
Matahari terbit membawa kehangatan untuk seluruh penghuni bumi termasuk Zul. Masih terbalut selimut dari ujung kaki sampai rambut terlihat gadis cantik itu menggeliat berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya. Zul menguap lalu beranjak dari tempat tidur menuju jendela yang masih tertutupi oleh tirai. Zul membuka tirai dan jendela menghirup udara pagi yang segar seraya berdoa dalam hati sambil memejamkan mata. Semoga hari ini menjadi hari yang baik. Dan alangkah terkejutnya saat Zul membuka mata sudah mendapati Rey telah berdiri di depan rumahnya dan sudah mengenakan seragam sekolah.
"Kak Rey ada disini?". Gumam Zul heran.
Ponsel Zul berdering. Zul segera mengambil ponselnya yang terletak di atas ranjang di samping bantal kemudian mengangkat panggilan masuk. "Ya hallo, kenapa kak Rey berdiri di luar?". Zul langsung tanya pada intinya tanpa basa-basi.
"Bersiaplah aku menunggumu, bye". Rey langsung memutuskan panggilan. Zul masih terdiam heran lalu mengambil nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
***
"Hai selamat pagi". Sambut Rey dengan senyuman sehangat mentari pagi.
"Selamat pagi". Zul menerima sambutan Rey. "Sepada?". Zul mengangkat alis. "Punya kak Rey?".
"Iya ini punyaku marilah aku akan membawamu dengan sepeda ini". Menepuk-nepuk boncengan sepeda.
"Tapi kan aku akan bawa sepeda sendiri".
"Tinggalkan saja hari ini kita akan naik sepeda ini dan mengajakmu berkeliling nanti setelah pulang sekolah". Ucap Rey semangat. "Ayolah". Zul hanya mengangguk setuju.
Jantung Zul berdebar-debar tak karuan, badannya terasa panas dingin, tangannya terasa gemetar. Dalam perjalanan Zul masih terasa canggung kalau berdekatan dengan Rey. Rey membonceng Zul menyibak jalanan pagi hari dengan pancaran matahari yang masih terasa hangat. Melihat orang-orang berlalu lalang di jalanan berpergian menjemput rejeki dan juga anak-anak yang sedang berangkat menimba ilmu.
"Zul?". Rey memulai percakapan tanpa menoleh ke belakang.
"Hem". Jawab Zul singkat.
"Aku mau minta maaf". Masih fokus ke jalanan.
"Minta maaf? Soal apa?". Zul mengerutkan kening berpikir sejenak Rey punya kesalahan apa sehingga membuatnya mengatakan maaf.
"Waktu kita pertama kali bertemu di kantin aku sempat marah-marah dan ngatain kamu dengan kata-kata buruk". Ucap Rey hati-hati.
"Oh soal itu. Sudah lupakan, anggap saja itu perkenalan kita". Zul tersenyum simpul.
"Jadi kamu maafin aku?". Rey memastikan sekali lagi.
"Kalau aku belum maafin kamu mana mungkin semalam kita pergi bersama". Ucap Zul diiringi senyuman.
"Iya juga sih". Rey tertawa kecil. Mereka berdua saling bercerita dalam perjalanan menuju sekolah, bercanda hingga keduanya saling tertawa lepas.
__ADS_1
"Kita sudah sampai". Rey mengerem sepedanya.
Zul turun dari sepeda. "Terimakasih ya. Aku ke kelas dulu".
"Tidak ingin ke kantin dulu?". Rey menawarkan.
"Tidak, Anna sudah menungguku".
Rey hanya mengangguk. Zul segera pergi menuju kelas. Para gadis memandangi Zul dan Rey dengan heran. Anak orang kaya seperti Rey kok bisa mau menaiki sepeda. Beruntung Zul bisa dekat dengan cowok tajir juga tampan. Itu yang dipikirkan para gadis tersebut.
***
"Aku tidak menyangka kamu bisa sedekat itu dengannya?". Ujar Anna sambil menghabiskan jus di dalam gelas. Terdengar gesekan es batu saat Anna tetap menyedotnya.
"Aku juga tidak tau. Dia selalu mendadak saat datang, tapi anehnya aku tidak bisa menolak". Ucap Zul sambil tersenyum samar.
"Kalau begitu kau suka dengannya". Anna menyimpulkan dengan sesukanya.
"Suka? Mana mungkin. Aku baru mengenalnya. Aku cuma merasa tidak enak kalau harus menolaknya karena dia sudah jauh-jauh datang ke rumahku". Zul berkilah.
"Tapi kak Rey suka kan denganmu?". Anna memastikan.
"Entahlah ku rasa tidak". Zul memainkan makanannya yang ada di mangkuk.
"Hey sayang duduklah". Anna mempersilahkan lelaki itu dengan senyuman. "Zul kenalkan ini pacarku Berryl". Menatap Zul lalu berganti menatap Berryl.
"Hai senang bertemu denganmu". Berryl mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Zul.
"Zul sahabat Anna". Zul mengenalkan dirinya seraya menerima jabatan Berryl.
"Aku tidak perlu memberi tahu namaku karena pasti Anna sudah banyak cerita tentangku benarkan sayang?". Berryl tertawa kecil dan kedua gadis itu juga iku tertawa.
"Ya itu memang benar sekali". Ucap Zul.
"Ternyata kalau dilihat dari dekat kau lebih cantik dari dugaan ku". Pujian Berryl membuat pipi Zul dipenuhi semburat merah dan merasa tidak enak dengan Anna.
"Ehem" Anna batuk dengan dibuat-buat dan menyilangkan kedua tangannya di bawah dada sembari memainkan alis naik turun pada Berryl.
"Hehe maksudku kamu cantik pantas saja Rey suka padamu". Ucap Berryl gugup karena mata Anna tidak bergeser darinya.
__ADS_1
"Kamu bisa saja tidak ada yang seperti itu". Rona pipi Zul bertambah merah.
"Nanti malam kalau kamu ada waktu kita pergi nonton sama-sama mumpung besok hari Minggu". Berryl menawarkan ajakan pada Zul.
"Kita bertiga?"
"Tidak ada ka..." Ucap Anna terpotong karena kakinya diinjak oleh pacarnya.
"Ya kamu bisa bergabung dengan kami benarkan sayang?". Jawab Berryl cengengesan sambil menatap Anna dengan senyum yang terpaksa.
"Baiklah sampai bertemu nanti malam". Zul tersenyum. "Ayo Anna kita ke kelas".
"Kamu duluan saja aku mau bicara dulu dengan Berryl".
"Baiklah". Zul menghabiskan minumannya terlebih dahulu lalu beranjak pergi dari hadapan sepasang kekasih itu.
"Kenapa kamu menginjak kakiku? Kamu pikir ini tidak sakit?". Anna berbicara ketus lalu mengerucutkan bibirnya. "Menyebalkan".
"Maaf sayang maaf aku reflek tadi". Berryl memegang tangan Anna. "Kamu tadi hampir saja mau mengatakan kalau nanti malam kita pergi bersama Rey".
"Memangnya kenapa kalau aku mengatakan itu?".
"Aku tidak bisa memberitahu padamu, yang ada nanti kamu bocorin ke Zul". Wajah Rey penuh rahasia.
"Kenapa? cepat bilang awas saja kalau sampai menyakiti Zul". Anna memaksa sambil mengancam pacarnya.
"Tidak-tidak itu tidak benar". Berryl membela dirinya sendiri.
"Lalu?" tatapan Anna menyelidiki.
Berryl menarik nafas panjang lalu membuang perlahan. "Ada kejutan untuk Zul nanti malam, nanti malam Rey akan mengungkapkan isi hatinya".
"Kejutan?" Anna menganga. "Yang bener?" Anna masih menyelidiki.
"Tentu saja sayang. Janji jangan bocorkan pada Zul". Berryl mengacungkan kelingkingnya.
"Iya-iya janji". Anna melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Berryl. "Kalau begitu aku ke kelas dulu ya" Anna hendak mencium pipi pacarnya segera bibirnya ditahan oleh tangan Berryl.
"Eh jangan sembarangan mau masuk ruang BK kamu". Suara Berryl terdengar seperti bisikan.
__ADS_1
"Iya aku lupa kalau ini di sekolah". Anna cengengesan kemudian dia hanya menempelkan dua jari ke bibirnya lalu berganti jarinya ditempelkan ke bibir Berryl. Anna berjalan pergi meninggalkan pacarnya. Sedangkan Berryl hanya tersenyum sambil menunggu Anna sudah tidak terlihat lagi.
***