Cinta Buta

Cinta Buta
Pembalasan Rey


__ADS_3

Suara gesekan sepatu dengan lantai terdengar sayup-sayup di dalam bangunan kosong. Seorang gadis dengan rambut ikalnya terdorong dengan keras membentur dinding.


"Apa yang ingin kau lakukan?". Teriakan Sanju itu dengan suara ketakutan. Padahal bangunan itu dekat dengan keramaian karena tempatnya sangat strategis tapi tidak ada yang bisa mendengar teriakkan orang yang ada di dalam, mungkin karena ruangannya kedap suara.


"Kau pikir aku akan melakukan apa ha?". Kata Rey santai tapi tatapannya mencekam. Mendekatkan dirinya pada Sanju yang terpojok di dinding. Rey membuat Sanju tidak bisa bergerak karena kedua tangannya ditempelkan ke dinding. "Bukankah ini yang kau inginkan?".


"Kau sangat menakutkan". Kata Sanju dengan bibir gemetar. "Apalagi sekarang kesalahanku?".


Rey tertawa, tawanya gemerincing ganjil untuk didengar. Seperti akan ada bahaya jika ia sudah tertawa seperti itu. "Kau masih bertanya apa kesalahanmu?"


"Apa? Aku tidak mengerti maksudmu".


"Apa yang kau katakan pada Zul tentang aku?" Kini suara Rey datar. Sanju terdiam tidak berani menjawab apapun. "Jangan membuatku mengulanginya lagi".


"Zul? Siapa dia? Aku tidak kenal dengannya". Sanju mencoba mencari alasan.


"Apa yang kau katakan padanya?". Rey berteriak di depan wajah Sanju. Hingga gadis itu memejamkan matanya tidak berani menatap mata Rey.


"Aku... Aku bilang soal taruhan yang kau buat dengan Berryl". Kata Sanju terbata-bata.


"Lalu?".


"Sudah itu saja".


"Aku sudah bilang jangan membuat aku mengulangi kata-kataku lagi jadi jawab degan benar". Suara Rey kini menurun tidak setinggi tadi.


"Aku bilang pada dia untuk menjauhimu agar tidak terluka seperti ku". Kata Sanju dengan menatap Rey. Matanya berkaca-kaca ketakutan.


"Kau terluka denganku?". Rey tertawa pendek. "Ayolah apa kau lupa kalau kau yang berulah?".


"Tapi aku sudah minta maaf padamu tapi kau tidak peduli padaku". Sanju mendorong tubuh Rey tapi tenaganya tidak bisa membuat tubuh Rey mundur walau hanya satu senti.


"Bukankah aku sudah memaafkan mu?" Kini Rey semakin mendekatkan wajahnya. "Lalu kau minta ini" Rey ******* bibir Sanju dengan kasar hingga gadis itu gelagapan. Sanju mencoba mendorong Rey tapi masih kalah dengan tenaga Rey yang kuat. Rey sudah melepaskan ciumannya. "Aku sudah menurutimu kemarin dengan syarat kau tidak lagi mengejar ku. Ternyata kau makin berani ikut campur dalam urusanku".


"Aku hanya tidak ingin kau dekat dengan gadis lain selain aku. Karena aku sangat mencintaimu". Kini Sanju berteriak di hadapan Rey.


"Wow wow kau mencintaiku? Kedengarannya sangat mustahil. Sepertinya kau hanya terobsesi denganku". Rey menduga-duga karena memang selama ini ia tidak merasakan cinta dari Sanju.

__ADS_1


"Terserah". Kata Sanju dengan sangat kesal. "Sekarang lepaskan aku".


"Melepaskan mu? Apa kau pikir semudah itu?" Rey tertawa pendek menyunggingkan senyum kecil. Lalu ia mengeluarkan gunting dari saku belakang celana.


"Apa yang ingin kau lakukan Rey? Hentikan kegilaan mu". Kini wajah Sanju sudah terlihat pucat. Apa dia akan membunuhku? Oh Tuhan tidak, aku tidak ingin mati sekarang apalagi dengan cara seperti ini.


"Ini ada sedikit pelajaran buatmu karena sudah berani ikut campur denganku, aku akan membuat kecantikan mu ini berkurang". Ucap Rey lirih di dekat telinga Sanju. Menempelkan gunting di pipi Sanju.


Siapapun sekarang tolong aku. Apa yang akan dia lakukan? Aku takut sekali. Apa dia ingin mencabik-cabik wajahku dengan gunting ini. Batin Sanju menjerit. Kakinya sudah sangat gemetar, dahinya dipenuhi keringat, tangannya mengepal ketakutan.


"Bersiaplah Sanju dengan penampilan barumu". Kata-kata Rey semakin mencekam untuk Sanju. Ia sudah tidak bisa bergerak lagi.


***


"Aaaa". Teriakkan Sanju marah menjatuhkan semua benda di atas meja kamar. "Kurang ajar kau, kau keterlaluan Rey". Sanju mengutuki Rey di depan cermin sambil memandangi penampilan barunya yang diubah oleh Rey.


Rey memotong rambut Sanju dengan gaya rambut laki-laki namun potongan itu tidak rata, tidak sebagus yang ada di salon.


"Ini semua gara-gara gadis itu, ya gara-gara dia Rey pergi meninggalkan aku". Sanju mengepalkan tangannya di atas meja. "Awas saja, aku akan berikan perhitungan untuk dia".


Sanju mengambil hoodie di lemarinya. Memakai dengan menutup kepalanya agar tidak terlihat orang dengan gaya rambutnya yang buruk. Gadis itu masuk ke dalam mobil dan langsung meluncur dengan kecepatan tinggi.


Mobil Sanju sudah berhenti di halaman rumah sederhana, rumah yang pernah ia datangi pertama kali saat berkenalan dengan Zul.


Tok tok tok tok! Kini suara ketukan pintu terdengar sangat keras bahkan yang mendengarkan bisa tau kalau yang mengetuk pintu itu dengan kasar.


"Sanju? Ada apa ini? Bisakah kalau mengetuk pintu sedikit sopan?". Tanya Zul setelah membuka pintu dengan sedikit kesal.


"Gara-gara kau Rey sekarang jadi berubah padaku". Kata Sanju langsung pada intinya.


"Tunggu, apa maksudmu?". Zul mengerutkan keningnya ia bahkan tidak tau sama sekali titik masalahnya dimana.


"Lihat ini". Sanju membuka hoodie penutup kepala, memperlihatkan rambut barunya. "Ini semua karena kau".


Sebenarnya Zul ingin tertawa melihat rambut yang dirasa aneh baginya tapi ia menahannya karena bukan waktu yang pas untuk tertawa.


"Astaga, kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" Zul memegang rambut Sanju memasang wajah simpati yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Hentikan". Sanju menepis tangan Zul. "Ini semua perbuatan Rey. Gara-gara kau" Sanju. menunjuk wajah Zul dengan jarinya. "Sudah beruntung aku selamatkan dirimu dari Rey tapi malah kau mengadukan kalau aku yang memberi tau". Amarah Sanju berapi-api hingga pipinya memerah.


"Memang benar kan kau yang memberi tau soal taruhan itu?" Zul mengedikan bahu. "Lalu apa salahku?".


"Salahmu adalah kau menyebut namaku". Sanju menegaskan kalimatnya.


Terima saja tuduhan itu biar cepat selesai dan dia bisa cepat pergi. Gumam Zul dalam hati.


"Kau sudah mengubah Rey, dia tidak seperti dulu lagi. Dulu walaupun aku melakukan kesalahan dia tetap menerimaku tapi semenjak dia mengenalmu dia sudah tidak peduli lagi padaku". Sanju berkata sambil mendorong dada Zul dengan jari telunjuknya.


"Ya mungkin kak Rey sudah bosan dengan kesalahan yang kau buat atau dia sudah bosan denganmu". Zul membalas dorongan Sanju dengan jari telunjuknya.


"Berani kau". Sanju mengepalkan tangannya. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu".


"Apa?" Mata Zul melotot terlihat berkilat. "Pergi dari sini dan dengar, aku tidak takut dengan ancamanmu".


"Tunggu saja". Sanju pergi masih dengan diselimuti amarah.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para readers berkenan melakukannya.


Love you All***.


__ADS_2