
Pertunjukan telah usai begitu juga dengan Zul yang telah berganti seragam sekolah lagi dan akan segera pulang. Zul pulang biasa dengan berjalan kaki karena memang rumahnya dari sekolah tidak terlalu jauh. Air dari langit mulai turun yang sedari tadi awannya menghitam, Zul sedang berlari-lari mencari tempat untuk berteduh.
"Aaaaw". Teriak Zul tiba-tiba karena kakinya tergelincir. Kedua orang itu saling bertatapan mata saat seorang pemuda menangkap Zul dengan keadaan setengah memeluk. Pandangan itu semakin lekat pada bola mata hitam mereka seperti tidak ingin berkedip sedikit pun. Suara petir yang tidak terlalu menggelegar itu lalu menyadarkan Zul dan pemuda itu.
"Lepaskan, kau jangan peluk-peluk". Ketus Zul segera melepaskan pelukan pemuda itu.
"Dibantuin bukannya terimakasih malah ngomel". Pemuda itu melotot tidak terima.
"Baiklah terimakasih". Zul segera berjalan meninggalkan pemuda itu. "Jadi basah kan". Gerutu Zul sambil masih terus berjalan.
"Hei ucapkan terimakasih dengan benar". Seru pemuda itu berusaha menyeimbangi langkah kaki Zul.
"Ribet amat sih jadi cowok, sudahlah". Zul berlari ke tempat teduh di depan sebuah toko buku yang sedang tutup. Di depan toko itu juga ramai siswa-siswi dari sekolah tempat Zul belajar juga berteduh. Pemuda itu mengikuti Zul untuk berteduh juga. "Ngapain ngikutin?" Tanya Zul kesal.
"Aku ingin berteduh juga kali" Jawab pemuda itu santai. Zul hanya diam tidak menanggapinya lagi.
Hujan semakin deras, angin sedikit demi sedikit semakin kencang, udara mulai dingin merasuk ke dalam seluruh tulang. Zul kedinginan, mendekap tubuhnya dengan kedua tangan sampai tubuhnya menggigil. Pemuda itu yang sedari tadi diam hanya memperhatikan Zul. Lalu dia mengeluarkan jaket dari ranselnya.
Kasihan juga gadis ini sampai segitunya dia kedinginan. Batin pemuda itu.
"Pakailah". Memakaikan jaket ke tubuh Zul.
"Gak usah, terimakasih". Zul menolak dan melepaskan jaketnya. "Nih". Menyodorkan jaket itu kembali pada pemiliknya.
"Setidaknya kamu pulang masih dalam keadaan sehat". Ujar pemuda itu matanya tetap memandang air yang turun dengan derasnya. Zul hanya terdiam memandang pemuda itu. "Sudahlah jangan keras kepala cepat pakai, kalau kau sakit pasti akan merepotkan banyak orang". Kata pemuda itu menatap Zul tajam.
Benar juga nih orang kalau aku sakit ayah akan sedih, nanti dia gak akan kerja karena jagain aku. Gumam Zul sambil berpikir. Lalu Zul memakai jaket dari pemuda itu. Jaket itu sedikit meringankan rasa dingin yang Zul rasakan. Terkadang gadis itu diam-diam mencuri pandangan sesekali untuk melirik pemuda itu.
__ADS_1
***
Air yang hangat sedikit demi sedikit mulai mengguyur tubuh ideal Zul. Dia sangat menikmati setiap guyuran air hangat yang bisa membuat tubuhnya terasa lebih rileks. Wanginya sabun mandi telah melekat ke dalam kulitnya yang putih.
Setelah membersihkan tubuhnya Zul merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar, tubuhnya telah terbalut pakaian serba pendek, rambutnya yang panjang juga telah terbalut handuk. Dia tenggelam dalam pikirannya.
Siapa dia? Kenapa sehari ini dia mengikuti ku sih? Dia juga mengikuti sampai rumah. Tapi aku tidak pernah melihatnya di sekolah. Besok aku akan tanya pada Anna mungkin dia tau tentang pemuda itu.
Bayangan dia diikuti pemuda itu sampai rumah Zul terlintas kembali di pikirannya.
*Hari sudah mulai petang hujan sudah mulai reda Zul berjalan pulang tanpa sepatah katapun meninggalkan pemuda itu. Pemuda itu berjalan mengikuti langkah kaki Zul dari belakang hanya dengan jarak beberapa meter darinya. Terkadang Zul berhenti dan menoleh ke belakang menatap dengan kesal, pemuda itu juga berhenti dan memalingkan pandangannya dari tatapan Zul.
Kenapa dia mengikuti ku sih gak ada kerjaan lain apa? Atau dia ada niat buruk kali ya?. Gumam Zul semakin kesal dan sedikit takut.
Zul melangkahkan kakinya lebih cepat agar segera sampai di rumah. Pemuda itu pun mengikutinya dengan langkah kaki tak kalah cepat. Setelah sampai rumah Zul langsung masuk rumah dan menutup pintunya. Pemuda itu hanya melihat dari kejauhan setelah dipastikan lagi Zul tidak keluar rumah dia langsung pergi meninggalkan kediaman Zul.
***
"Zul...". Suara seseorang dari balik pintu kamar Zul sambil mengetuk pintu. "Ayo kita makan nak ayah sudah memasak makanan kesukaanmu".
"Iya ayah sebentar lagi Zul keluar". Teriak Zul menjawab dari dalam kamar. Zul segera keluar dari kamar menghampiri ayahnya yang telah duduk menunggu putrinya di depan meja makan.
Memang ayah yang selalu memasak untuk makan sehari-harinya karena dia tidak ingin merepotkan putrinya. Sengaja setiap sebelum berangkat kerja ayah yang memasak, membersihkan rumah hampir seperti ibu rumah tangga. Ayah melakukan itu semua dengan alasan agar Zul bisa belajar dengan benar tanpa terganggu dengan pekerjaan rumah walaupun Zul sudah besar tapi dia masih seperti putri kecil bagi ayahnya.
"Ayo makan ini sangat enak ayah membuatnya khusus buat putri kesayangan ayah". Kata ayah sambil tersenyum.
Zul langsung mengambil nasi dan lauk ke dalam piring yang ada di depannya. Raut wajah Zul terlihat sedang kesal dengan seseorang.
__ADS_1
"Kamu kenapa Zul?". Ayah bertanya karena sedari tadi ayah memperhatikan putrinya tidak seperti biasanya. "Kamu sedang marah sama siapa?".
"Tidak ada yah". Jawab Zul datar dengan makan hanya sedikit-sedikit.
"Kamu itu putri ayah. Jadi ayah tau kapan anak ayah sedang marah". Ucap ayah sambil menggelengkan kepala pelan.
"Zul sedikit tidak enak badan karena tadi kehujanan". Zul berkilah.
"Kamu sakit? Mana yang sakit Zul?". Tanya ayah terkejut dengan nada khawatir.
"Hanya sedikit meriang yah, nanti kalau tidur besok juga sembuh". Ucap Zul menenangkan.
"Apa perlu ayah panggilkan dokter?".
"Tidak yah Zul tidak apa-apa".
"Apa kamu sedang marah dengan pacarmu?". Tanya ayah membuat Zul sedikit terkejut.
"Pacar? Tidak yah Zul tidak mempunyai pacar. Zul akan belajar dulu dengan benar baru akan memikirkan itu". Sambil menelan makanan dengan perlahan.
"Anak pintar". Ayah tersenyum bangga. "Tapi apa kamu sudah menyimpan seseorang dalam hatimu? Eh maksud ayah apa kamu sedang mencintai seseorang?". Ralat ayah.
"Tidak yah. Zul belum pernah berpikir untuk mencintai seseorang". Kata Zul. "Yah cepat habiskan makanannya jangan bicara terus". Zul berkata menahan tawa.
Lalu ayah dan anak itu tertawa kecil bersama lalu melanjutkan makan malam mereka. Ayah dan Zul memang sangat dekat, apapun yang dirasakan Zul selalu bercerita pada ayahnya selain pada Anna. Zul berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mengecewakan ayahnya tentang hal apapun karena Zul menganggap hanya ayahnya saja yang dia punya.
***
__ADS_1