Cinta Buta

Cinta Buta
Kemarahan Anna


__ADS_3

Setelah dari rumah Zul, Anna segera menuju rumah kekasihnya karena hatinya sungguh tidak sabar menunggu besok untuk menanyakan soal 'taruhan' ini.


Mobil putih yang dikemudi gadis cantik ini telah memecah keramaian. Banyak lampu berkilau menyinari setiap penjuru kota, memperindah suasana malam. Pikiran Anna berkecamuk bahkan dirinya ingin sekali marah padahal ia belum tau masalah itu benar atau tidak.


Mobil yang dibawa Anna telah sampai di depan gerbang rumah Berryl, penjaga gerbang segera membuka gerbang mempersilahkan masuk. Kasta Berryl juga sepadan dengan Rey juga Anna.


Ting tong ting tong! Bell rumah berbunyi hingga suaranya menembus ke dalam seluruh ruangan rumah.


"Nona mau cari siapa ya?". Tanya seorang pelayan paruh baya setelah membuka pintu.


"Maaf, Berryl ada bi?".


"Ada, tapi tuan Berryl masih ada tamu di kamarnya". Kata pelayan itu sambil menunduk menunjukkan sikap sopan.


"Tamu?". Anna mengerutkan keningnya. "Cowok atau cewek?". Pertanyaan Anna dilontarkan tanpa sungkan bahkan seperti mengintimidasi.


"Laki-laki nona". Suara pelayan itu sedikit terbata. "Dia temannya tuan Berryl".


"Apa dia Rey?". Anna menebak karena memang dia merasa tamu itu Rey.


"Iya nona, ada tuan Rey di kamar".


"Bisa tolong panggilkan mereka bi". Kini suara Anna berubah lembut karena merasa pelayan itu sedikit takut.


"Baik silahkan masuk dan duduk". Pelayan itu berjalan menuju ruang tamu diikuti Anna dari belakang. "Nona tunggu di sini sebentar saya panggilkan dulu". Anna hanya mengangguk lalu pelayan itu meninggalkan Anna di ruang tamu sendirian.


Mata gadis itu mengamati setiap sudut rumah, hiasan yang tertempel di dinding juga foto-foto keluarga Berryl. Anna tertawa kecil saat melihat foto anak kecil sedang berdiri. Foto itu berwarna hitam putih yang di cetak dalam ukuran besar. Pasti itu Berryl lucu sekali.


"Gantengan Berryl yang sekarang atau yang kecil?". Tiba-tiba suara pemilik foto itu mengejutkan Anna yang sedari tadi memandang foto Berryl kecil.


"Apa sih?". Anna tersipu malu padahal ia sedang tidak ketahuan hal yang memalukan.


"Zulia tidak ikut bersamamu?". Rey menyahut setelah celingukan mencari sosok Zul.


"Tidak, aku datang sendiri". Jawaban Anna sedikit sinis terhadap Rey yang masih kesal karena pemuda itu telah melukai sahabatnya tadi pagi.


Kini mereka bertiga duduk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat juga biskuit yang tertata dalam piring kecil yang dihidangkan oleh pelayan tadi. Rey dan Berryl duduk bersisian namun bersebrangan dengan Anna.

__ADS_1


"Kenapa malam-malam datang kesini?". Berryl memulai setelah menyesap teh hangatnya dengan hati-hati.


"Sebenarnya ada masalah yang terasa janggal di pikiranku". Ucap Anna hati-hati sambil memangku secangkir teh hangat di tangannya.


"Katakan sayang". Berryl siap mendengarkan.


"Ini juga ada hubungannya dengan kak Rey". Kata Anna memandang Rey. Rey menatap Anna penasaran seperti bertanya-tanya ada masalah apa denganku. Tapi ia hanya diam saja sambil terus menikmati tehnya.


"Ayo cepat katakan". Berryl mendesak. karena ia juga penasaran kenapa Rey dibawa-bawa.


"Benarkah kalian membuat taruhan. Maksudku kau..." Anna menunjuk Berryl. "Menantang kak Rey untuk mendapatkan Zul. Kalau kak Rey bisa melakukannya kau akan mengabulkan semua keinginannya". Sekarang suara Anna sudah tidak ada nada hati-hati atau ragu untuk mengatakan bahkan lebih tepatnya marah sebelum tau jawabannya.


Uhuk uhuk uhuk! Rey terbatuk-batuk saat sedang menyesap teh miliknya. Ia sangat terkejut. Bagaimana dia bisa tau. Sialan.


Berryl dan Rey saling memandang sebelum menjawab. Pikiran mereka sedang berputar berusaha menemukan jawaban yang tepat.


"Kata siapa?". Kini Rey membuka suara.


"Kalian tinggal jawab ya atau tidak". Kalimat Anna penuh penegasan. "Aku tidak ingin ada yang kamu tutup-tutupi Berryl. Jika hari ini kau berbohong dan suatu saat aku tau kebenarannya jangan harap hubungan kita akan baik-baik saja". Katanya memandang Berryl tajam lalu meletakkan kembali cangkirnya di meja.


"Kenapa jadi begini?". Rey berbisik pada Berryl. Berryl hanya terdiam dia bingung untuk memilih kekasihnya atau sahabatnya.


"Katakan sekarang atau aku tidak akan mau bertemu lagi denganmu selamanya". Tatapan Anna semakin tajam menusuk ke dalam mata Berryl.


Berryl masih terdiam tanpa jawaban apapun. Ia berkutat dengan pikirannya bagaimana akan menyampaikan hal ini. Sesekali ia melirik Rey untuk meminta jawaban tapi Rey sama saja masih dengan wajah berpikir.


"Ayo katakan. Kenapa kalian hanya diam? Atau jangan-jangan benar ya apa yang aku katakan?" Anna mendesak sudah tidak sabar ingin tau kebenarannya. "Cepat katakan". Suaranya lantang hampir berteriak.


"Iya itu benar". Berryl menjawab setengah berteriak. Sebenarnya dia keceplosan karena sedikit kaget dengan suara Anna.


"Apa?" Suara Anna lirih bahkan tersenyum getir. Gadis itu mendekati Berryl memandangnya dengan tajam. Berryl berdiri membalas tatapan Anna tapi dengan sendu.


Plak! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Berryl. "Aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu. Kau pikir Zul adalah cewek yang hina yang bisa kau tawarkan sesukamu". Kini suara Anna terdengar tinggi namun parau menahan tangis.


"Kau tidak berhak menampar Berryl". Rey langsung berdiri dengan amarah yang memuncak.


"Oh ya dan kau bahkan derajat keluargamu sangat tinggi tapi perbuatan mu sangatlah hina". Anna menunjuk Rey dengan amarah yang berapi-api.

__ADS_1


"Jaga jarimu ini". Rey menepis telunjuk Anna. "Dan jangan bawa-bawa keluarga, kau belum tau sedang berhadapan dengan siapa hari ini".


"Kau pikir aku takut?".


"Sudah cukup". Berryl melerai perdebatan kedua orang itu. "Anna aku bisa jelasin". Berryl memohon menggenggam tangan kekasihnya.


Anna menepis tangan Berryl. "Stop aku tidak ingin dengar apapun lagi". Anna mengembuskan nafas lirih. "Beruntung Sanju segera memberi tahu Zul tentang kebusukan kalian berdua jadi dia bisa lebih hati-hati". Anna memungkas lalu beranjak pergi tanpa berpamitan.


"Anna tunggu aku akan jelasin ini semua". Berryl mengejar tapi Anna tidak menggubris sama sekali. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan tancap gas dengan ngebut. Berryl tertunduk lalu kembali masuk rumah menghampiri sahabatnya.


Sanju, seharusnya sudah ku duga dia tidak akan pergi dengan semudah itu. Batin Rey mengepalkan tangannya geram. Ingin sekali ia malam ini memberi pelajaran pada mantan kekasihnya itu. Namun Berryl mencegah.


"Kita kasih pelajaran pada Sanju besok". Kata Berryl yakin dengan hatinya karena melihat Anna marah seperti tadi ia ingin memangsa siapapun yang menjadi penyebab. "Dia sudah sangat lancang ikut urusan kita".


"Sanju... Kurang ajar beraninya kau membuat masalah denganku". Rey berteriak marah.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para readers berkenan melakukannya.


Love you All***.


__ADS_2