
Sebuah mobil dengan body warna merah berhenti di halaman rumah yang terlihat sederhana namun nyaman untuk dipandang karena memang penghuni rumah itu selalu menjaga kebersihan.
Jadi ini rumahnya, baiklah tidak perlu cemas dia jauh berbeda dari kasta mu Sanju. Batin seorang gadis yang masih duduk di dalam mobil memandang rumah di depannya penuh teliti dengan meyakinkan dirinya sendiri.
Perlahan gadis itu turun dari mobil lalu berjalan menuju depan pintu. Gerakan tangannya sedikit menggantung ragu untuk mengetuk pintu. Akhirnya dia beranikan diri.
Tok tok tok! Suara ketukan pintu beberapa kali, tapi belum ada jawaban dari dalam. Apa dia tidak di rumah ya?. Sanju sudah membalikkan badannya dan akan kembali besok lagi, niatnya.
Suara pintu terbuka Sanju kembali melangkah lagi ke sumber suara. "Iya siapa...?". Zul tertegun melihat kedatangan Sanju. Padahal ia tau bahwa mereka tidak pernah saling sapa.
"Hallo". Sanju mengulurkan tangannya, Zul menerima tangan itu tapi tidak berkata apa-apa. "Aku Sanju. Em apa benar ini rumah Zulia?".
"Iya dengan saya sendiri, ada keperluan apa ya?". Kata Zul masih dengan sisa wajah terkejutnya.
"Boleh aku masuk, biar enak bicara di dalam". Sanju meminta izin dengan ragu.
"Ya silahkan masuk". Zul berjalan masuk diikuti Sanju di belakangnya. "Silahkan duduk. Mau minum apa?".
"Tidak usah repot-repot". Sanju menolak dengan suara halus namun pandangannya mengelilingi ruangan wajahnya tergambar seperti geli melihat ruangan sempit itu. Bagaimana selera Rey bisa turun drastis?. Batin Sanju.
"Jadi, ada keperluan apa nona...?" Wajah Zul seperti mengingat-ingat. "Siapa tadi namanya? Oh nona Sanju?".
Sanju sedikit bingung untuk memulai dari mana dia harus bicara. Bahkan ia tidak punya bahan obrolan basa-basi karena mereka memang baru pertama kali ini berhadapan dua mata.
"Apa kau mengenal Rey?". Akhirnya kalimat itu yang dipilih Sanju untuk memulai setelah beberapa detik memikirkannya.
"Iya, aku mengenalnya". Zul mengiyakan tanpa ragu.
"Apa kau dekat dengannya?". Pertanyaan Sanju masih terdengar cair.
"Ya aku dekat tapi belum lama ya karena aku baru mengenalnya". Kata Zul tanpa menutup-nutupi satu pun kata-katanya.
__ADS_1
Sanju menarik nafas, tarikan nafasnya seperti hati-hati atau lebih tepatnya ragu untuk melanjutkan tapi ini memang keinginan hatinya. Aku harus berjuang meski ini cara sedikit kotor.
"Kenapa?". Zul menatap menyelidiki, dia ingat kata-kata Rey tentang gadis ini.
"Dia yang menciumku dulu. Sanju terus saja mengejarku".
Gadis secantik ini seharusnya bisa mendapatkan siapa saja. Apa istimewanya kak Rey coba dia sampai mengejar-ngejar? Dan ciuman yang dia minta astaga apa benar dia senekat itu?. Zul bergumam dalam hatinya.
"Bukan maksudku untuk menjauhkan mu dari Rey atau menjatuhkan nama Rey di depanmu. Tapi sebelum ini terlambat dan kau akan menyesal". Sanju membenarkan rambutnya yang terjuntai maju untuk diarahkan ke belakang daun telinga. "Kau hanya taruhan untuk Rey yang harus ia dapatkan".
"Maksudnya? Taruhan? Aku tidak mengerti". Zul mengerutkan keningnya.
"Rey membuat taruhan dengan Berryl. Berryl menantangnya kalau Rey bisa mendapatkan mu dia akan memberi apapun yang diinginkan Rey". Akhirnya rahasia itu terbongkar dari mulut Sanju.
"Apa?". Zul terkejut, ia mengepalkan tangannya. "Dari mana kau tau?". Sekarang pertanyaannya sedikit ragu karena memang dia belum mengenal Sanju dengan baik takutnya gadis itu berbohong.
"Aku mendengarnya sendiri waktu tadi di kantin. Kalau kau tidak percaya kau bisa menanyakan pada Rey sendiri atau pada Berryl". Kata Sanju meyakinkan provokasinya. Zul terlihat sangat marah walaupun dari raut wajahnya saja. "Baiklah kalau begitu aku pamit dulu. Karena memang aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin ada yang tersakiti lagi cukup aku saja yang merasakan luka dari Rey". Nada suara Sanju sedikit memelas. Lalu ia beranjak pergi dari kediaman Zul.
***
Zul menangis sejadi-jadinya dia terduduk lemas di tepi ranjang, suaranya pecah dalam ruangan. Dadanya sesak mengingat ciuman Rey. Bahkan aku sudah berani ciuman hanya dengannya. Bagaimana aku bisa sangat bodoh bisa termakan kata-katanya. Dan taruhan? Apa aku gadis yang hina hanya bisa didapatkan dengan taruhan?.
Suara gagang pintu terbuka perlahan. "Zul!". Anna sedikit berlari menghampiri sahabatnya yang terduduk lemah dengan tangisnya.
"Anna!". Zul langsung memeluk Anna dengan erat. Hanya Anna tempat satu-satunya menenangkan diri. "Dia jahat! Dia jahat! Aku benci dia".
"Kamu kenapa? Siapa yang jahat?". Anna masih memeluk Zul sambil mengelus rambutnya pelan. "Tenang ya. Kita duduk di atas dan tenangkan dirimu dulu".
Anna membantu Zul duduk di atas ranjang, menenangkan sahabatnya agar lebih tenang dan bisa bercerita tentang masalahnya.
"Sekarang ceritakan padaku. Ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?". Kata Anna membuka kebisuannya setelah memastikan kalau sahabatnya memang sudah tenang.
__ADS_1
"Kak Rey...". Zul memulai tapi kata-katanya menggantung disertai isakan tangis yang tersisa. "Dia mempermainkan aku".
"Katakan dengan jelas". Anna sudah tidak sabar.
"Kau tau, Berryl menantang kak Rey supaya kak Rey mendapatkan aku". Suara Zul sedikit meninggi.
"Berryl?". Anna semakin tidak mengerti.
"Iya. Berryl kekasihmu. Dia taruhan dengan kak Rey. Dia menantang kak Rey kalau kak Rey bisa menjadikan aku sebagai kekasihnya maka Berryl akan memberikan apapun pada kak Rey. Karena Berryl pikir kak Rey tidak mungkin bisa mendapatkan aku dengan dinginnya sikapku pada lelaki". Penjelasan Zul panjang lebar sampai ia kembali menangis dan menunduk.
"Siapa yang bilang?.
"Mantan kak Rey. Sanju". Zul menatap sahabatnya sendu.
"Tidak mungkin Berryl seperti itu". Anna sedikit ragu.
Ternyata cinta mengubah semuanya bahkan kepercayaan pada orang terdekat. Wajah Zul sangat jelas kecewa dengan tanggapan sahabatnya. "Apa sekarang kau tidak percaya padaku?".
"Bukan begitu maksudku Zul?".
"Lalu seperti apa maksudmu? Maksudmu aku berbohong?". Zul semakin marah. "Tidak masalah kau tidak percaya. Kau bisa percaya kekasihmu itu. Mereka memang penipu".
"Zul tenanglah. Yang aku maksud bukan kau yang pembohong tapi Sanju". Kata-kata Anna meredakan amarah Zul.
"Aku tidak tau mana yang benar dan mana yang salah. Aku benci semuanya". Zul memeluk Anna dengan menangis sesenggukan. "Aku benci semuanya. Memang dia pikir aku sehina itu bisa dibuat taruhan seenaknya. Aku benci dia. Dia penipu".
"Sudah tenanglah, besok aku akan bicara pada Berryl". Anna melepaskan pelukannya. Mengambil gelas yang terletak di atas meja. "Minumlah".
"Benarkah?". Zul ingin memastikan untuk ketenangan hatinya sebelum meneguk air. Anna mengangguk dan tersenyum.
***
__ADS_1