
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Zul telah sampai di sekolah. Dia mendapati sahabatnya yang sedang duduk sendirian di bangku koridor sekolah. "Hei selamat pagi Anna" senyum hangat Zul menyapa sahabatnya itu.
"Selamat pagi" jawaban Anna sama hangatnya dengan senyumnya. "Tumben amat kamu datang terlambat?"
"Hehe iya tadi kesiangan bangunnya" jawab Zul cengar-cengir menunjukkan gigi putihnya. "Ke kantin yuk lapar banget aku tadi gak sempet sarapan".
"Ayo aku juga ingin minuman dingin". Mereka berjalan menuju kantin sambil bergandengan.
Zul dan Anna duduk berdampingan di sebuah kursi panjang mengobrol sambil makan makanan yang dipesan tadi. Tiba-tiba Zul matanya terbelalak melihat pemuda itu dan temannya datang menghampirinya.
Mau apa dia kesini? Batin Zul merasa kalau pemuda itu akan mendekat dan gabung di tempatnya makan.
"Apa kau sudah sembuh atau tidak jadi sakit?" Pemuda itu tiba-tiba duduk tepat di depan Zul. Anna yang tadinya minum jadi tersedak makanan karena terkejut dengan kehadiran pemuda itu tiba-tiba.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk" Anna terbelalak melihat ketampanan pemuda yang sedang di hadapannya. Dia langsung menyambar minuman yang ada di depannya.
"Saya baik-baik saja tidak sakit" jawab Zul datar.
"Baguslah jangan lupa dengan apa yang kau pakai kemarin". Kata pemuda itu mengingatkan.
"Oh iya maafkan saya nanti sepulang sekolah saya akan mengantarnya ke rumah anda". Merasa tidak enak sendiri.
"Tidak usah simpan saja di lemarimu". Seru pemuda itu lalu berdiri. "Oh iya suruh temanmu untuk berkedip". Pemuda itu langsung beranjak meninggalkan dua gadis itu.
"Hei, bengong saja" Zul menyenggol bahu Anna dengan sikunya.
"Ah ya ampun ganteng banget baru kali ini aku melihatnya dari dekat". Anna terkagum. "Kamu kok bisa kenal?"
"Tidak, aku tidak mengenalnya memang siapa dia?".
"Apa kamu tidak mengenal?" Anna terkejut. "Tadi bicara dengan mu kok seperti sudah saling kenal?" Anna terheran.
"Siapa sih dia?" Desak Zul tanpa menjawab pertanyaan Anna.
"Dia itu kak Rey cowok paling ganteng, keren dan yang paling tajir di sekolah ini" Penjelasan Anna dengan antusias.
__ADS_1
Rey jadi itu namanya. Gumam Zul dalam hati.
"Sekolah ini kamu tau siapa yang menyokong sebagian dananya?". Tanya Anna. Zul menggelengkan kepala memberi tanda kalau dia memang tidak tau. "Ayah kak Rey, dia adalah anak konglomerat". Anna melanjutkan lalu menghabiskan minumannya. "Dan kamu tau dia itu dikejar banyak cewek, banyak cewek yang tergila-gila padanya". Tambahnya.
"Aku rasa dia biasa saja" Kata Zul datar.
Menepuk bahu Zul. "Aduh Zul kamu ini kok bisa-bisanya gak tertarik dengannya?". "Cewek mana coba yang bisa menolaknya?".
"Hmm memangnya dia sering jalan berganti-ganti cewek gitu?"
"Hehe gak tau sih" Anna cengar-cengir. "Tapi kamu tau rumor tentang dia sih katanya sering jalan dengan cewek berbeda-beda, dia juga suka pergi ke club malam gitu".
Ya ya orang kaya memang selalu sombong dan berlaku seenaknya sendiri, itu sudah biasa. Batin Zul dan bibirnya tersenyum samar.
Bel masuk berbunyi namun Zul tidak menyadari hingga ia tetap terdiam tidak bergeming sama sekali.
"Zul ayo kita ke kelas". Tapi tidak ada jawaban. "Zul, hei Zul". Anna memanggilnya berulang kali. "Hei ayo kamu tidak dengar bel sudah bunyi?". Hingga Anna menggoyangkan bahu sahabatnya itu.
Zul langsung tersadar dari lamunannya. "Oh iya ayo kita ke kelas".
***
Rey, Rey, Rey mengganggu terus. Gerutu Zul sambil mencoret-coret gambarnya dengan keras.
"Hei Zul kamu kenapa?" Anna menyenggol bahu Zul, melihat gadis itu mencoret-coret dengan gemas. Zul hanya diam memandang Anna. "Kenapa?" tanya Anna berbisik. Zul hanya menggelengkan kepala pelan.
Anna menepuk jidatnya dan mendengus kesal. "Susah ngomong dengan orang pendiam kaya ngomong dengan batu".
***
"Aku kemarin sempat ribut sama dia". Kata Zul lirih.
"Kok bisa? Apa yang membuat kalian ribut?".
"Dia menyerobot orang-orang yang mengantri makanan termasuk aku, dengan sombongnya dia mengatakan kalau aku cewek kampungan". Zul berceloteh dengan wajah kesal, menggebrak meja di depannya.
__ADS_1
"Hanya karena itu?" Anna mengangkat sebelah alisnya.
"Hanya? Anna... dia sudah berbuat seenaknya sendiri menunjukkan kalau dia tidak pernah menghargai orang". Raut wajah Zul semakin kesal.
"Lalu kenapa kamu bisa memakai jaket milik kak Rey?". Sergah Anna dengan pertanyaan.
"Itu... hanya kebetulan". Zul berkilah.
"Kebetulan yang bagaimana?". Tanya Anna menyelidiki.
"Waktu hujan kemarin dia mengikuti ku, dari berteduh hingga pulang ke rumah".
"Maksudmu? Aku tidak mengerti, jelaskan dengan benar jangan bertele-tele". Anna sudah jengah dengan kata-kata Zul.
"Hujan kemarin aku berteduh bersamanya, saat aku kedinginan dia memakaikan jaket padaku". Zul mendengus. "Saat hujan reda dia mengikuti ku sampai rumah, dan kamu tau anehnya setelah sampai rumah dia hanya berdiam diri dari jauh setelah aku masuk dia langsung pergi". Tambahnya.
"Wow manis sekali, mungkin kau target berikutnya".
"Target? Maksudmu?".
"Ya mungkin dia tertarik padamu juga ingin mendapatkanmu, dan ini langkah awalnya untuk mendekatimu". Kata Anna hati-hati.
"Mustahil". Singkat Zul.
"Kita tidak pernah tau mungkin nanti kau juga akan mencintainya". Anna menggoda.
"Hei dia bukan termasuk lelaki tipeku, kamu tau kan aku ingin cinta seperti apa lagi pula aku ingin belajar dulu dengan benar untuk membanggakan ayah". Ucap Zul ketus.
"Ya ya kau memang gadis penurut". Anna mengejek dengan tertawa kecil. "Jadi apa kita harus di kelas saja sampai nanti jam pulang?".
"Kau mau ke kantin lagi?". Zul tertawa kecil.
"Iya dong, aku juga ingin bertemu pujaanku". Anna terkekeh geli.
"Eh siapa? Semua cowok kalau tampan pasti akan jadi pujaanmu". Zul menggoda sahabatnya
__ADS_1
"Yang penting aku tidak terlihat centil". Kata Anna. "Sudah ayo cepat". Anna memasukkan buku ke dalam tas ranselnya begitu juga Zul melakukan hal yang sama. Mereka segera beranjak keluar dari kelas menuju ke kantin.
***