
Reynata Adi Sanjaya, orang memanggilnya Rey. Pemuda yang pertama kali bisa meluluhkan hati Zulia hingga dapat menghancurkan kehidupannya. Dia sekarang tengah duduk di bangku kelas 3 satu sekolah dengan Zulia. Rey berbadan tinggi, putih, dan memiliki bibir kecil yang merah.
Rey adalah pemuda yang terlahir dari orang kaya yang dapat melakukan apapun atas keinginannya. Rumor tentangnya sebagai anak konglomerat memang benar adanya, karena sekolah tempat Rey belajar sebagian dananya disokong oleh Adi yakni ayahnya Rey dan bahkan teman-temannya banyak yang tunduk terhadap Rey. Ada rumor satu lagi tentangnya kalau dia berkehidupan bebas, selalu melakukan hal yang negatif karena kurangnya kasih sayang dari orang tuanya.
Orang tuanya telah berpisah, Rey tinggal bersama Adi dan adik laki-lakinya bernama Denata juga beberapa pelayan di rumahnya. Dia tidak pernah mendapat perhatian dari Adi karena disibukkan oleh pekerjaan sedangkan Denata masih duduk di bangku SD yang diurus oleh baby sitter di rumahnya.
Ibunya entah pergi kemana Rey tidak pernah tau seperti hilang ditelan bumi begitu saja. Setiap Rey bertanya pada ayahnya tentang dimana ibunya berada Adi hanya memberi alasan seperti tidak ingin mendengar tentang wanita itu lagi.
Rey ditinggal ibunya saat dia masih duduk di bangku SMP mungkin itu yang membuatnya menjadi anak yang bandel karena disaat dia butuh perhatian malah perpisahan orang tuanya menjadikan bencana untuk dia dan Denata (broken home).
***
Penjaga gerbang rumah yang besar nan indah itu telah membuka gerbang dengan menundukkan kepalanya menyambut kedatangan Rey yang sedang menaiki motor sportnya sepulang sekolah. Rey membuka pintu rumah masuk ke ruang utama.
"Bi Inah..." teriak Rey keras memanggil asisten rumah tangga.
"Iya den..." Wanita paruh baya itu mendekati ke sumber suara.
"Siapkan makan lalu antar ke kamar". Perintah Rey kepada bi Inah.
"Baik den". Bi Inah segera beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makanan yang diminta Rey.
Rey menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Rey langsung merebahkan tubuhnya di ranjang masih terbalut dengan seragam sekolah. Dia tenggelam dalam pikirannya memikirkan gadis yang kata orang sangat dingin dan susah untuk menaklukkan hatinya. Rey sangat tertarik untuk mendapatkan Zul karena rumor yang didengar Zul sangat susah membuka hati untuk semua lelaki. Pembicaraan Rey dengan Berryl sahabatnya dari kecil terlintas kembali saat di kantin seusai Zul pergi dengan marah.
*"Makan apa lu? Gak bilang-bilang kalau ke kantin". Berryl menepuk punggung sahabatnya hingga tersontak kaget.
__ADS_1
"Gila lu untung gak keselek" Rey menjawab dengan wajah jengkel.
"Hehehe maaf-maaf, wajah lu marah-marah kenapa? Ada yang buat masalah?" Berryl bisa menebak kalau sahabatnya sedang kesal dengan seseorang.
"Kau tau siapa dia?" Rey menunjukkan telunjuknya ke arah Zul yang sedang berdiri tidak jauh dari luar kantin pada sahabatnya.
"Waw si seksi apa kau tertarik padanya?" tanya Berryl yang masih terus memandang tubuh Zul dengan nakal.
"Apa kau yang tertarik padanya?" Rey balik menimpali pertanyaan tanpa menjawab.
"Tentu, siapa yang tidak tertarik dengan gadis seksi dan cantik itu?". Kata lelaki itu sambil meminum jus punya sahabatnya. "Kau tau semua anak di sekolah ini sangat ingin berkencan dengannya walaupun hanya sekali". Lanjut Berryl masih meminum jus punya Rey. "Tapi semua ditolak dengan wajahnya yang cuek itu, dia tidak pernah merespon godaan semua cowok".
"Aku bisa mengajaknya pergi kencan". Sahut Rey santai.
"Caranya?". Masih meminum jus sampai habis tanpa menatap sahabatnya.
"Tidak semudah itu, dia beda dengan gadis lain yang hanya dengan uang langsung bisa kamu ajak semalaman". Katanya. "Aku menantang mu kalau kau bisa mendapatkannya kau bisa minta sesukamu dariku". Berryl memberi tantangan dengan menatap sahabatnya itu.
"Benarkah? Hmmm sepertinya menarik. Aku terima tantangan mu". Rey mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan sahabatnya*.
Zulia, hmmm sepertinya dia menarik. Aku ingin tau seberapa susah mendapatkannya. Aku harus bisa memenangkan taruhan ini. Rey apapun yang kau inginkan pasti akan terjadi hehehe. Rey tertawa dengan liciknya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rey. "Masuk". Perintah Rey pada orang yang ada di balik pintu tertutup.
"Ini den makanannya". Bi Inah datang dengan membawa nampan berisi makanan.
__ADS_1
"Taruh saja di atas meja bi".
Bi Inah menaruh nampannya sesuai perintah Rey. Setelah itu bi Inah langsung beranjak pergi dari kamar Rey dan munutup kembali pintu kamar. Rey segera melepas seragam yang ia kenakan dan mengambil handuk lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia mengguyurkan air dari keran membasahi wajah dan dada bidangnya yang putih.
Benar kata Berryl dia sangat seksi dan cantik oh kau sungguh menggoda. Gumam Rey sambil membayangkan tubuh Zulia yang sedang menari.
***
Pukul delapan malam Rey sedang asik menonton TV bersama Denata dengan cemilan di tangan mereka masing-masing. Suara tawa mereka mengambang di udara karena acara yang ditonton adalah acara komedi. Tiba-tiba suara mobil berhenti tepat di halaman rumah. Suara pintu terdengar terbuka seorang lelaki paruh baya masuk dan berdiri di belakang Rey dan Denata.
"Selamat malam anak-anak". Ucapnya dengan tersenyum.
"Ayah sudah pulang..." Denata berlari memeluk Adi.
"Ayah sudah pulang". Sapa Rey mencium tangan Adi. "Ayo yah kita makan bersama kita nungguin ayah loh dari tadi". Rey mengajak Adi ke ruang makan.
"Kalian makan duluan saja ayah capek mau istirahat di kamar". Adi menolak secara halus dan langsung beranjak ke kamarnya. Walaupun penolakan Adi lembut tapi Rey tetap sangat kesal dia langsung pergi mengambil jaket di kamarnya.
"Kakak mau kemana ayo kita makan?" Tanya Denata melihat kakaknya mengenakan jaket sambil menuruni anak tangga.
"Kamu makan dengan Maya saja ya kakak mau pergi sebentar". Bujuk Rey pada adiknya supaya mau makan bersama Maya seorang baby sitter.
Rey langsung menaiki motor sportnya keluar dari gerbang rumah dengan perasaan jengkel yang disebabkan Adi. Memang benar kata orang keinginan dan kebutuhan Rey selalu terpenuhi dengan mudah tapi tidak dengan hatinya yang kurang perhatian dan kasih sayang dari Adi karena pekerjaan yang menyita banyak waktu.
Setiap pagi Adi tidak pernah sarapan pagi bersama anak-anaknya dengan alasan buru-buru karena banyak pekerjaan. Setiap pulang kerja hanya sekedar menyisihkan waktu untuk makan malam bersama Rey juga Denata tidak pernah ia lakukan dengan alasan lelah karena bekerja. Namun Rey masih tetap membujuk Adi dengan sabar menunggu kalau ayahnya itu akan meluangkan waktu untuk dia dan adiknya hingga waktunya tiba Adi bersedia menemani anak-anaknya.
__ADS_1
***