Cinta Buta

Cinta Buta
Hadiah Pertama


__ADS_3

"Ah gagal lagi". Zul terlihat kesal saat mencoba menjatuhkan pin-pin kecil dengan bola boling kecil yang dilemparnya. "Sudah sepuluh kali tapi tetap gagal, ini mulai membosankan". Kini Zul putus asa.


"Sini coba aku yang lempar". Zul memberikan lima bola boling kecil, Rey kini mencoba melemparkan bola ke pin-pin di depannya tapi gagal. "Akan aku coba lagi". Tapi ternyata gagal lagi lemparan kedua.


"Sudahlah kamu gak akan bisa". Sahut Zul melihat kegagalan Rey.


"Eh diam dulu akan aku coba lagi, masih ada tiga bola". Kini Rey sangat fokus memandang pin-pin tersebut dan berhati-hati melempar bola. Tapi ternyata tetap gagal bahkan lemparan yang ketiga pinnya bergerak pun tidak.


Rey sangat geram sendiri. Dia mencoba lagi lemparan yang keempat sangat fokus dan hati-hati tapi hanya menjatuhkan satu pin. "Ah sial". Rey mengumpat dengan frustasi.


Lelaki ini terlihat kesal dan menyerah dan dia melempar bola terakhir dengan kasar tapi ternyata dia bisa menjatuhkan semua pin. Rey menganga melihatnya. "Yes berhasil, aku berhasil". Rey berteriak gembira. Zul juga tercengang kenapa harus hati-hati kalau dengan amarah bisa menjatuhkan lawan begitu yang dipikirkan Zul.


"Nih buat kamu". Rey memberikan boneka beruang besar hadiah dari permainannya tadi.


"Buat aku?". Tanya Zul ragu untuk menerima.


"Ya buat kamu". Rey tersenyum. "Biar bisa kamu peluk saat kamu mau tidur". Rayunya membuat pipi Zul merah merona. "Ayo kita lihat-lihat lagi". Rey menggandeng tangan Zul.


Mereka berjalan beriringan melihat-lihat baju, aksesoris siapa tau ada yang cocok begitu pikir Rey. Zul tertarik pada gantungan HP berbentuk boneka pasangan *putri dan pangeran*. Zul memegang sebentar lalu mengembalikannya lagi ke tempatnya lantas tersenyum.


"Kenapa dikembalikan?". Rey menghampiri setelah melihat-lihat aksesoris.


"Tidak apa-apa". Zul memasang senyum yang manis.


"Kau suka?".


Zul mengangguk. "Tapi itu satu pasang tidak bisa beli terpisah".


"Kau pikir aku tidak mau memakai gantungan yang satunya". Rey tersenyum lalu mengambil gantungan itu untuk diserahkan ke penjual. Penjual itu membungkus gantungan itu setelah Rey membayarnya.


"Kau membelinya?".


"Tentu, nih pasang sekarang di HP-mu". Memberikan boneka putri kepada Zul. "Dan ini untukku". Mereka memasang gantungan ke HP mereka masing-masing lalu menunjukkan gantungan itu bersamaan dengan tertawa nyengir bersama.


***


"Bagaimana menyenangkan bukan?". Tanya Zul sambil menaruh dua piring ketoprak disusul penjual dengan membawa dua teh botol. "Apa masih lebih menyenangkan nonton atau pergi ke mall?".


"Lebih menyenangkan disini. Baru pertama kali aku pergi ke tempat beginian". Rey memandang ketoprak dengan aneh. "Makanan apa ini?".

__ADS_1


"Orang kaya mana mau pergi ke sini". Suara Zul terdengar seperti mengejek. "Ini namanya ketoprak cobain deh pasti ketagihan". Rey masih memandang makanannya tidak menghiraukan perkataan Zul yang menyinggung orang kaya. Zul melihat sambil tersenyum. "Jangan dipandang terus nih cobain dulu". Zul menyuapi Rey. "Gimana? Enak?".


"Lumayan enak juga". Sambil merasakan makanan yang baru pertama kali dia makan. Rey melanjutkan makan sendiri mengambil sendok yang dipegang Zul. "Sudah kamu juga makan". Zul mulai makan ketoprak dengan sangat menikmati.


"Oh ya besok kalau pergi ke sekolah aku jemput ya". Ucap Rey masih penuh makanan di dalam mulutnya.


"Telan dulu baru bicara". Zul tertawa di sela-sela makannya. "Besok aku bawa sepeda sendiri".


"Kok tumben kenapa?".


"Iya biar gak capek jalan kaki terus". Zul tersenyum simpul. "Setelah ini kita pulang ya sudah mau pukul sepuluh nih ayahku pasti sudah pulang dari kerja".


"Baru juga pukul sepuluh". Sebenarnya Rey masih keberatan untuk pulang.


"Nanti ayah mencari ku karena khawatir, aku kan anak perempuan jadi tidak boleh terlalu malam kalau keluar rumah". Berhenti mengunyah sejenak.


"Padahal di luar masih banyak anak perempuan jam segini keluyuran". Rey masih protes.


"Itu urusan mereka". Zul tersenyum.


"Baiklah, kamu gak bawa oleh-oleh dulu untuk orang di rumah?". Rey menawarkan. kini ketoprak punya Rey telah habis.


"Oh iya nanti kalau gak keberatan kita mampir beli martabak telur dulu kesukaan ayahku".


***


Suara handle pintu berbunyi. Zul masuk ke ruang utama sambil celingukan mencari-cari orang di rumah. "Dari mana Zul? Jam segini kok baru pulang?". Suara ayah tiba-tiba dari dalam mengejutkan Zul.


"Eh ayah sudah pulang". Zul bersalaman mencium tangan ayahnya. "Zul habis dari pasar malam, nih martabak telur kesukaan ayah". Menyodorkan satu kotak martabak telur yang terbungkus plastik.


"Lain kali kalau keluar pulangnya jangan malam-malam". Ayah menggelengkan kepala lalu menerima bungkusan tersebut. "Kamu sudah makan?".


"Sudah, tadi makan diluar". Zul cengengesan.


"Pergi sama siapa tadi? Itu... boneka besar sekali dapat dari mana?".


"Sama... teman Zul yah, ini hadiah dari teman Zul". Kata Zul sedikit gugup. "Ya sudah yah Zul ke kamar dulu mau tidur". Zul berkilah langsung lari menuju kamarnya. Ayah menggelengkan kepalanya sekali lagi karena melihat tingkah putrinya yang tidak biasa.


Di kamar Zul sangat bahagia, dia memeluk bonekanya sambil berputar-putar seperti orang yang sedang berdansa dengan pasangannya. Lalu dia duduk di tepi ranjang mengambil HP di tas kecilnya, memandangi gantungan itu dengan tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi bahagia sekali? Dia sangat manis". Ucap Zul tanpa melepaskan senyuman di bibirnya.


***


"Hallo". Zul mengangkat teleponnya yang berdering saat dia sedang mainin gantungan HP-nya.


"Ku kira kau sudah tidur". Ucap Rey dari dalam telepon.


"Belum mengantuk, kak Rey tidak tidur?". Zul tersenyum samar.


"Aku lagi di luar sekarang".


"Kok belum pulang ini kan sudah malam". Kata Zul.


"Maksudku teras rumah". Rey meralat perkataannya.


"Oh... Apa lagi tidak bisa tidur?".


"Iya, kamu sih ganggu aja". Rey menggoda.


"Aku? Seharusnya aku yang bilang begitu". Zul mengerucutkan bibirnya walau tak terlihat oleh Rey.


"Mengganggu pikiran ku". Rayunya lagi. "Tapi kalau aku menganggumu sih itu rencanaku". Rey tertawa kecil. "Supaya kau selalu memikirkan aku".


"Gombal amat". Zul tertawa. "Sudah itu saja yang ingin dibicarakan?".


"Apa kau sudah mengantuk?"


"Sedikit". Ucap Zul singkat sambil menguap.


"Ya sudah tidurlah, semoga mimpi aku".


"Kalau aku tidak mimpi kamu?". Tanya Zul penasaran.


"Aku jadi khawatir".


"Khawatir kenapa coba?". Zul mengerutkan keningnya.


"Khawatir kalau kamu tidak memikirkan aku lagi". Rey tertawa keras. "Ya sudah tidur ya Zul, sampai bertemu besok". Rey memutuskan panggilannya.

__ADS_1


Zul memandangi HP-nya dan tersenyum. Terasa seperti mimpi lelaki yang beberapa hari lalu telah membuat amarahnya memuncak kini telah membuat hatinya mekar seperti bunga-bunga. Zul tidak mengerti dengan yang kini dirasakannya apakah itu cinta atau tidak. Karena dia juga belum pernah merasa jatuh cinta.


***


__ADS_2