Cinta Buta

Cinta Buta
Pura-pura Sakit


__ADS_3

Senja baru saja tenggelam meninggalkan suasana gelap. Zulia sedang bersantai di kamarnya, membaca buku sambil bersandar di tempat tidur adalah kesukaannya. Biasanya ia selalu menyeduh kopi untuk mengurangi rasa kantuk di matanya kalau buku yang ia baca sangat menarik jadi, ia harus sedikit memakan waktu tidur untuk tetap membaca di larut malam.


Tok tok tok! Seseorang di luar pintu kamar mengetuk pintu. "Nak, apa ayah boleh masuk?". Kata ayah lirih masih di balik pintu.


"Masuklah ayah". Sahut Zul dari dalam tanpa mengubah posisinya.


Ayah membuka pintu dan masuk. "Ada yang mencarimu di luar".


"Siapa yah? Anna?". Tanya Zul masih fokus pada bukunya. "Suruh saja dia masuk yah, tumben banget dia nunggu di luar".


"Bukan Anna".


"Lalu siapa?". Zul mengangkat wajah memandang ayahnya dengan mengerutkan keningnya.


"Ayah tidak tau namanya yang jelas dia pernah datang ke sini waktu pagi-pagi ayah mau pergi kerja". Ayah menjelaskan dengan raut wajah yang mencoba mengingat.


"Siapa?" Zul ikut berpikir. "Dia di sini?". Ia langsung spontan berdiri dari ranjangnya mengejutkan ayahnya.


"Untung ayah tidak mempunyai serangan jantung Zul". Kata ayah memegang dadanya karena terkejut. "Iya dia di sini, kamu ingat?".


"Katakan padanya, kalau aku tidak di rumah". Pinta Zul memasang wajah kesal.


"Tadi ayah sudah bilang akan memanggilmu jadi ayah suruh tunggu dulu". Kata ayah menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, wajahnya terlihat menyelidiki. "Sepertinya ada masalah nih".


"Apa sih ayah. Pokoknya ayah harus cari alasan, aku tidur atau lagi sibuk yang penting dia segera pergi". Wajahnya malah terlihat kesal, lalu Zul duduk di tepi ranjang.


"Apa dia menyakitimu? Katakan pada ayah, biar ayah kasih pelajaran sekarang juga". Ayah antusias karena melihat anaknya seperti benci pada seseorang ia juga ingin memakan mangsanya.


"Eh eh jangan gitu dong. Ini masalah anak muda, ayah tenang saja tidak ada yang menyakiti Zul". Zul berdiri mencoba menenangkan ayahnya.


"Hmmm sekarang ayah sudah mengerti". Ayah memegang dagunya.


"Mengerti apa?". Zul terlihat gusar kalau ayahnya akan bisa menebak.


"Dia pacarmu? Pasti kalian lagi berantem soal orang lain".


"Ih bukan, dia bukan pacarku. Sudah ayah sana katakan kalau aku sedang sibuk atau apa terserah ayah" Zul merengek mendorong ayahnya keluar kamar tidak ingin berdebat. Ia juga sedikit lega karena tebakan ayahnya salah.


Lalu Zul menutup pintunya kembali, menguncinya dari dalam. Ayah keluar menemui tamunya yang dari tadi menunggu di luar dengan gelisah.


"Ehm". Ayah batuk pelan agar tamunya tau kalau ia sudah keluar.


"Eh om, Zulia mana?". Tanya Rey langsung berdiri dari duduknya mendekati ayah yang berdiri di ambang pintu.


"Emm Zul tidak bisa menemui mu nak, maaf". Wajah ayah menundukkan berusaha mencari alasan. "Dia sedang sakit, katanya kepalanya sakit". Ayah berkilah.


"Sakit? Kok bisa? Apa dia sudah dibawa ke dokter? Kalau belum biar aku saja om yang mengantar Zul". Tiba-tiba wajah Rey terlihat cemas tanpa pura-pura.

__ADS_1


"Iya sudah, tadi dia sudah minum obat jadi sekarang dia sedang istirahat". Ayah berkilah lagi. "Sebaiknya kamu pulang nak, besok bisa datang lagi kalau Zul sudah baikan".


"Bener om Zul tidak apa-apa?". Rey masih ingin memastikan.


"Iya dia tidak apa-apa".


"Baik kalau gitu saya pamit om". Rey mengulurkan tangan, menciumnya dan beranjak pergi.


Saat Rey berjalan ayah langsung menutup pintunya tidak ingin melihat jika Rey sudah tidak kelihatan punggungnya.


Dia sudah masuk, aku ingin melihat keadaan Zul. Rey berjalan perlahan-lahan bak seorang maling. Ia menuju jendela kamar Zul. Kenapa aku jadi cemas dengannya, ah persetan yang penting aku tenang kalau sudah melihatnya baik-baik saja.


"Sstt, sstt, sst" Rey mencoba memanggil Zul dari luar jendela.


"Siapa? Maling ya?" Zul berdiri spontan ia langsung sigap mengambil alat pukul.


"Eh mana ada maling memanggil?". Kata Rey setengah berbisik. "Buka dulu".


Iya ya mana ada maling memanggil. Zul mentertawakan dirinya yang konyol.


Zul perlahan membuka jendela tapi ia tetap jaga-jaga dengan alat yang ia bawa takutnya kalau ia akan dalam bahaya.


"Kak Rey". Zul terkejut setelah membuka jendela.


"Jangan keras-keras nanti ayahmu dengar". Suara Rey seperti berbisik. Lalu ia melompat dari jendela masuk ke dalam kamar Zul.


"Loh loh ngapain masuk nanti ada yang lihat bisa bahaya". Zul terlihat cemas berusaha mendorong tubuh Rey agar keluar dari kamarnya.


Zul menepuk dahinya. "Ada apa? Jangan keras kepala deh jadi orang itu".


"Katanya kamu sakit? Mana yang sakit? Sudah ke dokter? Sudah minum obat?". Rentetan pertanyaan diajukan pada Zul sambil memegang dahi, pipi, tangan gadis itu hingga Zul hanya bisa melongo.


Pasti ini karena ayah. Zul bisa menebak alasan ayahnya yang diberikan pada Rey.


"Mana yang sakit katakan padaku". Rey masih terlihat cemas.


"Sudah mendingan kok, nih nih gak panas kan?". Zul meletakkan tangan Rey ke dahinya. "Gak panas kan, aku sudah baik-baik saja. Sekarang kamu pulang ya".


"Tidak, aku tidak akan pulang sebelum kamu tidur istirahat dengan tenang".


"Apa kau gila?" Zul setengah berteriak dengan kesal. "Nanti kalau ada yang lihat gimana? Nanti kalau ayah tau gimana?".


"Tenang, tidak akan ada yang tau, aku akan diam saja duduk di sampingmu saat kau tidur nanti". Rey bersikeras dengan keinginannya.


"Tapi kak Rey...". Kata-kata Zul terpotong.


"Sssttt...". Rey meletakkan jarinya di bibir Zul. Zul seketika membisu. Rey berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri. "Nyaman juga tempat ini".

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?". Zul menghampiri Rey dan menarik tangan pemuda itu.


"Rebahan". Jawab Rey dengan santai.


"Dasar kepala batu". Zul menggerutu kesal. Ia duduk di meja belajar menyibukkan diri dengan buku-bukunya tidak ingin menggubris Rey.


"Zul...". Suara ayah memanggil dari luar. "Ayo nak kita makan malam".


Seketika Rey berdiri dari tempat tidur dengan khawatir. Zul juga terlihat sangat cemas. Ia bingung mondar mandir menyeret Rey kesana kemari untuk menyembunyikan pemuda itu.


"Di sini". Zul menyuruh Rey bersembunyi di bawah kasur. "Tidak nanti ayah bisa tau, oh ya di sini". Zul menyeret Rey ke lemari menyuruhnya ia sembunyi dalam lemari.


"Aku di dalam lemari? Nanti kalau aku tidak bisa nafas bagaimana?".


"Sudah ini hanya sebentar".


"Zul... kamu sedang bicara dengan siapa?" Panggil ayah sekali lagi mencoba membuka handle pintu namun untungnya terkunci.


"Iya ayah sebentar". Zul berteriak. Setelah Rey sudah masuk dalam lemari Zul membuka pintunya. "Sudah yah ayo kita makan". Ucap Zul gugup dahinya berkeringat.


"Kamu bicara sama siapa?". Ayah ingin memastikan, celingukan mencari-cari orang di kamar putrinya.


"Oh itu, tadi Zul lihat video di HP". Zul berkilah.


"Oh yaudah ayo kita makan".


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Jangan lupa like dan komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi kalian. Author sangat berterima kasih kalau para readers berkenan melakukannya.


Love you All***.


__ADS_2