Cinta Buta

Cinta Buta
Kencan Pertama


__ADS_3

"Ya Hallo" suara seorang gadis mengangkat telepon saat sedang rebahan sambil membaca buku cerita.


"Apa ini dengan Zulia?" . Terdengar suara lelaki dari telepon.


"Ya dengan saya sendiri. Ini dengan siapa ya?".


"Rey".


"Oh kak Rey" jawab Zul gugup merapikan rambutnya padahal tidak terlihat oleh Rey. "Ada apa?".


"Tidak apa-apa cuma ingin menelpon saja". Rey tertawa kecil.


Zul mengerutkan keningnya. "Kak Rey dapat nomor HP-ku dari mana?".


"Itu tidak penting" Rey tertawa kecil. "Mari kencan, aku ada di luar rumah".


"Luar rumah? Rumahku?" Zul terkejut langsung berdiri dari tempat tidur.


"Iya tentu segeralah bersiap aku menunggumu".


"Tapi kak Rey..." ucap Zul terpotong karena telpon sudah dimatikan terlebih dahulu oleh Rey.


Hati Zul berdebar-debar tak karuan seolah jantungnya mau lari keluar. Zul membuka tirai jendela kamar dia melihat Rey ada di depan rumah, Rey melambaikan tangan ketika melihat Zul tengah berdiri di balik jendela.


***


Hembusan angin lembut menerpa wajah cantik Zulia. Zul sedikit canggung saat duduk di belakang Rey yang tengah mengendarai motor sportnya. Mereka memecah ke tengah keramaian kota memandang orang-orang berlalu lalang di jalanan.


"Mau kemana kita?" Tanya Rey memecah kecanggungan yang dari tadi.


"Terserah kak Rey saja". Zul hanya pasrah.


"Ke mall atau nonton?". Rey menawarkan kebiasaannya.


"Tidak, aku tidak terbiasa ke tempat seperti itu".


"Lalu? Kau terbiasa ke mana?".


"Aku jarang keluar rumah". Ucapnya. "Kalaupun ingin jalan-jalan pun biasanya ke pasar malam" Zul tertawa kecil.

__ADS_1


"Pasar malam?" Rey memicingkan mata. "Apa menyenangkan?".


"Ya sangat menyenangkan". Zul sangat antusias menjelaskan. "Di sana banyak sekali permainan, makanan semuanya ada, kak Rey pasti sangat suka pergi ke sana". Rey hanya tersenyum mendengar ocehan Zul.


"Oh maaf aku banyak bicara ya?" Suara Zul menurun. "Hanya menjelaskan saja".


"Tidak apa-apa jangan sungkan begitu". Rey menambah gigih motornya. "Pegangan kita akan pergi ke pasar malam".


Zul hanya mengangguk. Rey mengendarai motor dengan kecepatan tinggi membuat Zul semakin mengeratkan pelukannya. Rey hanya tersenyum penuh kemenangan.


***


Suasana malam ini sangat ramai para orang tua berteriak memanggil anak-anaknya yang berlarian ke sana kemari. Banyak wahana dari anak-anak sampai dewasa dan penjual berbagai macam makanan, pakaian, mainan juga dijual di pasar malam.


"Jadi kita mau main apa ini?" Rey dan Zul sudah memasuki keramaian tersebut.


"Ayo ikut aku". Zul menarik tangan Rey. "Kita akan naik bianglala".


Rey hanya menurut saja. Mereka berdua segera membeli karcis untuk naik ke bianglala.


Bianglala sudah berjalan berputar naik turun. Pemandangan dari atas sangat indah, lampu berkelap-kelip mengelilingi keramaian. Zul tampak sangat bahagia, bisa tersenyum lepas. Rey hanya memandangi dari depan sambil tersenyum.


"Maaf-maaf aku tidak sengaja". Zul kembali ke posisi semula. Rey hanya tersenyum.


"Kenapa ini bisa berhenti mendadak begini? Berhenti di paling atas lagi". Zul menggerutu.


"Nanti juga bakal berjalan lagi paling petugasnya lagi benerin mesinnya". Rey tertawa kecil. "Setelah ini kita main apa lagi?"


"Setelah ini kita main gelombang air". Zul menjawab dengan sangat bersemangat.


"Gelombang air? Apa kita akan mainan air dan basah-basahan, aku tidak membawa baju ganti Zul".


"Bukan mainan air". Zul tertawa kecil.


"Lalu?" Rey mengerutkan kening.


"Nanti juga tau". Zul tersenyum sumringah. Bianglala yang dinaiki Rey dan Zul kini sudah berjalan lagi. Dua kali putaran lagi kemudian mereka sudah turun.


Zul langsung menarik tangan Rey menuju permainan gelombang air. Permainan gelombang air adalah permainan seperti naik kapal yang terombang-ambing oleh gelombang tapi ini gelombang buatan manusia secara manual. Permainan ini tidak menguras tenaga tapi menguji adrenalin juga bisa membuat perut mual juga muntah. Seperti halnya Rey dia tengah muntah-muntah ketika turun dari wahana gelombang air.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa"?" Zul memijat tengkuk Rey yang membungkuk. "Ayo kita duduk di warung itu". Zul menuntun Rey.


"Sudah cukup tidak mau lagi naik permainan seperti itu". Rey terlihat lemas sambil duduk menyandarkan kepalanya di meja.


"Bentar aku pesan teh hangat dulu buat kamu". Zul beranjak dari duduknya. "Bu Teh hangat satu ya sama air putih ini". Mengambil botol air putih di depannya. Zul kembali duduk menemani Rey. "Baru saja dua permainan sudah nyerah saja".


"Kamu kok bisa sih gak mual. Asli kapok sudah aku naik itu". Rey masih lemas suaranya terdengar parau. "Cari permainan yang lain saja seperti masih terasa aneh ini perut".


"Ini neng tehnya silahkan". Ucap penjual menaruh teh di atas meja.


"Iya Bu terimakasih" Zul tersenyum si penjual kembali ke dalam warungnya. "Aku sudah terbiasa naik seperti ini". Zul menyodorkan gelas ke mulut Rey. "Nih minum dulu biar hangat perutnya". Rey menyesap teh hangat yang diberikan Zul. Sedikit merasa lega perutnya terasa hangat dan bisa bersendawa.


***


Tujuan mereka sekarang adalah ke rumah hantu. Zul dan Rey berjalan dalam kegelapan diiringi dengan suara-suara mengerikan seperti anjing menggonggong, serigala, lalu suara kuntilanak. Zul tidak merasa takut sama sekali tapi sebaliknya Rey sebagai lelaki sangat merasa takut dengan suasana yang mencekam saat ini.


"Ah jangan-jangan pergi sana pergi". Rey berteriak saat ada suster ngesot yang bergelayut di kakinya. "Zul tolong aku".


"Tendang kak Rey". Zul berteriak. "Lalu kita lari".


Rey menendang suster ngesot itu dan langsung berlari menggandeng tangan Zul. Tiba-tiba ada kuntilanak di depan mereka. Rey berteriak sangat keras. Zul hanya bisa mengusap telinganya. Kuntilanak tersebut didorong oleh Zul sampai terhuyung lalu mereka lari.


Tidak sampai disitu mereka berdua masih dihadang oleh berbagai makhluk, seperti tuyul, pocong, genderuwo, sundel bolong dan masih banyak lagi. Hantu-hantu itu hanya dikalahkan oleh Zul sedangkan Rey hanya berteriak ketakutan dan bergelayut di bahu Zul.


"Kak Rey penakut sekali" Zul tertawa terpingkal. "Itu kan hantu bohongan".


Rey terlihat malu sebagai lelaki. "Bukan takut tapi..." mencari alasan. "Cuma kaget saja mereka datang secara tiba-tiba".


"Ngeles saja jelas-jelas tadi sangat ketakutan". Zul masih tertawa terpingkal.


"Aku bilang tidak takut". Tidak terima dengan ejekan Zul.


"Baiklah kalau tidak takut sekarang kak Rey yang berjalan di depan aku di belakang". Zul menantang.


"Baik siapa takut".


Mereka mulai melanjutkan perjalanan yang gelap. Tiba-tiba ada lampu menyala Rey sudah berkeringat dadanya berdegup kencang. Lampunya tiba-tiba mati lagi Rey menelan ludah. "Aaa jangan-jangan jangan mendekat". Menghadap ke belakang memeluk Zul ketika melihat sundel bolong mendadak lompat di depan mereka. Zul tertawa terpingkal dan adu telapak tangan dengan sundel bolong.


***

__ADS_1


__ADS_2