
Pagi terlihat begitu cerah secerah hati mereka yang sedang kasmaran. Memori ciuman pada saat senja di pantai yang didaratkan Rey pada Zul telah bersemayam di hati gadis itu hingga sulit untuk disingkirkan. Zul berkali-kali bercermin sambil memegang bibirnya berulang kali.
"Apa yang kau lakukan? Kau salah. Sudah cukup satu kali ini saja. Kau sudah berani rupanya". Ucap Zul pada dirinya sendiri sambil menatap cermin. Zul mengoleskan l**ips glossy pada bibirnya mungkin akan terlihat lebih menawan begitu pikirnya.
Gagang pintu terbuka terlihat seorang gadis sudah memakai seragam sekolah masuk ke dalam kamar tanpa permisi. "Zul".
"Anna...". Sapa Zul dengan tersenyum sumringah. "Pagi banget kamu ke sini".
"Iya mumpung bisa bangun pagi". Anna cengengesan. "Oh li**ps glossy ya?". Anna sedikit terkejut melihat bibir sahabatnya berbeda karena memang Zul tidak pernah merias diri. "Tumben, apa ada sesuatu?".
"Tidak ada". Zul berbicara sambil menunduk lalu berbalik memunggungi sahabatnya.
"Zul..." Anna membalikkan tubuh Zulia. "Ada apa? Aku sudah cukup mengenalmu. Jadi jangan coba-coba menyembunyikan apapun dariku". Zul tetap diam lalu Anna menggelitik tubuh Zul agar sahabatnya itu segera mengaku. Zul kegelian karena perbuatan Anna hingga tertawa terpingkal tanpa suara. "Ngaku tidak, ngaku tidak".
"Iya stop-stop aku akan beritahu". Anna menghentikan perbuatannya. Zul mengatur nafas karena lelah tertawa. Mereka lalu duduk di tepi ranjang bersisian.
"Begini, aku kemarin...". Kata-kata Zul menggantung karena menurutnya ini adalah hal privasi jadi Zul sedikit canggung untuk menjelaskan.
"Kemarin apa?". Ucap Anna sudah tak sabar mendengarnya.
"Kemarin... Aku... Jadian sama kak Rey". Ucap Zul hati-hati.
"Kau jadian? Benarkah?" Anna sangat terkejut. "Oh selamat ya Zul". Kata Anna girang.
"Tapi kami sudah putus". Kata Zul datar.
"Putus? Maksudnya?" Anna membulatkan matanya. "Tunggu-tunggu jelaskan dengan benar".
"Kami hanya jadian beberapa menit saja tidak memakan waktu berjam-jam".
__ADS_1
"Kok bisa?" Anna semakin tak mengerti.
"Kemarin aku pergi kencan dengannya". Zul menatap sahabatnya. "Lalu dia mengutarakan cinta sekali lagi".
"Lalu?". Anna ingin tau lebih lanjut. "Jangan bilang kau mengajukan syarat untuk jadi kekasihnya hanya sementara". Anna menebak apa yang akan dikatakan Zul.
"Itu memang benar". Zul tersenyum samar. "Aku masih ingin melihat dia berjuang untukku. Tapi dia ingin sekali menjadi kekasihku walaupun hanya sebentar". Zul berdiri memunggungi sahabatnya. "Lalu kami berciuman".
"Kalian jadian hanya untuk berciuman?". Anna jadi semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Zul. "Jadi lips glossy ini hanya untuk tanda kalau kau sudah pernah ciuman?". Ucap Anna menggoda sahabatnya.
"Apa sih tidak seperti itu". Pipi Zul terlihat merah. "Entah, aku tidak bisa menolaknya. Kau tau Anna sentuhannya begitu lembut. Kalau di dekatnya aku jadi lupa siapa diriku yang sebenarnya". Ucap Zul lirih.
"Kalau kau merasa begitu kenapa tidak menerimanya langsung maksudku menerimanya tanpa syarat". Anna sambil berdiri menghadap Zul. "Ini malah akan menyiksa hatimu juga dia".
"Aku tidak bisa". Ucap Zul sendu.
"Kenapa?".
"Belum yakin? Kau sudah menerima ciuman tapi kau masih bilang belum yakin? Terus mau keyakinan yang seperti apa? Bukankah kau juga mencintainya?". Anna turut geram karena sahabatnya ini sungguh rumit.
"Aku belum yakin dia bisa jadi yang aku harapkan, sedangkan kami sangat berbeda dari segala hal bagai air dan minyak tidak akan bisa menyatu". Tegas Zul.
"Kau tidak perlu takut akan perbedaan, hubungan jika didasari dengan cinta percayalah perbedaan akan menjadi persamaan dalam diri mereka yang menjalani". Jelas Anna.
"Benarkah?". Zul masih butuh keyakinan. Anna hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudiannya mereka berdua berangkat ke sekolah.
***
Zul sedang duduk di bangku taman sekolah sambil membaca buku ditemani dengan minuman dingin juga makanan ringan karena dia tidak bisa fokus membaca kalau di sisinya tidak ada makanan. Zul mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman memberi waktu istirahat untuk matanya yang sedikit lelah. Tiba-tiba dia melihat Rey berjalan melewatinya dari kejauhan.
__ADS_1
"Itu kak Rey kan?" Gumam Zul pada diri sendiri. "Iya benar itu kak Rey... Kak Rey..." Zul berteriak memanggil lelaki itu tapi tidak ada jawaban. Zul berdiri berjalan dengan cepat berusaha mengikuti Rey sambil masih berteriak memanggil Rey tapi pemuda itu tidak menoleh sekalipun karena memang ia tidak mendengar apapun.
Zul bingung kenapa Rey pergi ke belakang sekolah dia terus mengikuti pemuda itu. Alangkah terkejutnya Zul saat melihat Rey sedang bersama gadis lain dari kejauhan. Zul hanya mengintip mereka dari balik pohon, berusaha mengenali siapa gadis itu karena gadis itu juga mengenakan seragam sekolah sama dengannya tapi sial Zul tidak mengenalnya sama sekali. Zul berusaha menguping tapi tidak bisa mendengarkan apapun. Ia lebih terkejut lagi saat mendapati mereka sedang berciuman.
Jadi ini kelakuannya kalau dengan gadis lain, dasar brengsek. Zul membatin kemudian seketika dia berlari sekuat-kuatnya sambil terus menitikkan air mata. Hatinya sungguh terluka, sangat terluka seperti disayat dengan sangat keras. Zul terduduk lemas di taman sambil terus menangis sampai sesenggukan. Benar kata Anna aku hanya target selanjutnya.
"Zul...". Suara Anna lirih dari belakang sambil memegang pundak Zul.
"Anna...". Zul langsung memeluk sahabatnya sambil sesenggukan mengeluarkan bulir air mata begitu derasnya.
"Tenanglah, sudah tenang ya". Anna mencoba menenangkan. Kemudian Anna mengajak Zul duduk di bangku taman. "Minumlah agar lebih tenang". Anna memberikan satu botol air putih. Setelah Zul minum perasaannya jauh lebih tenang. "Sekarang katakan padaku ada apa?".
Zul menceritakan semuanya yang dia lihat dari dia mengikuti Rey sampai melihat dia berciuman dengan gadis itu. Perasaannya sungguh sangat terluka.
"Kau benar kalau aku hanyalah targetnya". Ucap Zul lirih. Lalu Zul menangis lagi, setelah dia yakin kalau Rey akan menjadi cinta yang dia harapkan, yakin kalau Rey sungguh sangat mencintainya tapi kini keyakinan itu telah hilang. Cinta pertamanya telah membuat luka begitu dalam.
Anna berusaha menenangkan Zul. Anna mengepalkan tangannya dengan geram seperti ingin menerkam mangsanya. Dia sangat tidak terima jika ada yang menyakiti sahabatnya. Karena bagi Anna Zul sudah seperti saudaranya, dia sangat menyayanginya. Aku yang akan membalas sakit hatimu. Anna membatin dengan sangat marah.
Anna sabar menunggu hingga sahabatnya itu benar-benar sudah tenang dan tidak lagi menangis. Dia juga berusaha untuk menghiburnya agar Zul dapat tersenyum lagi.
"Nanti sepulang sekolah kita pergi belanja". Ajak Anna berusaha menghibur.
"Anna...". Zul ingin mengatakan sesuatu tapi terpotong.
"Kau tidak usah khawatir soal uang aku yang akan membayar semua yang kau inginkan".
"Anna... aku selalu saja merepotkanmu". Ucap Zul lirih.
"Tidak, aku tidak merasa direpotkan. Kau sahabatku, kau saudaraku, bahagiamu juga bahagiaku". Kata Anna menatap lekat mata Zul.
__ADS_1
"Anna... Terimakasih". Zul menitikkan air matanya. Lalu mereka berpelukan dengan erat.
***