
Kenapa dia sangat rumit untuk dipahami, aku tidak mengerti. Rey mendengus sambil menusuk-nusuk jidatnya dengan jari telunjuk yang terasa pening. Rey merebahkan diri di atas ranjang menatap langit-langit kamar sambil berpikir keras apa maksud dari kata-kata Zul tadi siang saat Rey hampir bertindak lebih jauh dengan bibirnya yang telah menyentuh bibir Zul. Tiba-tiba handle pintu berbunyi, pintu terbuka.
"Kebiasaan, ketuk pintu dulu sebelum masuk". Kata Rey kesal memaki lelaki yang baru masuk ke dalam kamar Rey.
"Bukankah ini sudah kebiasaan?". Jawab Berryl mengembalikan kata-kata Rey. "Jadi ini tidak akan jadi masalah". Bibirnya nyengir kuda lalu ikut berbaring di samping Rey. "Enak sekali rebahan setelah berjam-jam berjalan".
"Apa kau habis keliling kota?". Tanya Rey tanpa menatap Berryl.
"Tidak". Jawab Berryl singkat.
"Lalu?". Rey menaikkan sebelah alisnya.
"Keliling mall".
"Tidak menarik". Santai Rey menjawab.
"Bukankan kau suka berkeliling mall dan menghabiskan uang dengan wanita-wanita di luar sana?". Berryl menggoda sahabatnya.
"Diam kau". Rey bangun dan menatap Berryl dengan kesal.
Berryl tertawa kecil. "Baiklah sekarang katakan padaku apa kau tadi siang mencium Zul?". Berryl juga bangun dan duduk di samping Rey.
"Dari mana kau tau?". Tanya Rey sedikit terkejut. Tidak mungkin dia bilang ke orang lain. Gumam Rey dalam hati.
"Itu tidak penting kau tinggal jawab saja pertanyaan ku".
"Ya tadi aku menciumnya". Ucap Rey datar. "Tapi dia menolak". Rey mendengus kesal. "Baru kali ini aku ditolak cewek".
"Sudah aku bilang padamu dia tidak semudah itu untuk didapatkan". Berryl mengingatkan.
"Kau benar bahkan kata-katanya masih terngiang dan aku tidak bisa memahaminya". Rey menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Apa yang dikatakannya?". Berryl mengerutkan kening.
"Cinta yang fantastis". Ucap Rey sambil menatap ke depan tanpa menoleh sekalipun. Lalu Rey menjelaskan apa yang terjadi tadi siang dengan Zul dan apa yang dikatakan Zul kalau dia menginginkan saling bergandengan saat berjalan dan melangkahkan kaki yang sama, sama-sama mengatakan sesuatu yang disuka, membuat kejutan-kejutan yang tidak akan bisa dia lupakan walaupun hanya sederhana dan selalu berbagi apa yang dirasakan.
__ADS_1
"Dan kau tidak mengerti apa maksudnya?". Suara Berryl sedikit tinggi.
"Tidak". Jawab Rey singkat.
"Dasar bodoh, ternyata kau tidak bisa memahami wanita". Kata Berryl mengutuki Rey. Lalu Berryl menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan kata-kata Zul dengan detail. Bahkan Rey sampai terpengarah mendengarnya.
"Bagaimana kau bisa tau? Apa kau memata-matainya?". Rey menukas tanpa berpikir.
"Apa kau gila, kau lupa sekarang aku sedang menjadi pacar siapa? Lagi pula untuk apa aku memata-matainya". Berryl kesal dengan tuduhan itu.
"Baiklah tapi apa kau yakin itu keinginan Zul? Bagaimana bisa kau dengan mudah mengerti dengan keinginan wanita?". Rey masih tak percaya.
"Itulah fungsinya hanya berkomitmen dengan satu wanita". Berryl menyeringai.
"Sialan". Rey memberikan satu tinjuan di bahu sahabatnya.
"Kalau kau belum siap kau boleh menyerah sekarang". Berryl tertawa kecil.
"Menyerah? Tidak semudah itu. Aku jadi makin penasaran dengannya". Rey tetap bertekad untuk mendapatkan Zul.
*Setelah lelah berkeliling mall Anna dan Berryl memutuskan untuk makan di restoran. Di samping Anna terdapat tas berisi belanjaan yang ditaruh di kursi kosong.
"Kau mau ini?". Anna menyodorkan stik daging ke mulut pacarnya.
"Makanlah aku sudah kenyang dengan nasi goreng ini". Berryl menolak secara halus.
"Sayang". Anna memanggil masih dengan mengunyah stik daging kesukaannya. "Apa kau tau tadi kak Rey menyatakan cinta pada Zul". Tiba-tiba Berryl terbatuk karena terkejut. "Tenanglah, ini minum dulu". Anna menyodorkan jus jeruk sebagai pereda batuk.
"Kata siapa?". Berryl memandang Anna.
"Zul yang bilang". Terdiam sejenak memandang balik lelaki yang di hadapannya lalu Anna melanjutkan. "Tapi Zul menolak karena tidak percaya oh maksudku belum percaya pada kak Rey". Ralat Anna.
"Rey ditolak?". Berryl sedikit terkejut.
"Ya bahkan tadi kak Rey sempat mencium bibir Zul".
__ADS_1
"Apa?". Berryl terkejut lagi. "Dan Zul masih menolak?".
"Ya karena dia punya keinginan sendiri untuk cintanya". Anna mulai memasukkan lagi stik daging ke mulutnya.
"Maksudnya? Keinginan apa?". Berryl semakin penasaran.
"Cinta yang fantastis". Anna menelan makanan yang masih tersisa di mulutnya lalu meneguk jus jeruk yang ada di gelas hingga habis lalu melanjutkan. "Dia selalu bilang ingin mendapatkan cinta yang fantastis".
"Cinta yang fantastis? Aku tidak mengerti?". Berryl semakin heran.
"Bergandengan saat berjalan dan melangkahkan kaki yang sama maksudnya dia ingin pasangannya selalu bersama dia dalam suka maupun duka, memberi dukungan satu sama lain dan mempunyai tujuan yang sama untuk kedepannya". Anna menelan makanannya perlahan. "Lalu sama-sama mengatakan sesuatu yang disuka yang artinya dia ingin menempatkan diri sepantas mungkin di sisi pasangannya karena dengan mengatakan apa yang disuka dan tidak dia jadi lebih tau mana yang benar dan salah yang tidak akan mengecewakan dari pihak keduanya".
"Itu hal yang mudah dan biasa". Kata Berryl.
"Tidak semudah yang kau ucapkan. Karena ya memang tidak semua laki-laki mau diajak susah". Jelas Anna.
"Lalu? Hanya itu?". Tanya Berryl lagi.
"Membuat kejutan-kejutan yang tidak akan bisa dia lupakan ya kamu tentu tau semua wanita sama dalam hidupnya ingin diberi kejutan dari orang yang dicinta karena itu tentu membahagiakan walaupun itu tidak mewah wanita selalu menyukai kejutan. Dan selalu berbagi apa yang dirasakan itu yang terpenting karena menjalani komitmen tentunya kita harus sama-sama saling terbuka". Jelas Anna panjang lebar hingga membuat Berryl tertegun.
"Wow mengesankan, ternyata Zul mempunyai pemikiran yang begitu matang untuk mencari pasangan". Berryl terkagum dalam diri pribadinya.
"Tentu, yang pasti dia sedikit rumit. Terlebih dia tau kalau kak Rey tipe orang yang suka kencan dengan cewek berbeda-beda."
"Dari mana dia tau? Apa kau mengatakannya?". Berryl mengerutkan keningnya.
"Ya itu memang benar". Anna tersenyum. "Tapi aku mengatakannya saat Zul belum mengenal siapa kak Rey, bahkan saat aku belum jadi pacarmu". Tambahnya. "Jadi apakah aku dapat kejutan dari orang yang aku cinta?". Anna memainkan alisnya naik turun.
"Kalau aku beri tau itu namanya bukan kejutan". Mereka berdua tertawa. "Apa aku boleh mencium mu?".
"Apaan sih? Tidak boleh." Pipi Anna dipenuhi semburat merah menahan malu.
"Kenapa? Apa kau malu?". Berryl tersenyum simpul. Anna hanya terdiam menunduk sambil tersenyum malu. "Kan aku izin dulu biar tidak seperti Rey asal nyosor saja". Mereka berdua tertawa makin keras*.
***
__ADS_1