
Zulia, orang biasa memanggilnya Zul. Orang mengenal sebagai gadis yang baik, pandai, ceria dan penurut namun sikapnya sangat dingin terhadap lelaki. Zul sekarang duduk di bangku kelas 2 SMK. Kehidupannya tidak begitu mewah dan dia seorang yang pekerja keras. Dia hidup hanya dengan ayahnya karena orang tuanya telah berpisah beberapa tahun yang lalu.
Zul anak tunggal dari ayah dan ibunya namun dia mempunyai satu saudara tiri dari ibunya yang telah menikah lagi. Orang memandang Zul dengan paras yang cantik, tubuhnya yang seksi, rambutnya yang panjang sedikit kecoklatan, bibirnya yang mungil serta terdapat tahi lalat kecil di atas bibirnya yang mempermanis senyumnya jika orang yang melihatnya dengan seksama.
***
Cuaca hari ini sangat sejuk, angin semilir perlahan menyapu halaman sekolah, awan sedikit demi sedikit mulai menghitam tanda langit akan mengguyurkan air yang sedari tadi telah ditampung. Hari ini pukul satu siang sekolah tengah mengadakan lomba pentas seni untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Banyak murid-murid datang untuk menyaksikan penampilan dari teman-temannya karena lomba ini untuk antar kelas atau bisa disebut dengan class meeting. Di tengah keramaian gadis cantik ini terlihat sangat gugup, dahinya berkeringat, telapak tangannya sangat dingin takut akan gagal pada penampilannya nanti di atas panggung.
"Apa kau takut?". Anna sedari tadi memperhatikan gerakan dan juga raut wajah Zul yang terlihat pias. "Jangan takut ini kan hanya pertunjukan antar kelas lagian yang menyaksikan juga anak dari sekolah ini toh?". Ujar Anna menepuk punggung Zul mencoba menenangkan.
Anna adalah sahabat Zulia. Mereke satu kelas, Anna sangat berbeda dengan Zul, dia anak yang baik dan banyak bicara, parasnya juga cantik, dia hidup dengan mewah tapi Anna tidak pernah memilih dalam berteman. Anna dan Zul selalu berbagi dengan kisah kehidupan mereka dari makanan, keluarga, teman sampai hal-hal kecil.
"Hanya sedikit gugup". Zul meralat lalu tersenyum pada sahabatnya itu.
Karena Zul mendapat nomor urut untuk tampil sangat jauh dia pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong karena belum terisi makanan apapun. Antrian begitu panjang Zul sudah sangat jengah untuk menunggu saat gilirannya hendak memesan tiba-tiba. "Mas batagor sama jus sirsak". Serobot pemuda tanpa mau mengantri.
"Hei tuan apa kau tidak lihat antrian begitu panjang mau dikroyok orang-orang ini?". Ketus Zul sambil membalikkan badan pemuda itu.
"Siapa kau berani menegurku?". Pemuda itu mengibaskan bajunya yang disentuh Zul. "Lihat mereka tidak ada yang menegurku?". Menunjuk orang-orang yang ikut serta antri.
"Apa aku harus takut padamu seperti mereka? Memang kau siapa anak konglomerat?". Zul menyeringai dengan pandangan yang tajam.
"Kau tidak tau siapa aku?". Telunjuk pemuda itu menuding wajah Zul.
"Tidak tau dan tidak mau tau". Zul turut menunjuk wajah pemuda itu dengan telunjuknya.
__ADS_1
Mereka berdebat cukup lama. "Mbak jadi pesan apa tidak?". Suara penjual gado-gado tiba-tiba membuyarkan perdebatan mereka. Zul melihat di sekelilingnya melihat orang-orang yang antri tadi sudah mendapat pesanan mereka masing-masing.
"Tidak jadi layani saja tuan sombong ini. Aku tidak sudah tidak selera". Suara Zul kesal sambil menunjuk pemuda yang ada di depannya.
"Kau" Geram pemuda itu mengepalkan tangannya. Zul langsung pergi tidak menghiraukan siapapun yang melihatnya.
"Hey kau jangan harap kau akan lepas dengan mudah, lihat saja nanti aku akan balas semua kata-katamu tadi, dasar cewek kampungan". Zul terus berjalan tanpa menggubrisnya sama sekali.
"Mas jadi pesan gado-gadonya?". Tanya si penjual itu pelan.
"Tidak jadi makan gado-gado". Jawabnya dengan nada tinggi.
"Lalu?". Tanya si penjual lagi.
"Mau makan manusia hidup-hidup". Pemuda itu menatap si penjual dengan tajam sambil menepuk meja di depannya setengah keras.
"Hei mau kemana?". Tanya pemuda itu kepada si penjual lalu mengisyaratkan dengan tangan agar penjual itu mendekat lagi.
Penjual itu berbalik badan lalu mendekat. "Iya mas ada apa lagi?".
"Sini berikan aku gado-gado cepat". Tegasnya.
"Baik mas". Penjual itu segera menuju tempatnya memasak untuk membuat makanan yang dipesannya.
Kok ada ya manusia seperti itu, jabang bayi semoga istriku tidak melahirkan anak seperti dia hiii ngeri. Gumam si penjual sambil bergidik yang kebetulan istrinya sedang mengandung.
Zul berjalan keluar dari kantin dengan wajah kesal dan sangat marah. Memang dia siapa minta dilayani dengan cepat beraninya membuyarkan selera makanku, kenal juga tidak. Apa dia tidak bisa mengantri sebentar. Tapi sekarang aku sangat lapar. Gerutu Zul sambil menghentakkan kakinya bergantian.
__ADS_1
***
"Makanlah". Anna menyodorkan satu kotak roti tawar yang sudah berlapis susu kental pada Zul yang duduk di belakang panggung.
"Terimakasih". Menerima roti dengan wajah yang datar.
"Kenapa sih ditekuk mulu tuh muka?". Menyelidiki di raut wajah Zul.
"Gak apa-apa". Jawab Zul singkat.
"Gak mau cerita nih?". Memandang gadis itu berharap ada jawaban.
"Nantilah ceritanya lagi gak mood". Sambil memasukkan roti sedikit demi sedikit dan mengunyah dengan perlahan.
"Baiklah, cepat habiskan bentar lagi giliranmu tampil".
***
"Hadirin semua kali ini kita akan menyaksikan penampilan yang berbeda dari teman kita. Dia sangat cantik juga sangat berbakat. Kira-kira siapa ya dia penasaran nih? Penasaran? Ya sudah langsung saja beri tepuk tangan yang meriah, kita semua akan menyaksikan tarian balet dari teman kita dari kelas 2 Akuntansi yaitu Zulia..." Pembawa acara memanggil nama Zul dengan sangat lantang serta suara tepuk tangan yang pecah dalam ruangan.
Zul segera naik ke panggung. Sekali lagi suara tepuk tangan bergemuruh saat Zul berada di atas panggung. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata dan mulailah dia menari. Zul menari dengan begitu antusias juga menenangkan hati agar tarian yang dia bawakan bisa mengalir dengan sempurna. Lekuk tubuhnya terlihat indah membuat yang menyaksikan terhipnotis oleh pemandangan yang belum pernah mereka saksikan.
Siapa yang menyangka seorang Zul, gadis sederhana ternyata memiliki bakat yang terpendam dalam dirinya. Di dalam keramaian penonton seorang pemuda yang berdebat dengan Zul beberapa jam yang lalu tengah berdiri turut menyaksikan gadis itu menari.
"Ck. Sial dia sangat seksi". Pemuda itu mengumpat dalam hati. Tak hentinya dia memandang Zul menari sambil geleng-geleng kepala karena dalam hatinya dia tertarik pada paras cantik Zul.
Beberapa menit berlalu Zul telah selesai dengan penampilannya. Setelah dia menundukkan kepalanya pada semua penonton suara tepuk tangan makin bergemuruh. Semua telah kagum akan tarian yang dipersembahkan oleh Zul.
__ADS_1
***