhatan Gunadhya kamu harus jadi miliku, tapi siapa gadis cantik itu, kenapa arfha sangat dekat dengannya?," pikir rania


"Ayo rania, kenapa kamu terdiam disini?, kemarilah ikut tante ke taman dan berikan sendiri bingkisan itu pada arfha,"


"Ahh iyah tante,"


"Arfha ini ada tamu," panggil renata pada arfha begitu mereka sudah dekat.


Arfha pun berbalik dan menatap rania, rania sampai kikuk di tatap arfha. "Ya tuhan dia memang ganteng bikin aku deg degan ajah,"


"Halo aku rania chandra"


Arfha tidak bergeming, renata pun tahu puteranya itu malas meladeni rania yang menurutnya juga sangat kecentilan.


Untuk mencairkan suasana, renata mengalah akhirnya dia yang mengenalkan "ah rania ini putera ku Arfhatan dan ini suamiku Alvin," ucap renata yang sengaja tidak memperkenalkan haya, karena renata pikir itu bagian arfha, mau memperkenalkan haya sebagai siapa nya.


"Kalau ini?," tanya rania sambil melihat haya.


Baru juga arfha mau bicara haya sudah menyela duluan "Aku Haya, sahabat arfha dari kecil," jawab haya.


"Ohh," ucap rania yang terlihat tidak suka pada haya, karena dia merasa haya sangat cantik dan terlihat dekat dengan arfha dan keluarganya.


Mendengar jawaban haya, Arfha pun keberatan, jadinya dia kesal dan masuk ke dalam rumah meninggalkan semua orang di taman itu.


"Aduhhh maaf yaa rania, sepertinya arfha sedang dalam mood yang jelek, nanti biar tante berikan ini pada arfha,"


"Iyah tante terimakasih kalau begitu rania pergi dulu tante," iyah hati-hati dijalan yahh


Alvin dari tadi hanya diam memperhatikan, benar kata istrinya, gadis ini sangat menyebalkan, "mana mau aku punya menantu seperti ini, nenek benar-benar selalu ikut campur,".


"Haya sayang, tolong kamu lihat arfha di kamarnya yahh, kamu pasti bisa bujuk arfha," ucap alvin dengan sengaja begitu rania baru pergi beberapa langkah agar rania masih mendengarnya.


Haya pun bingung harus menjawab apa, tapi dia juga sebenarnya ingin tahu kenapa arfha seperti marah begitu. "Baiklah uncle, haya ke arfha dulu yaa," jawab haya. "Iyah sayang," ucap alvin lagi.


Mendengar percakapan haya dan alvin, rania pun sangat kesal, "tunggu saja arfha, aku pasti akan membuat kamu suka padaku, dan wanita itu, tentu akan aku tendang, semua yang aku suka pasti aku dapatkan," ucap rania dalam hatinya sambil berjalan pergi dari rumah arfha.

__ADS_1


__ADS_2