Cinta Buta

Cinta Buta
Siapa Gadis Itu?


__ADS_3

Plak. Suara telapak tangan beradu dengan pipi putih pemuda yang kini sedang menikmati makanan di kantin sekolah bersama sahabatnya. Rey memandang dengan tajam pada seorang gadis yang berani melayangkan tangan padanya.


"Anna...". Berryl menyeret tangan gadis itu agar mundur selangkah. "Apa-apaan kau ini?".


"Tanya pada dia". Gadis itu penuh dengan amarah sambil menunjuk wajah Rey. "Apa yang sudah dia lakukan".


"Ada apa Rey?". Kini Berryl bertanya pada sahabatnya. Tapi tak ada jawaban dari Rey.


Berryl hanya bisa memasang wajah bingung. Kepalanya dipenuhi pertanyaan. Bagaimana bisa kekasihnya sangat lancang menampar sahabatnya.


"Beraninya kau..." Rey memukul meja di hadapannya sangat keras dibarengi dengan berdirinya dari tempat ia duduk, pemuda itu hendak melayangkan tangannya ke pipi Anna tapi tiba-tiba tangannya berhenti seketika seperti ada seseorang yang menarik dari belakang.


Rey pikir itu sahabatnya yang menarik tangannya, ternyata bukan. Pemuda itu memutar badan empat puluh lima derajat ingin melihat siapa yang berani menghalanginya.


"Zulia?". Rey mengerutkan keningnya.


"Kau tidak berhak menyentuhnya". Kata Zul datar lalu menghempaskan tangan Rey dengan memasang pandangan tajam.


"Tapi dia yang menamparku dulu". Rey menunjuk ke arah Anna. Wajahnya terlihat jelas sedang memasang amarah.


"Benarkah? Terdengar sangat bagus". Zul tersenyum menyeringai. "Ayo Anna kita pergi dari sini".


"Tunggu...". Rey menarik tangan Zul yang hendak pergi. "Kenapa kau ini?".


"Lepas". Zul menarik kembali tangannya dari genggaman Rey dan menegaskan. "Mulai hari ini jangan pernah menemuiku lagi, kalau bisa anggap saja kita tidak pernah bertemu".


Zul dan Anna lantas pergi meninggalkan dua pemuda itu. Di sekitarnya banyak murid yang menyaksikan mereka dan bergumam sendiri menimbulkan banyak pertanyaan di benak mereka. Berani sekali dia menampar. Dia belum tau siapa Rey. Bisa habis mereka kalau Rey sudah membalas.


Begitu juga dengan Rey, kepala Rey dipenuhi banyak pertanyaan. Ada apa? Apa yang telah aku lakukan?.


"Apa kau melakukan kesalahan?". Berryl memulai percakapan saat keduanya terdiam selama lima menit. Kini mereka sudah kembali duduk di bangku kantin dengan bersisian.


"Aku rasa aku tidak melakukan apapun. Apa dia sudah tau soal taruhan ini?". Rey mengelus pipinya yang beberapa menit lalu telah menerima tamparan begitu kerasnya. "Ck. Sial sakit sekali".


"Siapa yang memberitahu soal ini padanya?". Berryl menyatukan alis tebalnya. "Tidak ada yang tau soal ini".


"Benarkah?". Rey memandang sahabatnya dengan pandangan menyelidiki.


"Kau menuduhku. Kalau aku akan membocorkan ini pada Anna". Berryl menukas, karena ia sudah bisa menebak jalan pikiran Rey.

__ADS_1


"Ternyata kau lebih pintar kalau membaca pikiran". Rey tersenyum namun senyum itu terlihat sangat licik.


"Aku tidak seceroboh itu. Aku rasa ada hal lain". Berryl memalingkan wajahnya. "Aku akan mencari tau".


***


"Seharusnya kau tidak perlu menamparnya". Kata Zul lirih sambil menggenggam tangan sahabatnya.


"Aku tidak tahan Zul. Dia sudah menyakitimu". Anna menegaskan kalimat akhirnya seolah memperingati jangan mendekatinya lagi.


"Aku mengerti". Zul mengangguk. "Terimakasih". Tambahnya dengan nada tulus.


"Anna...". Berryl memanggil kekasihnya dengan jarak lima meter saja dari tempat dua gadis itu duduk di bangku taman sekolah.


"Berryl?". Mereka berdua menoleh pada sumber suara secara bersamaan.


Pemuda itu mendekat. "Hai Zul". Sapanya sedikit basa-basi. Zul hanya mengangguk dan tersenyum.


"Boleh aku bergabung?". Berryl berkata dengan sedikit sungkan karena kejadian tadi di kantin padahal dia tau bukan dia yang bermasalah pada mereka.


"Katakan apa yang ingin kau tau soal tadi?". Anna langsung bertanya pada intinya karena ia tipe gadis yang tidak suka dengan orang yang bertele-tele.


Zul diam pikirannya kembali mengingat di kala Rey sedang berciuman dengan gadis lain. Zul memejamkan matanya merasakan hatinya yang seolah teriris. Tak terasa air matanya mengalir pelan.


"Kau tidak apa-apa?". Anna menyentuh pundak sahabatnya. Pandangannya kini menatap kekasihnya dengan tajam. "Kenapa kau tidak menanyakan pada temanmu saja?".


"Kenapa aku juga kau marahi? Apa aku juga melakukan kesalahan?". Berryl menimpali pertanyaan balik dengan kesal tanpa menjawab pertanyaan Anna.


Anna diam sejenak lalu menghembuskan napasnya panjang. "Biar aku saja yang menjawab".


"Tidak Anna, aku tidak apa-apa". Zul memandang Anna dengan sendu. Lalu berganti memandang Berryl yang kini duduk berjongkok di hadapannya. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok gadis sedang berdiri mengobrol di koridor sekolah dengan temannya. "Kau tau siapa dia?". Zul menunjuk ke arah gadis itu.


Berryl menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Zul. "Sanju?".


"Itukah namanya?". Zul bertanya lirih.


"Iya dia satu kelas denganku". Berryl menjelaskan.


"Dengan kak Rey juga?". Zul bertanya sangat tenang namun tergambar jelas di wajahnya yang penasaran.

__ADS_1


"Iya". Berryl mengiyakan tanpa ragu. "Memang ada apa dengannya?".


"Apa dia punya hubungan dengan kak Rey?". Pertanyaan Zul kini membuat Berryl terdiam dan ragu untuk menjawabnya.


"Hanya masa lalu Rey". Kata Berryl hati-hati takut Zul kecewa dengan jawabannya. "Kenapa?".


"Masa lalu? Tapi baru tadi pagi aku melihatnya berciuman dengan gadis itu". Kata-kata Zul terdengar parau seperti menahan tangisan.


"Sungguh?". Berryl sedikit terkejut, bertanya untuk memastikan.


"Ya dan itu kenapa aku langsung menamparnya. Dia sudah menyakiti hati Zul". Anna yang menjawab pertanyaan kekasihnya dengan sangat kesal.


"Tapi dia sudah lama tidak dengan Rey". Berryl menjelaskan. Ia beralih duduk di samping Zul dan kini Zul berada di antara Anna dan Berryl. "Tapi yang aku tau dia tidak ingin Rey memutuskan hubungan dengannya. Karena itu dia selalu mengejar Rey". Tambahnya.


Tapi tadi kak Rey yang menghampiri. Batin Zul.


"Kau melihatnya di mana Zul?" Berryl sangat ingin tau tentang masalah ini alih-alih membantu sahabatnya.


"Belakang sekolah". Anna menyerobot untuk menjawab. "Memang keduanya sama-sama genit ya terjadilah ciuman. Itu mah sudah biasa. Gombalan Rey saja. Kau juga gitu kan bisanya cuma ngegombal? Ya iya lah kan kalian sehati sejiwa jelas kelakuan kalian sama, genit sama gadis-gadis di luar sana". Anna mengoceh tanpa jeda.


"Kau ini kenapa? Kenapa aku yang kena batunya? Aku kan tidak tau apa-apa". Berryl bertanya pada kekasihnya dengan sangat kesal seolah dia yang melakukan kesalahan. "Aku gigit bibirmu itu baru tau rasa. Biar tidak mengoceh kemana-mana".


"Apaan sih? Gak jelas deh. Dasar otak mesum". Kini suaranya sedikit menurun. Kata-kata Berryl berhasil membuat pipi Anna dipenuhi semburat merah.


"Biar aja mesum. Kau dimesumin juga mau".


"Sembarangan ya. Aku juga gak mau kali berbuat mesum". Anna berceloteh lagi.


"Benarkah?". Kini Berryl berdiri di hadapan Anna.


"Kenapa?". Anna menatapnya kejam.


Berryl mencium bibir Anna tepat di hadapan Zul. Menarik bibir bawah Anna dengan giginya dan menggigit.


"Aw Sakit". Pekik Anna. "Kau ini tidak waras, ini sekolah kalau ada yang lihat gimana? Bisa jadi kasus ini". Anna mengomel.


"Biar tau rasa". Berryl memungkas.


Zul menahan tawa melihat sepasang kekasih itu berdebat.

__ADS_1


***


__ADS_2