Cinta Buta

Cinta Buta
Berakhirnya Taruhan


__ADS_3

"Anna". Berryl datang, menghampiri dua gadis itu yang sedang duduk di taman sekolah. Kedua gadis itu menoleh namun Anna langsung memalingkan wajah sedangkan Zul masih tetap memandang Berryl. "Anna aku ingin bicara padamu".


"Tidak bisa aku lagi sibuk". Kata Anna datar lalu berdiri menggandeng tangan Zul. "Ayo Zul kita ke kelas males banget lihat nih orang".


"Tunggu, sebentar saja aku ingin bicara".


Berryl menggenggam tangan Anna menatap dengan wajah sendu. "Ku mohon".


Anna memandang Zul tanda ingin meminta persetujuan. Kepercayaan Anna pada kekasihnya sudah tidak utuh, masih ada perasaan ragu dalam hatinya.


"Pergilah, aku akan menunggumu disini". Ucap Zul memberi anggukan kepala.


Anna dan Berryl pergi menjauh dari pandangan Zul tapi masih bisa dilihat tanpa bisa didengarkan pembicaraan mereka.


"Cepat katakan kau ingin bicara apa?". Kata Anna dengan nada sinis.


"Maafkan aku, maaf kalau perbuatan ku ini salah".


"Ya jelas kamu salah. Secara tidak langsung kamu menghina Zul. Kamu tawarkan seolah dia itu mainan yang unik". Anna menukas dengan geramnya.


"Iya ya aku minta maaf, aku sungguh minta maaf. Tolong jangan marah lagi". Kata Berryl memohon masih terus menggenggam tangan Anna.


"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Zul. Dia yang paling tersakiti atas perbuatan mu dan kak Rey". Anna melepaskan genggaman tangan Berryl.


"Kalau aku minta maaf pada Zulia apa kau tidak akan marah lagi padaku?". Kata Berryl untuk mencari keyakinan dari raut wajah Anna. "Bisa gila aku kalau kau seperti ini".


"Lakukan dulu jangan banyak bicara". Anna memungkas. Lalu mereka berdua menghampiri Zul yang masih duduk di tempatnya.


"Sudah selesai?". Zul langsung berdiri dari duduknya. Sebenarnya ia juga tidak ingin melihat Berryl bahkan ingin memarahinya namun ia tahan karena menjaga perasaan sahabatnya.


"Cepat katakan sekarang". Anna menyenggol Berryl dengan sikunya.


"Zulia". Ucap Berryl lirih. Zul hanya memandangnya tanpa menjawab. "Aku minta maaf, aku tau aku salah tapi itu saat aku belum mengenalmu".


"Hmmm". Itu jawaban yang Zul berikan.


Ah dasar kok cuma hmmm saja. Berryl melirik Anna mencoba meminta bantuan pada kekasihnya tapi tidak digubris sama sekali. "Zul, tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan hal yang sama. Aku akan bicara pada Rey untuk berhenti mendekatimu. Lalu kau bisa hidup dengan tenang. Ku mohon, ku mohon maafkan aku". Kata Berryl panjang lebar hingga tanpa sadar dia langsung terduduk di kaki Zul sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Ini apa-apaan sih bangun malu dilihat orang". Zul mencoba membantu Berryl untuk berdiri namun terasa berat.


"Tidak, tidak aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan aku". Berryl Masih dengan posisinya.

__ADS_1


"Iya ya aku maafkan. Tapi bangunlah jangan seperti ini". Kalimat Zul membuat senyum cerah di wajah Berryl. Kemudian ia berdiri.


"Benarkah? Kau tau kalau kau tidak akan memaafkan aku Anna akan pergi dariku". Kata Berryl melirik pada Anna.


Zul hanya terdiam. Sebenarnya ia terharu dengan sikap Anna dan ingin menghamburkan tubuh ke pelukan sahabatnya. Bagi Anna nilai persahabatan lebih tinggi dari kekasihnya.


"Jadi sayang, sekarang kau memaafkan aku?". Kini Berryl beralih pada Anna.


"Katakan dulu pada temanmu untuk menjauhi Zul". Ucap Anna ketus.


"Iya aku akan mengatakannya. Tapi sekarang kau memaafkan aku?". Kata-katanya selalu diulangi untuk memastikan kalau ia sudah dimaafkan.


"Iya-iya sudah jangan banyak bicara".


***


"Apa aku boleh menemanimu berjalan pulang?". Ucap seorang pemuda tiba-tiba mengiringi langkah kaki Zul yang sedang berjalan menyusuri trotoar jalanan dekat sekolah. Pohon-pohon yang rindang membuat segar suasana saat siang hari.


"Tidak usah, aku tidak butuh teman". Jawaban Zul dengan wajah masam ketika tau siapa yang berjalan di sampingnya.


"Zul, kau kenapa? Bukankah kau kemarin sudah memaafkan aku?". Pertanyaan Rey dengan pura-pura lupa dengan marahnya Anna semalam. Rey menarik lengan Zul agar berhenti, kini mereka saling bertatapan.


"Ternyata kau pandai berakting juga ya? Pantas saja banyak yang percaya dengan omong kosong mu". Zul menukas dengan menyunggingkan senyum kecil di bibir kanannya.


"Kau tidak tau atau hanya pura-pura? Ayolah, bahkan sahabatmu sudah minta maaf padaku". Suara Zul masih terdengar datar yang tidak enak untuk didengar. "Hilangkan gengsi mu untuk mengakui kesalahan yang sudah kau buat".


"Baik aku mengaku aku memang salah tapi ini semua Berryl yang mengawali, membuatku terjatuh dalam rencana ini". Rey menghela nafas panjang menghembuskan dengan setengah kasar. Memegang kedua pundak Zul. "Ya, aku minta maaf".


"Maaf?". Zul tertawa tapi tawanya sungguh sinis dengan melepaskan tangan Rey yang ada di pundaknya. "Semudah itu? Ayolah, bukankah aku ini gadis yang hina, yang bisa kau mainkan sesukamu? Dan oh ya kalau kau minta maaf lebih baik menyadari kesalahan mu sendiri tanpa membicarakan kesalahan orang lain". Pungkas Zul lalu pergi meninggalkan Rey yang terdiam tanpa satu kata pun.


Terlihat seorang pemuda setengah berlari menyusul Rey yang masih berdiri tanpa gerakan tambahan.


"Gimana dia masih marah?". Tanya Berryl yang sudah berada di sampingnya.


"Dasar bodoh". Kini Rey menatap sahabatnya kesal. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah minta maaf dan mengakui kesalahanmu?".


"Ku pikir kau akan melakukan hal yang sama". Jawab Berryl dengan santai.


"Kalau kau memberi tau pasti juga akan melakukan sama sepertimu, bahkan aku tadi pura-pura tidak tau apapun". Kata Rey sambil mengusap rambutnya sendiri dengan kesal.


Berryl terkekeh. "Sekarang berjuanglah kawan, tapi tunggu Zul bilang kau dilarang mendekatinya lagi".

__ADS_1


"Aku tidak peduli aku akan tetap mengejarnya". Rey masih tetap dengan keputusannya.


"Walaupun aku mengakhiri taruhan ini?". Berry mengangkat sebelah alisnya.


"Ya walau taruhan ini berakhir". Suara Rey datar.


"Hahaha aku sekarang yakin kalau kau memang sudah jatuh cinta padanya". Kata Berryl menepuk-nepuk punggung Rey.


"Tidak mungkin, jaga bicaramu". Rey berkata dengan kesal.


"Memang susah sih untuk mengakui apalagi gengsi mu yang kelewat batas ini". Berryl mengolok-olok sahabatnya.


"Diam. Sudah sana pergi". Rey mengusir dengan mendorong punggung Berryl.


"Berjuanglah kawan untuk cintamu. Aku pulang dulu. Semoga berhasil". Ucap Berryl melambaikan tangannya.


Apa ini cinta? Tidak, tidak ini bukan cinta hanya ketertarikan saja. Batin Rey meyakinkan dirinya. Bisa gila aku kalau dia marah terus, sial.


Rey lalu beranjak pergi dari tempatnya ia ingin segera pulang dan mandi untuk merilekskan tubuh juga pikirannya.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para readers berkenan melakukannya.


Love you All***.


__ADS_2