
"Sekarang katakan padaku kita mau kemana?" Zul bertanya dengan mata menyipit karena terpapar matahari siang.
"Kamu akan tau nanti saat kita sampai". Rey menjawab dengan santai sambil mengayuh sepeda. "Sekarang pegangan yang erat kita akan terbang...". Rey berteriak dengan keras dan dipenuhi senyuman dengan membawa Zul menuruni tanjakan lurus dengan sepedanya dengan kecepatan tinggi.
"Aaaa...". Zul berteriak lalu tertawa riang seakan ini baru pertama kalinya naik sepeda sesenang ini.
Rey mengerem sepedanya mendadak membuat Zul tersentak memeluk Rey tiba-tiba. "Apa kau suka?".
"Ya itu sangat menyenangkan". Zul tertawa kecil. Dia celingukan melihat sekelilingnya yang dipenuhi pohon dan berbagai jenis bunga. "Ini dimana? Tempatnya sangat indah".
"Benarkah? Ikuti aku". Rey menurunkan standard sepeda lalu berjalan menyusuri pepohonan dan bunga-bunga diikuti Zul dari belakang yang hanya berjarak satu meter.
"Sungguh indah airnya sangat jernih dan suasana disini sangat segar". Zul takjub saat berhenti melihat sungai mengalir yang jernih hingga batu-batu di dasar sungai tampak jelas.
"Ini adalah tempat favorit bagiku. Saat aku lagi sedih aku selalu datang kesini". Rey berjalan menuju batu besar untuk dia duduk.
"Kalau hatimu lagi bahagia apa kau juga akan kesini?" Zul menempatkan dirinya duduk di samping Rey.
"Tidak". Rey menggeleng pelan.
"Kasihan sungai ini". Wajah Zul berubah lesuh.
"Kasihan? Kenapa?". Tanya Rey heran.
"Ya tentu saja kasihan karena sungai ini hanya mendengarkan kesedihanmu tanpa kau bagi kebahagiaanmu". Zul berkata lirih. "Kalau kau saat merasa bahagia datanglah kemari itu akan menunjukkan rasa bersyukur mu pada sang pencipta karena telah menciptakan tempat untuk menenangkan kesedihanmu".
"Kau benar aku memang bodoh". Ucap Rey mengutuk dirinya sendiri sambil tertawa kecil. Tiba-tiba mata kedua orang itu bertemu mata Zul seolah terkunci untuk tetap menatap mata hitam Rey. Perlahan Rey mendekatkan wajahnya pada wajah Zul hingga bibir mereka bersentuhan tanpa bergerak lebih jauh. Ketika Rey hendak meneruskan aksi bibirnya Zul tersentak tiba-tiba menjauh.
"Jangan, ini tidak benar". Gadis ini memalingkan wajahnya dari hadapan Rey.
"Kenapa? Apa ini ciuman pertamamu?". Tanya Rey penasaran.
Zul tetap terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Rey. "Aku mencintaimu Zul". Mendadak Rey mengungkapkan isi hatinya dengan lirih. "Aku tidak tau kapan hadirnya rasa ini tapi aku benar mencintaimu".
"Apa menurutmu rasa cinta hanya ditunjukkan dengan sebuah ciuman?". Zul berkata dengan menahan air matanya.
__ADS_1
"Zul". Rey berkata lirih sambil memegang pundak gadis yang ada di sampingnya.
"Aku sering bermimpi akan menemukan cinta yang fantastis". Gadis ini menepis tangan Rey dan melangkah maju berhenti di depan Rey hanya berjarak satu meter mencoba mengumpulkan suaranya agar tidak terdengar parau. "Bergandengan saat berjalan dan melangkahkan kaki yang sama, sama-sama mengatakan sesuatu yang disuka, membuat kejutan-kejutan yang tidak akan bisa aku lupakan walaupun hanya sederhana dan selalu berbagi apa yang dirasakan". Zul menghela nafas lalu melanjutkan. "Ciuman itu hanya akan terjadi jika kita sama-sama sudah saling percaya dan itu bukan ciuman egois yang mengatasnamakan cinta".
"Kamu pikir aku egois?". Rey tertegun dengan ucapan Zul.
"Bukan seperti itu. Jangan ambil kesimpulan dengan kata-kataku yang terakhir tapi pahami kalimatku di awal". Pungkas Zul berbalik memandang mata Rey.
"Baik aku mengerti". Rey mengangguk pelan.
***
"Jadi malam ini kak Rey tidak jadi memberi kejutan untuk Zul?". Anna memastikan lagi.
"Benar kata Rey dia akan menyiapkan hatinya terlebih dahulu". Suara Berryl terdengar di dalam telepon.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti". Anna setengah berbisik.
"Entah apa yang dikatakan Zul tadi siang padanya dia seperti merasa bersalah".
"Baiklah sebentar lagi aku jemput". Berryl mematikan teleponnya.
"Siapa? Berryl?". Tanya Zul sambil membawa dua gelas berisi cokelat hangat ke ruang tamu. "Nih minum dulu". Menyodorkan minuman untuk sahabatnya.
"Iya makasih". Anna menerima cokelat hangat itu. "Em Zul kalau malam ini aku hanya pergi berdua dengan Berryl kamu gak apa-apa kan? Atau apa-apa ya?". Kata Anna hati-hati takut sahabatnya itu akan kecewa.
Zul tersenyum. "Pergilah aku tidak apa-apa. Aku akan tidur setelah ini karena aku merasa lelah".
"Baiklah terimakasih kau memang sahabat yang bisa mengerti". Anna tersenyum senang. Kemudian dia menyesap cokelat hangatnya dalam gelas dengan perlahan. "Zul apa tadi siang kamu pergi bersama kak Rey?".
"Iya sepulang sekolah tadi". Wajah Zul datar.
"Kalian pergi kemana?". Tanya Anna penasaran.
Zul tersenyum samar. "Pergi ke tempat yang indah, aku tidak tau nama tempatnya tapi ada sesuatu yang membuat jadi tak indah".
__ADS_1
"Apa itu?" Anna bertanya heran.
"Seperti yang ku katakan padamu tadi pagi dia selalu datang mendadak". Zul menyesap cokelat hangat miliknya Anna sabar menunggu kelanjutan cerita sahabatnya. "Termasuk ciumannya". Wajah Zul tetap datar.
"Apa? Maksudmu kamu dicium kak Rey?" Anna terkejut. Zul hanya tersenyum tanpa menjawab. "Jadi itu ciuman pertamamu?".
"Ya kamu tentu tau tanpa harus bertanya". Katanya. "Dan itu tanpa cinta". Wajah Zul terlihat sendu.
"Apa kau yakin kalau kak Rey tidak mencintaimu?". Anna memastikan isi hati dan pikiran Zul.
"Entahlah, tapi tadi dia mengatakannya".
"Mengatakan cinta? Apa kau menolaknya?". Sekali lagi Anna terkejut dengan pernyataan Zul.
"Ya karena aku belum percaya padanya". Kata Zul cepat.
"Kenapa?". Anna mengangkat alisnya.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kak Rey suka berkencan dengan cewek yang berbeda-beda". Zul mengingatkan kalimat yang pernah terucap dari bibir Anna.
Anna menepuk jidatnya dia hampir tidak menyangka perkataannya masih disimpan dalam memori otak sahabatnya itu. "Mungkin dia sudah berubah saat mulai mencintaimu".
"Semudah itukah?". Zul masih tak percaya.
"Tapi Zul...". Perkataan Anna tiba-tiba terpotong karena suara klakson motor berbunyi tiga kali dari luar rumah Zul. "Dia sudah datang".
"Berryl sudah menunggu, pergilah hati-hati". Ucap Zul pada sahabatnya. "Kita bicara besok lagi".
Anna menghela nafas. "Ya sudah aku pergi dulu".
Zul mengantarkan sahabatnya keluar. Di luar sudah ada Berryl dengan motor sportnya. "Jaga Anna awas saja kalau kau sampai menyakitinya". Ancam Zul pada Berryl.
"Tenanglah kawan". Berryl tertawa geli. "Ayo sayang". Menyuruh Anna naik ke atas motornya. Anna segera naik dan melambaikan tangan pada sahabatnya. Zul menunggu sampai sepasang kekasih itu tidak terlihat lalu dia beranjak masuk ke dalam rumah, kembali duduk di ruang tamu sendirian.
"Dia tidak mungkin mencintaiku, itu pasti hanya bualan semata. Kami sangat berbeda dari segala hal. Mana mungkin dia mencintai cewek kampungan". Zul tersenyum getir mengingat ucapan Rey saat memaki Zul di kantin.
__ADS_1
***