
"Jadi kita sudah selesai dengan jalan-jalan ala dirimu sekarang ikuti aku". Kata Rey memberi perintah.
"Kita mau kemana?".
"Sudah jangan banyak bicara. Sekarang kamu yang bonceng aku capek". Perintah Rey lagi.
"Apa aku? Gak mau". Zul menolak.
"Kalau gitu aku akan meninggalkanmu disini sendirian". Rey mengancam.
"Kau mengancam? Pergilah, aku juga bisa pulang sendiri, kalau kau mau bawa sepeda ini pulang bawalah aku bisa jalan kaki. Setelah ini jangan temui aku lagi". Ucap Zul kesal sambil menghentakkan kaki kanannya.
"Kok jadi kamu yang mengancam?". Rey menggaruk kepalanya meski tau kepalanya sedang tidak gatal. Apa semua wanita serumit ini? Rey membatin. "Baiklah ayo naik". Akhirnya Rey menyerah.
Rey sudah naik di atas sepeda dengan memegang setir. "Ayo cepat naik". Zul tetap diam tidak bergeming dari tempatnya berdiri tetap memasang wajah kesal. Rey menghela nafas frustasi "Baiklah maafkan aku". Kata-kata Rey terdengar menyerah lagi.
Zul memandang Rey sambil cengengesan. Gadis itu langsung naik sepeda di belakang Rey sambil tersenyum penuh kemenangan. Emang enak salah sendiri mau mengancam segala.
Rey mengayuh sepeda menuju rumah Zul terlebih dahulu untuk mengembalikan peralatan piknik juga alat memancingnya. Setelah itu mereka mengendarai motor sport milik Rey dan pergi jalan-jalan ala Rey.
***
"Kita kemari, aku sudah lama tidak pergi ke tempat seperti ini". Kata Zul turun dari motor sambil mengembangkan senyum bahagia.
"Kau suka?".
"Tentu kak Rey". Zul mengangguk tanpa melepas senyuman dari bibirnya.
Rey menggandeng tangan Zul menuju pinggir pantai. Lelaki itu mengajak bermain pasir. Membuat perlombaan mendirikan sebuah istana pasir dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Kalau yang menang bisa meminta sesuatu dari yang kalah. Zul sudah sangat percaya diri kalau dia yang akan menang melihat istananya tinggal beberapa langkah lagi selesai.
"Yaaah". Zul sangat kesal.
"Sudahlah menyerah saja tidak akan ada waktu untuk membuat yang baru". Rey terkekeh melihat separuh istana Zul terhempas oleh ombak.
__ADS_1
"Tidak-tidak masih ada waktu aku akan memperbaikinya". Kata Zul belum menyerah.
"Semoga berhasil". Rey masih terkekeh.
Zul segera memperbaiki pondasi istana yang setengahnya telah roboh. Dan lagi ombak datang menghancurkan istana Zul yang baru saja diperbaiki bahkan hanya tersisa seperempat.
"Waktu habis". Ucap Rey gembira Zul hanya terdiam penuh kedongkolan. "Jadi nona siapa pemenangnya?". Rey terkekeh geli. "Apa aku harus mengumumkan siapa pemenangnya?.
"Apa yang kau minta?". Kata Zul tetap kesal. "Cepat katakan, tapi jangan minta yang aneh-aneh".
"Santai jangan terburu-buru". Rey tersenyum menahan tawa melihat wajah Zul yang semakin kesal. "Eh apa itu yang ada di belakangmu?". Rey menunjuk ke arah belakang Zul.
"Mana? Tidak ada apa-apa". Zul celingukan mencari ada apa di belakangnya. Zul menoleh ke depan Rey lagi tiba-tiba telapak tangan Rey tepat menempel di wajahnya. Rey tertawa keras sambil berlari.
Zul mengusap sedikit pipinya ternyata di wajahnya penuh lumpur. "Kak Rey..." Zul berteriak "... awas kau". Zul berlari mengejar lelaki yang tadi menjahilinya.
Dia sangat menggemaskan saat marah. Rey berhenti sambil membungkuk berusaha mengumpulkan seluruh nafasnya yang tersengal-sengal capek lari dari kejaran Zul.
"Kena kau sekarang". Tiba-tiba gadis itu menarik kerah baju belakang Rey dan menyeretnya ke pantai. "Rasakan pembalasanku".
***
"Apa kau suka sunset?". Tiba-tiba lelaki itu datang mengambil posisi duduk di samping Zul menyodorkan satu buah kelapa muda yang sudah siap untuk diteguk.
"Sangat suka". Zul menerima buah kelapa muda dan tersenyum. "Terimakasih".
"Apa yang kau suka dari sunset?".
"Menenangkan". Zul meminum air kelapa muda menggunakan sedotan yang sudah ditancapkan di tempurungnya.
"Hanya itu?". Rey mengangkat sebelah alisnya.
"Walaupun dia sedikit menyiksa sebagian orang di siang hari tapi percayalah dia pergi selalu membawa keindahan..." Zul terdiam sejenak. "Dan aku juga bisa belajar dari senja untuk merelakan keindahan itu selalu pergi tapi aku percaya keindahan akan tetap ada dan selalu menghampiri seperti senja ini sebentar lagi dia pergi tapi esok dia akan kembali". Kata Zul datar tiba-tiba teringat keluarganya dulu hidup bahagia penuh keindahan. Tapi Zul masih tetap percaya bahwa keindahan itu akan menghampiri hanya menunggu waktu itu datang.
__ADS_1
Rey menarik pergelangan tangan Zul perlahan untuk berdiri. "Kalau aku suka ombak air laut". Kini melepaskan pegangannya dan menatap ombak di depannya.
"Kenapa?".
"Karena mereka kuat, mereka selalu maju tanpa menyerah dan tanpa menoleh ke belakang". Dia melihat Zul sejenak lalu menatap ke depan lagi dan melanjutkan. "Sekali mereka marah semua bisa hancur jangankan nyawa manusia seisi bumi ini bisa hancur tanpa sisa".
"Zul..." Rey memegang kedua tangan Zul dan saling berhadapan. "Aku mencintaimu aku ingin kau jadi milikku".
"Tunggulah sampai aku benar-benar bisa percaya padamu kalau kau benar mencintaiku".
"Sampai kapan?" Tanya Rey dengan sendu.
"Sampai kau bisa membuktikannya".
"Oh ya tadi aku telah mengalahkanmu membuat istana tadi. Jadi apa aku boleh meminta hadiahku sekarang?".
Zul mengangguk.
"Jadilah kekasihku hanya saat ini dan kau bisa mengakhirinya nanti setelah dari sini..." Rey menggenggam erat tangan Zul. "Aku mohon".
"Baiklah". Zul tersenyum kecil.
Rey memegang kedua sisi pinggang Zul juga mengarahkan tangan Zul memeluk tengkuknya. Lelaki itu membimbing Zul berdansa mengandalkan imajinasi masing-masing untuk bisa mendengarkan musik dansa. Mereka berdansa dengan sangat indah kalau mengingat Zul yang pandai menari memang ini bakatnya.
Setelah berdansa dengan tarian cepat dan berputar-putar Zul merasa lelah dan langsung kepalanya ambruk ke dada bidang Rey sambil keduanya menata nafasnya yang memburu.
"Zul..." Rey mengangkat wajah Zul agar memandangnya. "Sekali ini saja hanya dengan aku. aku mohon".
"Tidak kak Rey. Aku tidak pernah melakukannya". Sendu Zul.
"Hanya dengan aku Zul". Sambil memegang kedua sisi wajah Zul. "Hanya aku, hanya aku saja". Rey mengusap lembut telinga dan pipi Zul hingga gadis itu memejamkan mata merasakan sesuatu yang bergetar dalam dadanya. Rey mulai berani mendaratkan bibirnya pada bibir Zul. Sejenak mereka diam tanpa bermain. Mungkin dia belum tau caranya.
Rey mulai membuka bibir Zul dengan lidahnya ******* bibir mungil Zul hingga habis. Memainkan lidahnya dirongga mulut gadis itu. Zul langsung mengerti ia langsung mengikuti cara Rey memainkan lidah. Mereka berciuman dengan mesra di hadapan senja yang tinggal sedikit lagi terbenam.
__ADS_1
***