
Matahari sedari tadi sudah bangun dari peraduannya, sinarnya terpancar telah menghapus titik air embun di dedaunan dan telah menembus jendela kamar setiap rumah yang memang jendela dan matahari saling berhadapan saat pagi. Sinarnya menghangatkan tubuh dari udara dingin hingga Zul masih terlelap dalam selimut tidak ingin membuka mata karena memang ini hari libur.
"Zul bangun nak ini sudah siang". Suara lelaki paruh baya dari balik pintu yang terkunci. Masih sunyi tidak ada jawaban dari dalam. "Zul ayo bangun ini sudah siang". Tetap sunyi. "Zul...".
Zul menguap berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya. "Iya ayah ini sudah bangun".
"Ada yang mau bertemu denganmu dia menunggumu dari tadi". Ucap ayahnya masih sabar menunggu putrinya keluar.
"Iya-iya". Jawab Zul masih malas untuk beranjak dari tempat tidur. Siapa si ganggu orang saja?. Zul membuka pintu kamar. "Selamat pagi ayah".
"Selamat pagi". Ayah Zul menyapa balik anaknya yang baru keluar dari kamar.
"Ayah tidak pergi kerja?". Suara Zul terdengar parau dengan mata masih mengantuk.
"Ini baru mau berangkat, oh ya ada yang nungguin di luar katanya teman sekolah kamu".
"Siapa yah Anna?". Jawab Zul sesekali masih menguap sambil menyandarkan kepalanya di sisi pintu.
"Tidak, dia laki-laki". Seketika mata Zul terbelalak terkejut kemudian ayah berpamitan. "Ya sudah ayah pergi dulu".
"Iya hati-hati". Zul mencium tangan ayahnya.
Ayah Zul beranjak keluar rumah diikuti Zul dari belakang. "Mari nak saya berangkat kerja dulu". Pamitnya pada lelaki yang duduk di kursi depan rumah.
"Iya om hati-hati". Jawab laki-laki itu sambil mencium tangan ayahnya Zul.
Setelah ayah Zul sudah tidak terlihat Zul sedikit canggung untuk menyapa. "Silahkan masuk".
"Tidak terimakasih". Ucapnya tulus. "Zul". Rey memulai dengan hati-hati.
"Iya ada apa pagi-pagi sudah kemari?". Zul duduk di kursi sebelah Rey yang hanya dibatasi dengan satu meja saja.
"Aku cuma mau minta maaf soal kemarin yang sudah lancang mencium kamu". Ujar pemuda itu langsung pada intinya dengan hati-hati.
"Oh soal itu, lupakan saja anggap saja itu tidak terjadi". Pandangan Zul menerawang jauh ke depan tanpa menoleh ke arah Rey.
"Kamu masih marah Zul?". Rey memegang pergelangan tangan Zul yang terletak di atas meja.
__ADS_1
Zul hanya tersenyum getir. Entah, apa aku harus marah atau tidak aku tidak tau. Aku kecewa tapi hatiku mengatakan tidak. Rasa apa ini sungguh aku tidak mengerti.
"Zul". Panggilan Rey sekali lagi.
"Tidak aku tidak marah, hanya saja aku sedikit kecewa karena aku tidak pernah disentuh siapapun". Kali ini Zul menoleh menatap Rey sambil berkata lirih.
Rey hanya mampu menelan ludahnya. Aku jadi malu sendiri dengan perbuatan ku. Batin Rey.
"Entah pikiranku kemarin sangat kotor dan menginginkanmu". Ucap Rey jujur. "Tapi tenanglah aku tidak akan mengulanginya, aku akan menunggumu membalas perasaan cintaku".
"Apa kau benar mencintaiku?". Tanya Zul memastikan semua keraguan yang ada di hatinya.
"Iya Zul". Rey hanya mengangguk.
"Buktikan". Singkat Zul.
"Akan aku lakukan untukmu". Rey kini menggenggam kedua tangan Zul. Kini senyuman Rey tampak lega karena adanya lampu hijau dari Zul akan membalas perasaan cintanya. "Jadi kau memaafkan ku?". Tanya Rey untuk memastikan.
"Tentu". Zul tersenyum samar.
Zul tersenyum sambil menunduk. "Sekarang aku ingin mandi kau mau pulang atau mau masuk dan duduk di ruang tamu?"
"Oh aku di sini saja, masuklah bersihkan tubuhmu lalu kita akan pergi jalan-jalan". Ucap Rey dengan sangat antusias.
"Kemana? Kayanya aku hanya ingin tiduran saja di rumah". Zul menolak dengan halus.
"Ayolah ini kan hari Minggu aku ingin seharian bersama mu". Rengek Rey.
Zul berpikir sejenak. "Baiklah". Rey tersenyum senang. "Tapi aku ingin kencan ini ala aku maksudku versi aku bukan-bukan yang ku maksud adalah dengan caraku". Ralat Zul berulang kali.
"Aku juga ingin mengajakmu versi aku maksudku dengan caraku". Rey menirukan kata-kata Zul.
"Cara orang kaya itu membosankan. Cuma nonton, ke mall, ke restoran itu-itu saja". Kata Zul menggerutu.
"Itu tidak benar, caraku sangat menyenangkan". Rey membela diri.
"Lebih menyenangkan dengan caraku, aku akan mengajakmu jalan-jalan versi rakyat kecil maksudku ala rakyat jelata". Gadis ini tetap bersikeras untuk mengikuti caranya.
__ADS_1
"Kau hari ini tidak bisa menolak ku, kalau kau menolak aku tidak akan pergi dari sini sampai kau benar-benar mau mengikuti ku". Rey sedikit kesal. Zul hanya tertawa sambil tertunduk.
"Kenapa? Ada yang lucu?". Tanya Rey tambah kesal karena merasa ditertawakan.
"Dasar keras kepala sekali kamu". Ucap Zul masih dengan sisa tawanya kemudian mereka berdua tertawa. "Baiklah aku punya ide setengah hari caraku dan sisanya caramu". Usul Zul.
Rey berpikir sejenak. "Bolehlah, sudah sana mandi dulu". Rey menyeret tangan Zul agar berdiri dari tempat duduknya.
"Iya-iya lalu setelah ini kita sarapan dulu di rumah".
"Tidak di luar saja". Rey menolak.
"Harus mau karena kau harus mencoba masakan ayahku". Zul sedikit memaksa.
"Ayahmu yang memasak?". Tanya Rey sedikit terkejut.
"Iya karena memang ayahku jago memasak". Gadis itu terlihat memamerkan kemampuan ayahnya dalam memasak.
"Apa tidak ada pembantu?". Tanya Rey heran.
Zul tersenyum lebar. "Kami tidak perlu pembantu karena kami sudah mandiri sejak dulu". Alih-alih menutupi tentang perekonomian keluarganya yang tidak begitu besar.
"Ayahku tidak pernah memasak untukku". Rey berkata datar.
"Kalau begitu ajaklah masak bersama". Kata Zul. Rey tersenyum getir. "Jadi kita akan tetap berdiri disini atau masuk?". Zul terkekeh geli.
"Sudah mandi sana dasar bau". Ucap Rey menyinggung Zul.
"Eh enak saja walaupun aku belum mandi nih aku masih tetap wangi dan cantik". Protes Zul tidak terima dengan ejekan Rey.
"Iya cantik, sudah sana mandi". Rey mendorong Zul ke dalam rumah.
"Aku bisa jalan sendiri gak usah dorong-dorong". Zul kesal. "Duduk disini saja jangan kemana-mana tunggu aku sampai selesai". Zul memerintahkan Rey dengan menyilangkan kedua tangannya di bawah dada.
"Iya bawel". Rey langsung ambil posisi duduk. Zul tertawa sambil berlalu pergi dari hadapan Rey. Rey hanya memandangi Zul dari belakang. Seperti ada rasa menggebu dalam hatinya, rasa ingin segera mendapatkan gadis yang kini telah hadir dalam hidupnya entah itu rasa cinta yang sesungguhnya atau hanya obsesi saja. Karena tujuan awal sebenarnya Rey hanya ingin memenangkan taruhan bersama sahabatnya yakni Berryl.
***
__ADS_1