
"Maaf, kamu sudah terlambat tidak bisa masuk". Ucap satpam sekolah menegur Zul yang berdiri di depan gerbang.
"Saya kan hanya terlambat sepuluh menit pak". Zul memaksa ingin masuk, melingkarkan jari jemarinya di jeruji gerbang. "Tolong pak saya berjanji hanya sekali ini saja terlambat, besok tidak akan saya ulangi lagi".
"Maaf, tidak ada toleransi bagi murid yang terlambat". Ucap satpam itu dengan tegas. "Jadi silahkan pergi dari sini dan tunggu skormu besok". Satpam itu pergi menuju pos yang sudah disediakan khusus untuk istirahat, tidak peduli dengan Zul yang memanggilnya berulang kali sambil memohon agar diperbolehkan masuk.
Suara knalpot motor terdengar halus namun jelas di belakang Zul tapi ia tidak menghiraukannya. "Hei". Seorang pemuda dengan terbungkus helm di kepalanya memanggil Zul berulang kali tapi Zul tidak menyahut. Ia masih sibuk memanggil satpam. "Sstt Zul". Kali ini klakson motor ikut memanggil Zul agar gadis itu menolah.
"Iya kenapa?". Zul menoleh, mengerutkan keningnya mencoba mengenali motor yang dinaiki pemuda itu. "Kak Rey?".
"Sini". Pinta Rey, ia mematikan suara motornya dan membuka kaca helmnya agar wajahnya dapat dilihat Zul. "Kau terlambat juga?".
"Menurutmu?". Suara Zul terdengar kesal. "Satpam itu sangat menyebalkan, padahal aku hanya terlambat sepuluh menit tapi tetap tidak diizinkan masuk".
"Yee namanya telat ya telat aja, mau berapa menit pun juga tetap telat". Kata Rey mencubit hidung mancung Zul. "Ayo ikut aku".
"Kemana? Kita bolos nih?". Zul masih memasang wajah yang kesal sambil menyilang tangannya di bawah dada.
"Bukan bolos. Kita kan tidak diperbolehkan masuk". Rey mengoreksi. "Lalu kita mau ngapain di sini lama-lama?".
"Tapi?". Zul masih ragu, karena ini pertama kalinya ia terlambat dan mengharuskan untuk tidak masuk sekolah.
"Udah gak ada tapi-tapian, buruan naik". Zul terlihat masih berpikir sebentar sambil menggigit bibir bawahnya. "Udah jangan kebanyakan mikir".
Akhirnya Zul mengikuti kata Rey. Ia naik ke atas motor dan Rey langsung tancap gas dan meninggalkan sekolah.
Hari yang masih pagi, mentari juga masih terasa hangat dari atas langit yang sedikit tertutupi oleh awan tipis. Angin yang menerpa wajah Zul juga sejuk membuat hati gadis itu merasa damai dengan suasan seperti itu.
Sesekali Zul memejamkan matanya merasakan kesegaran udara pagi hari diiringi dengan Rey yang mengendarai motornya dengan sangat santai membuatnya merasa betah.
"Kelihatannya kau sangat menikmatinya?". Rey memulai percakapan, karena sedari tadi hanya saling diam.
"Iya, ini rasanya sangat segar, terus ademnya sampai ke hati". Kata Zul sambil tersenyum. "Kita mau kemana?".
"Kamu maunya kemana?". Rey malah bertanya balik. "Kemana aja deh yang penting kamu suka".
"Kemana ya?" Zul sambil berpikir tapi ternyata ia juga bingung mau pergi kemana. "Aku juga tidak tau tujuan kita kemana". Zul terkekeh merasa konyol sendiri.
"Ke KUA?". Senyum Rey mengembang di balik kaca helmnya.
"Mau ngapain? Nikah? Kita kan masih sekolah".
__ADS_1
"Enggak. Siapa bilang mau nikah?". Rey makin antusias untuk menggoda Zul.
"Lah terus mau ngapain coba ke KUA?".
"Jadi saksi orang nikah". Rey tertawa terbahak, melihat wajah Zul yang berubah masam dari kaca spion motor. "Memangnya kau mau nikah sama aku?".
Zul hanya terdiam, tertunduk malu di belakang Rey. Otot-otot di pipinya terlihat sangat merah. Rey hanya tersenyum senang yang melihat Zul yang malu seperti itu.
"Mau ke rumah?". Rey menawarkan ia berpikir dari pada tidak ada tujuan sama sekali.
"Memangnya boleh?".
"Boleh". Rey menjawab dengan antusias. Zul mengangguk tanda ia setuju. Rey menambah gigih motor lalu menuju rumahnya.
Seorang penjaga gerbang membuka, menunduk lalu mempersilahkan Rey dan Zul memasuki halaman rumah. Motor berhenti tepat di depan rumah, Zul segera turun. Memandangi sekeliling halaman rumah juga bangunan yang ada di depannya dengan wajah kagum.
Seperti istana. Zul berdecak kagum, menggelengkan kepalanya pelan. Dia sudah pernah masuk ke rumah besar milik sahabatnya, Anna. Tapi rumah Rey lebih besar dari rumah Anna. Ternyata dia memang anak konglomerat, aku jadi minder kalau dekat dengannya.
"Mau di sini saja sampai nanti malam?". Rey menegur Zul yang sedari tadi hanya melihat-melihat sudut-sudut rumahnya.
"Eh iya". Zul tersadar dari kekagumannya, ia mengikuti Rey masuk ke dalam rumah. "Rumah kamu besar sekali, beda jauh dengan rumahku". Zul makin berdecak melihat isi dalam rumah Rey dengan perabotan yang sangat mewah tentunya dengan harga yang mahal juga. "Mungkin rumahku hanya setengahnya dari ini tapi lebih kecil sedikit sih". Zul meringis memamerkan giginya yang putih.
"Boleh?".
"Tentu. Aku tidak pernah membawa tamu hanya untuk duduk di ruang tamu, selalu ku persilahkan di ruanganku". Rey menggandeng tangan Zul menaiki tangga menuju kamar Rey. "Ya kecuali tamu itu tidak dekat denganku".
Zul mengikuti langkah Rey menuju kamarnya ia celingukan mencari sesuatu. " Sepi sekali, ayahmu tidak di rumah?".
"Ayah sedang di kantor. Dia tidak pernah di rumah, ya di rumah hanya numpang tidur saja". Jawab Rey seenaknya tapi itu memang faktanya. "Bi Inah bawa makanan juga minuman ke kamar". Rey berteriak memberi perintah pada pelayan.
"Baik den". Sahut bi Inah sedikit berteriak.
"Masuklah". Rey membuka pintu kamar mengajak Zul masuk. "Di sini kamu bebas, mau mandi, tidur, makan terserah anggap aja rumah sendiri".
"Wow seperti kamar hotel". Zul berdecak kagum melihat kamar Rey yang mewah juga luas.
Terdapat sofa juga meja di kamar Rey. Zul duduk bersisian dengan Rey menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia sebenarnya sedikit canggung, ia bingung sendiri mau berbuat apa di dalam kamar.
"Em adikmu mana?" Tanya Zul memecah keheningan yang tercipta beberapa menit lalu.
"Dia ke sekolah".
__ADS_1
"Oh gitu. Tadi kamu bilang semua tamu kamu ajak kesini?"
"Iya". Rey menjawab dengan santai.
"Jadi pasti banyak gadis yang sudah kesini?" Tiba-tiba wajah Zul berubah sedikit kesal.
"Gadis?" Rey mengangkat sebelah alisnya. "Tidak, aku tidak pernah membawa gadis ke sini. Kalau semua teman laki-laki aku bawa ke sini sih". Rey tersenyum memandang wajah Zul yang menurutnya sangat lucu kalau sedang kesal.
"Kenapa lihat-lihat?". Mata Zul melotot merasa kikuk sendiri.
"Kamu cemburu?". Tanya Rey masih dengan senyum manisnya.
"Siapa juga yang cemburu. Tidak ada yang cemburu". Tingkah Zul semakin kikuk, pipinya memanas. Ingin sekali ia berlari ke kamar mandi menenggelamkan wajahnya ke bak mandi.
"Lucu banget sih kamu". Rey makin menggoda Zul. Zul hanya terdiam mengalihkan pandangannya dari tatapan Rey. Cantik banget sih.
***
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para reader berkenan melakukannya.
Love you All***.
__ADS_1