Cinta Buta

Cinta Buta
Malam Panjang (1)


__ADS_3

Sial lama sekali, dia sengaja mau bikin aku sekarat di sini karena sesak nafas. Rey menggerutu masih di dalam lemari sedangkan pintunya dikunci dari luar. Pemuda itu ingin sekali menggedor pintu lemari bahkan ingin sekali mendobrak tapi nyalinya menciut kalau ingat ketahuan ayahnya Zul bisa jadi masalah besar.


Tak lama kemudian pintu lemari terbuka. "Uhuk uhuk uhuk uhuk". Rey terbatuk-batuk saat keluar dari lemari ia langsung duduk di tepi ranjang. Zul cemas ia langsung menyambar air minum yang ada di meja kamar.


"Minumlah ini". Zul Menyodorkan air yang ia pegang menuntun Rey untuk minum.


"Kau mau membuatku sekarat di dalam lemari?". Tanya Rey kesal dengan pandangan menusuk, Zul menelan ludahnya dengan kasar. "Kalau kau terlambat sedikit mungkin aku sudah kehilangan nafas".


"Maaf, tadi ayah ingin ngobrol santai denganku. Aku di larang ke kamar dulu". Wajah Zul terlihat sedikit khawatir karena saat makan ia tidak bisa menikmati makanan dengan benar. Entah itu enak atau tidak.


"Ayahmu memang sengaja ingin membunuhku". Rey membuang nafas kasar lalu ia merebahkan diri di tempat tidur.


"Enak saja, ayah kan tidak tau kalau kau di sini. Salah siapa coba masuk-masuk ke kamar cewek jadi repot kan". Kata-kata Zul tidak kalah ketus dengan Rey. "Lebih baik sekarang kamu pulang, aku tidak ingin ada hal-hal yang tidak diinginkan".


"Aku tidak ingin pulang". Ucap Rey santai masih dengan telentang. "Lagi pula aku juga tidak akan ngapa-ngapain kamu".


"Kak Rey jangan keras kepala. Tidak baik kalau kita berduaan di dalam kamar begini". Zul semakin kesal. Tapi Rey tidak menanggapi sama sekali malah ia sengaja memejamkan matanya. "Terserah". Kata-kata Zul menyerah sambil menghela nafas panjang.


Malam semakin larut, gelapnya semakin pekat. Waktunya penghuni bumi beristirahat, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka agar mendapatkan energi untuk aktivitas esok harinya. Kecuali yang hidup di dunia malam.


"Kak Rey..." Zul menyeret tangan Rey hingga pemuda itu jatuh dari tempat tidur. "Aku ingin tidur jadi sana pergi".


"Gak bisa dengan cara lembut ya?".


"Gak bisa. Sudah sana pulang".


"Kalau mau tidur ya tidur saja". Kata Rey dengan santai hingga membuat Zul semakin geram.


Zul sudah tidak ingin mendebat pemuda itu lagi. Ia segera berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut. Bahkan Zul tidak bisa berganti pakaian tidur miliknya.


Dia memang sudah gila, sekarang aku harus pura-pura tidur biar dia cepat pergi dari sini. Dan aku bisa tidur dengan nyenyak. Zul menggerutu dalam selimut.


Rey berjalan ke tepi ranjang sebelah Zul lalu ia membaringkan tubuhnya di sebelah gadis itu.


"Tidurlah aku akan menjagamu di sini". Kata Rey lembut sambil membelai kepala Zul yang ada di bawah selimut.


"Kau..." Zul membuka selimutnya. Ia memasang wajah marah. "Kau mau apa tidur di sini".


"Menjagamu".

__ADS_1


"Aku tidak butuh penjaga. Memangnya kau..." Kata-kata Zul terhenti saat jari-jari Rey menempel di bibirnya.


"Tidurlah, kau tidak ingin kan ayahmu kesini karena suaramu yang berisik itu?" Rey berkata dengan lembut.


Zul berbalik memunggungi Rey, ia tidak ingin terjebak dalam tatapan Rey. Sudah cukup waktu itu saja dia cium aku. Aku kan jadi leleh kalau sudah dipandang seperti itu.


Zul berusaha memejamkan mata, berusaha tenang agar bisa tidur. Tapi tidak bisa, bahkan gadis itu berusaha tidak gerak. Kalau Zul bisa ia ingin sekali untuk menahan nafasnya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, tengah malam. Rey duduk menyandarkan kepalanya di samping Zul, sesekali ia memandang punggung Zul yang bergerak naik turun karena nafasnya.


"Kalau tidak bisa tidur bilang, jangan pura-pura tidur". Rey cekikikan merasa dirinya lucu sendiri karena menjaga orang yang sedang pura-pura tidur.


"Baiklah aku nyerah". Zul mengubah posisinya, ia duduk di sebelah Rey. "Sekarang katakan kau mau apa?".


"Aku ke sini tadi cuma mau minta maaf sama kamu". Pemuda itu berkata dengan lirih. "Aku tau aku salah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi".


"Kau tau, sebenarnya aku merasa terhina karena perbuatan mu dengan Berryl, aku merasa aku gadis yang rendahan sampai kau berfikir untuk menjadikan aku taruhan". Zul menatap mata Rey lekat, lalu ia tersadar dan memalingkan wajahnya.


"Aku minta maaf Zul". Rey menggenggam kedua tangan Zul. "Aku sungguh minta maaf".


"Sudah berapa kali kak Rey minta maaf? Tapi kau tetap membuat kesalahan". Zul menukas tidak ingin memandang mata Rey.


Zul hanya diam, tidak bisa mengatakan apapun lagi. Kalimat Rey yang terakhir membuat hati Zul sedikit kecewa. Seperti ada yang menusuk di hatinya.


Inikah akhirnya? Ayolah bukankah kau sendiri yang ingin kak Rey menjauh?. Batin Zul merasakan sedikit sesak di dadanya.


"Kau mau memaafkan aku Zulia?". Rey mengulangi kata-katanya untuk memastikan dan Zul hanya mengangguk. "Terimakasih". Reflek Rey memeluk gadis itu saking bahagianya. "Oh maaf-maaf".


Zul hanya tersenyum dan menunduk malu. "Sanju tadi kesini, dia marah-marah sama aku sebab rambutnya katanya kak Rey yang memotong".


Rey terkekeh mengingat gaya rambut Sanju. "aku cuma memberi dia pelajaran dia sedikit".


"Kenapa? Apa karena dia membocorkan rencana mu dengan Berryl?" Zul mengangkat wajahnya memandang pemuda itu dengan wajah menyelidik.


"Menurutmu?". Rey tersenyum simpul.


"Itu sangat jahat sekali". Wajah Zul berubah masam.


"Aku tidak suka ada yang ikut campur dengan urusanku" Rey menggeser pandangannya ke arah jarum jam. "Sudah tengah malam rupanya, kau tidak mengantuk?".

__ADS_1


"Tidak sama sekali". Zul menggeleng.


"Apa karena aku di sini?" Pemuda itu memainkan mata menggoda Zul. "Pasti kau gugup sekarang".


"Apaan coba? Gak jelas banget". Zul menunduk menyembunyikan pipinya yang merona.


Obrolan-obrolan mereka berdua mengalir menceritakan kehidupan mereka masing-masing, bahkan mereka lupa untuk segera tidur, lupa kalau besok harus sekolah dan lupa ini sudah pukul berapa.


"Aku kira orang kaya itu hidupnya bahagia, karena dia punya segalanya?". Tanya Zul sedikit iba setelah mendengar kisah hidup Rey.


"Itu asumsi umum saja". Rey tersenyum getir. "Nasib kita ternyata hampir sama hanya kau tau kalau ibumu sudah menikah lagi sedangkan aku tidak tau keberadaan ibuku dimana".


"Apa kak Rey sudah berusaha mencarinya?".


"Tidak, ayahku saja kalau ditanya tentang ibuku ia enggan untuk menjawab". Rey mengedikan bahu. "Seperti tidak ingin mengingat ibuku lagi. Mungkin ibuku melakukan kesalahan yang besar".


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para readers berkenan melakukannya.

__ADS_1


Love you All***.


__ADS_2