Cinta Buta

Cinta Buta
Malam Panjang (2)


__ADS_3

"Kau tidak mengantuk? Mau aku yang menidurkan?". Rey menawarkan dengan terkekeh. Kepala Zul disandarkan di pundak pemuda itu punggungnya tetap bersandar pada tempat tidur.


"Aku tidak mengantuk. Kalau kak Rey yang menidurkan bisa-bisa malah tidak bisa tidur". Wajah Zul berubah masam.


"Kenapa?". Senyum Rey makin mengembang antusias untuk menggoda Zul.


Masih tanya lagi. Zul tidak menjawab, ia menyembunyikan rasa malu yang merambat di wajah dengan mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau berharap aku menciummu lagi biar tidak bisa tidur?". Pemuda itu malah makin terkekeh melihat Zul yang begitu malu.


"Apa sih kak Rey? Siapa juga yang berharap?". Zul menepuk bahu Rey memasang wajah kesal.


"Yakin tidak ingin aku cium lagi?". Kini mata Rey memandang lekat ke bola mata Zul yang hitam. Nada suaranya sudah berubah serius.


Zul hanya diam tidak bisa menjawab apapun. Degup jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mendadak mati gaya jika mata Rey sudah menatapnya lekat.


Perlahan Rey membelai rambut gadis itu lembut, meletakkan telapak tangan kanannya di pipi kiri Zul. Mendekatkan wajah perlahan, seperti magnet yang menarik.


Jantung Zul semakin tak karuan detakannya, ingin sekali keluar dari dalam dada. Zul tanpa sadar memejamkan mata seperti sudah siap ia akan menerima apa.


Hanya tinggal beberapa senti saja bibir mereka akan bertemu. Namun Rey berhenti malah memandang wajah Zul dan tersenyum. Kau cantik sekali.


"Katanya tadi tidak ingin ku cium kok malah bersiap-siap?". Kata Rey diiringi dengan tawa. Zul membuka matanya. Gadis itu berusaha menahan malu hingga akar di pipinya terlihat merah di balik kulit susunya. "Kalau kau sedang tersipu seperti itu kau terlihat makin cantik". Tidak bisa dibayangkan lagi urat malunya gadis itu sudah menjalar kemana-mana.


Zul hanya diam dan menunduk tidak ingin menatap wajah Rey yang sedang puas telah menggodanya. Ih kenapa juga tadi aku bisa terjebak, kan malu jadinya.


"Zulia". Rey mengangkat dagu Zul agar menatap wajahnya yang tersenyum. "Tidak perlu malu, aku akan menghilangkan rasa malumu itu".


Tanpa sempat menjawab Rey mencium bibir Zul lembut, ********** penuh perasaan tulus. Reflek kedua tangan Zul memeluk tengkuk Rey. Pemuda itu memegang kedua sisi pinggang Zul yang ramping.


Rey menuntun untuk berbaring di tempat tidur tapi aktivitas mereka tetap berjalan. Kini mereka saling memeluk dengan tiduran miring saling berhadapan. Bibir mereka tetap saling memagut, lidah mereka saling bermain dengan nafas yang memburu.


"Hentikan". Rey tiba-tiba melepaskan bibirnya. Ia tidak ingin bertindak lebih jauh. Darahnya tadi sudah berdesir kemana-mana bahkan sudah memuncak di kepala.


"Kenapa?". Dengan polosnya Zul bertanya

__ADS_1


"Aku laki-laki normal Zul". Rey ingin menjelaskan tapi ia rasa kata-kata itu sudah mewakilinya.


"Normal? Iya aku tau kak Rey normal. Tidak ada yang bilang kalau kak Rey gila". Wajah Zul masih dengan polosnya.


Polos sekali gadis ini. Rey mendengus ia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan. "Sudah jangan dipikirkan". Rey mengecup bibir Zul menarik ke dalam pelukannya. "Tidurlah".


Zul hanya mengangguk. Lagi-lagi kau mudah untuk memaafkan dia. Bahkan Zul sendiri bingung mengapa ia sangat mudah menerima permintaan maaf Rey. Padahal semua orang tau kalau ia gadis yang dingin terhadap lelaki.


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Zul dan Rey baru terlelap dalam mimpi. Entah apa yang akan terjadi besok.


***


Fajar sudah terik di depan jendela kamar Zul tapi tidak masuk ke dalam karena tirainya yang masih tertutup. Namun tetap saja sinarnya menghangatkan seluruh ruangan hingga membuat kedua orang di dalamnya semakin nyenyak tidurnya. Zul dan Rey masih terlelap dan masih dengan posisi tidur yang sama saling berpelukan.


Tok tok tok tok! Suara ketukan pintu. Kelihatannya ayah sudah memanggil.


"Zul, bangun ini sudah siang apa kau tidak ke sekolah?". Ayah berteriak di luar kamar tidak menghentikan ketukan pintunya. "Zul, kau tidak apa-apa kan di dalam?". Suara ayah berubah khawatir.


Zul meregangkan otot-ototnya. Ia mendengar ketukan pintu semakin keras. Gadis itu baru sadar kalau masih ada Rey di sampingnya. "Aduh, kak Rey bangun, ayo bangun". Zul mengguncang bahu Rey dengan keras.


"Zul, kamu tidak apa-apa kan di dalam? Ayah dobrak ya?". Suara ayah dari luar semakin khawatir sambil masih terus memutar gagang pintu berkali-kali.


"Zul kamu bicara dengan siapa?". Ayah masih menunggu putrinya keluar dari kamar.


"Tidak yah". Zul dan Rey sangat cemas. "Sudah cepat pergi dari sini". Rey berdiri memandang Zul sebentar lalu meninggalkan kecupan pagi hari di bibir ranum gadis itu. Setelah itu ia lompat keluar dari kamar Zul melalui jendela yang ia gunakan untuk masuk semalam.


Dalam sekejap Zul berada di dalan kamar sendiri. Lalu ia ingat masih ada ayahnya di luar kamar. Ia segera membuka pintu kamar.


"Ayah, sudah mau berangkat kerja?". Zul pura-pura menguap, pura-pura masih mengantuk padahal rasa kantuknya sudah hilang karena cemas tadi.


"Anak gadis jam segini baru bangun". Ayah bersungut-sungut.


"Masih pagi yah". Zul malah cengengesan menunjukkan giginya yang putih.


"Lihat sudah pukul berapa sekarang?". Ayah menunjuk jam dinding yang ada di kamar Zul.

__ADS_1


"Hah jam setengah tujuh". Zul membelalakkan matanya terkejut. "Aduh bisa telat aku ke sekolah. Ayah sih kenapa gak bangunin aku dari tadi".


"Dari tadi ayah sudah bangunin kamu, susah banget. Gak bangun-bangun". Ayah menggelengkan kepalanya. "Ya sudah ayah berangkat kerja dulu".


Tanpa menjawab ayahnya Zul langsung bergegas mengambil handuk menuju kamar mandi. Bahkan ia lupa untuk bersalaman dan mencium tangan ayahnya.


Secepat kilat Zul membersihkan diri di dalam kamar mandi, tidak sampai lima belas menit ia keluar. Zul dengan cepat memakai seragam sekolahnya, memakai sepatu.


Aduh lupa bukunya belum aku masukkan ke tas semalam. Biasanya Zul menyiapkan buku yang akan dibawa ke sekolah pada malam harinya. Tapi semalam ia benar-benar tidak ingat apa-apa.


Setelah memasukkan buku, Zul segera keluar bersama sepedanya. Bisa-bisa tidak diizinkan masuk nih. Zul mengayuh sepedanya dengan sangat cepat. Lapar lagi. Ia ingat kalau tidak sempat makan apapun bahkan sekedar minum air putih.


Zul sampai di depan gerbang sekolah. Tapi gerbang sudah ditutup dan digembok dari dalam. Zul mendengus. T**uh kan tidak bisa masuk.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para readers berkenan melakukannya.


Love you All***.


__ADS_2