
"Ayo kita berangkat". Ucap Zul setelah selesai menyantap nasi goreng masakan ayahnya sebagai menu pagi ini. Gadis ini mengenakan kaos kuning polos dengan setelan celana jeans hitam dan bando pita kuning yang melingkar di kepala yang rambutnya terurai juga tidak lupa membawa tas kecil di belakang punggungnya.
"Bentar ini belum habis". Rey menanggapi sambil mengunyah nasi goreng.
"Lama sekali, sini aku suapi". Zul meraih piring di hadapan laki-laki yang sedang menikmati makanan itu. Zul menyuapi Rey dengan cepat hingga mulut Rey penuh kewalahan menelan makanan tersebut. Zul tertawa terpingkal melihat wajah Rey yang lucu dan menggemaskan saat mulutnya penuh dengan makanan. Rey menelan dengan perlahan lalu segera menyambar air putih dalam gelas yang ada di hadapannya.
"Apa kau sengaja mau membunuhku?". Celetuk Rey jengkel.
"Baiklah maaf". Kata-kata Zul masih ada tawa yang tersisa. "Ayo berangkat".
Mereka berdua beranjak dari tempat duduk lalu keluar rumah. Zul membawa bekal makanan yang ditaruh dalam box juga tikar kecil cukup untuk piknik dua orang saja. Kini mereka jalan dengan menggunakan sepeda.
"Apa kita mau pergi dari rumah?". Tanya Rey heran melihat barang yang dibawa Zul.
"Jangan banyak bicara ikuti saja, nih taruh dalam keranjang sepeda". Zul menyodorkan bekalnya. "Tunggu sebentar disini aku mau ambil sesuatu". Zul pergi mengambil barang yang ketinggalan di dalam rumah.
"Pancing? Kita mau memancing?". Tanya Rey semakin heran saat Zul keluar dengan membawa pancing.
"Iya dong".
"Tapi memancing itu kan sangat membosankan Zul". Rey merasa jengah.
"Mau pergi gak? Gak mau ya sudah aku masuk saja". Zul sedikit mengancam.
__ADS_1
"Iya ayo kita berangkat". Pungkas Rey pasrah karena tidak mau acara kencannya gagal. Rey mengayuh sepeda dengan sangat bersemangat walaupun letih karena memang berat badan Zul berat, hatinya sangat bahagia karena hanya ada dia dan Zul saja sekarang tidak ada yang lain. Zul duduk di belakang Rey yang sedang menyetir sepeda sambil membawa tikar di tangan sebelah kanan dan juga alat memancingnya di tangan sebelah kiri.
"Kita sudah sampai...". Ucap Zul gembira saat tiba di sebuah danau yang cukup luas. Sepeda yang mereka naiki kini diparkir di bawah pohon pulm yang lumayan tinggi. Danau tersebut dikelilingi banyak pohon pulm dan batu-batu hitam yang tertata, memang tempat ini dirawat oleh penduduk setempat agar orang yang mengunjungi merasakan kenyamanan. Pohon-pohon pulm sengaja ditanam untuk orang-orang yang ingin berteduh dari panasnya matahari. Zul berjalan diikuti Rey dari belakang yang setengah berlari.
"Hey kita mau kemana? Apa kita akan memancing di danau ini? Sepertinya danau ini bukan tempat pemancingan". Pertanyaan Rey beruntun masih dengan berjalan berusaha menyeimbangi langkah Zul.
"Danau ini tidak ada ikannya karena disini memang danau terawat khusus kunjungan orang". Ucap Zul santai masih tetap berjalan menyusuri rerumputan yang tingginya selutut.
"Lalu kenapa kita harus membawa pancing?". Rey semakin heran.
"Ya untuk memancing". Zul menjawab dengan santai. "Sudahlah jangan banyak bicara nanti juga tau". Zul melirik Rey yang kini sudah berjalan di sampingnya. Rey hanya terdiam penuh keheranan. Mereka telah berjalan kurang lebih satu kilo, kini mereka berada di sebuah parit kecil berlumpur hitam yang sedikit kalis. Zul mengambil sebuah kayu kecil.
"Nih". Gadis itu menyodorkan kayu kecil tersebut pada Rey. "Cari cacing di dalam lumpur itu".
"Kalau gak mau pulang sana". Ancam Zul.
Rey membuang nafas kesal dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kasar. Rey mengambil kayu dari tangan Zul dan mulai mengorek-ngorek lumpur. Zul tersenyum penuh kemenangan. Kapan lagi bisa ngerjain orang kaya hehe.
Untung cantik, kalau tidak sudah aku lempar lumpur-lumpur ini ke wajahnya. Rey menggerutu kesal dalam hatinya. Rey merasa mual dengan bau lumpur itu yang semakin menyengat tapi dia menahannya. Kini cacing sudah terkumpul lumayan banyak lalu mereka berjalan menuju sungai yang jaraknya hanya beberapa meter dari parit. Sungai ini arusnya sedikit kencang, semak-semak belukar mengelilingi, dan ada satu batu besar untuk Zul dan Rey duduk sambil menunggu yang tidak pasti yaitu memancing.
"Kenapa kita tidak piknik ke tepi danau itu saja bukankah kau tadi membawa bekal makanan?". Suara Rey masih terdengar kesal.
"Itu rencana kedua". Ucap Zul santai.
__ADS_1
"Terserah". Kata Rey pasrah. Zul hanya tersenyum dengan samar.
***
Asap memenuhi permukaan wajah kedua orang itu dengan terus mengipas menggunakan tutup box makanan agar apinya tidak menyala.
"Ini akan jadi santapan yang ternikmat". Ucap Zul sudah tidak sabar untuk menyantap ikan bakar hasil dari memancing.
"Siapa dulu dong yang mendapatkannya?". Rey melirik sambil pamer dengan menepuk dadanya.
"Iya-iya kamu memang hebat". Puji Zul terpaksa. Zul mundur lalu duduk bersandar di bawah pohon pulm yang mereka gunakan untuk parkir sepeda sedangkan Rey masih terus mengipas ikannya sampai benar-benar matang. Di bawah pohon pulm sudah tertata rapi makanan serta minuman yang berada di atas tikar yang Zul bawa dari rumah.
"Ikan bakarnya sudah siap, ayo kita santap...". Ucap Rey sambil membawa ikan bakar di atas piring. Zul sangat antusias memakan ikan bakar itu saking tak sabarnya Zul langsung meraih ikan tersebut dari tangan Rey. Rey hanya tersenyum. Zul makan dengan lahap nasi berkombinasi sambal super pedas telah membaluri ikan bakar tersebut.
"Pelan-pelan makannya Zul". Kata Rey mengingatkan. "Tadi sebelum kesini kau kan sudah makan, apa kau tidak kenyang?".
"Kalau melihat ikan ini aku jadi belum kenyang sama sekali". Ujar Zul dengan mulut dipenuhi oleh makanan. Rey hanya menggelengkan kepala. "Makanlah kau pasti lapar lagi karena mengayuh sepeda jelas sangat melelahkan". Rey juga mulai makan.
Zul sangat suka pergi piknik ke tempat ini, karena danau ini kenangannya bersama ayah dan ibunya ketika mereka belum terpisah. Ayahnya sering memancing ikan di sungai lalu membakarnya di tepi danau sebagai piknik bersama dengan keluarganya. Seakan senyuman dari kedua orang tua Zul saat bersama masih melekat dalam ingatannya tanpa terasa mata Zul berkaca-kaca. Kini sudah lain cerita, cerita indah tentang keluarganya sudah berakhir hanya tinggal kenangan, dan Zul menyadari seseorang yang sedang tersenyum bahagia ada di hadapannya kini adalah Rey bukan kedua orangtuanya.
"Zul kamu kenapa?". Kata Rey menyadarkan Zul dari lamunannya. Zul hanya menggelengkan kepalanya tidak ingin bercerita tentang keluarganya.
"Ayo makan cepat habiskan". Pungkas Zul agar Rey tidak terlalu jauh menanyakan tentangnya yang tiba-tiba ingin menangis.
__ADS_1
***