
"Bagaimana?". Rey berharap jawaban kali ini tidak mengecewakan. Berharap Zul tidak tau soal taruhan yang ia buat dengan sahabatnya.
"Apa kau kembali lagi dengan Sanju?". Berryl memastikan dengan wajah sedikit cemas. Ia juga berharap kalau Zul sudah salah paham.
Berryl hari ini merasa sangat iba mendapati Zul terus menangisi orang yang sedang mempermainkan dirinya.
"Tidak. Kenapa tiba-tiba menyoal tentang Sanju?". Rey bertanya heran. Kedua alisnya disatukan.
"Tapi kau tadi pagi berciuman dengannya". Sebenarnya Berryl bertanya tapi terkesan ucapannya seperti memberi pernyataan.
"Jangan bilang Zul tau soal ini?". Rey menebak kemana arah pembicaraan Berryl. Ia lalu duduk di sebelah sahabatnya di bangku taman sekolah.
"Ya. Dan itu sangat melukai hatinya". Ucap Berryl datar.
"Dia yang menciumku dulu. Sanju terus saja mengejarku". Rey menghela napas kasar. "Dia minta ciuman yang terakhir untuk perpisahan kami".
*Rey tergesa-gesa karena mendapat panggilan dari Sanju yang mengabarkan kalau gadis itu akan membahayakan nyawanya jika Rey tidak mau menemuinya.
Rey tidak ingin semua orang memandang dia sebagai lelaki ******* karena bisa saja terlukanya Sanju berdampak buruk bagi kehidupan Rey.
"Katakan kau mau apa?". Kata Rey saat sampai di belakang sekolah.
"Rey, kau datang sendirian?". Sanju balik bertanya sambil tersenyum melihat Rey mau datang menemuinya.
"Tidak perlu basa-basi, katakan saja yang ingin kau katakan". Rey menebak kalau gadis di hadapannya kini cuma ingin berlama-lama dengannya.
"Rey, bisakah kau memberiku kesempatan. Sungguh aku sangat menyesal. Kita bisa memulainya dari awal". Ucap Sanju lirih matanya berkaca-kaca.
"Tidak bisa". Kata Rey datar. "Kau bisa melanjutkan hubungan dengan kekasihmu". Ia menaruh telunjuknya di kening Sanju. "Oh maksudku selingkuhan mu". Rey meralat.
"Rey, aku tau aku salah. Aku minta maaf dan aku sadar kalau aku hanya mencintaimu".
"Cinta?". Rey tertawa sinis. "Cinta yang seperti apa? Maksudmu cinta yang bercabang?". Matanya kini tajam memandang Sanju.
"Rey..."
"Sanju...". Rey memotong dengan cepat. "Dengarkan ini baik-baik. Aku sudah tidak menginginkan mu". Kalimat itu penuh penegasan sengaja diucapkan di telinga gadis itu.
"Aku akan melukai diriku sendiri kalau kau tidak lagi bersamaku". Ucap Sanju parau diiringi deraian air mata.
__ADS_1
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak peduli toh yang akan rugi dirimu sendiri". Rey acuh pada ancaman Sanju padahal dalam hatinya ia takut jika gadis itu sungguh akan melukai dirinya sendiri.
Kurang ajar dia tidak terpancing sama sekali. Sanju membatin merasa gagal untuk mengancam Rey.
"Kenapa?". Rey tertawa pendek dengan nada sinis. "Kau takut? Lihatlah dunia ini masih indah apa kau yakin akan menyia-nyiakan hidupmu dengan hal bodoh itu?". Sanju hanya terdiam beberapa detik.
Senjata terakhir. Batinnya penuh keyakinan. "Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?". Kalimat pertama yang keluar setelah berkutat dengan otaknya untuk menyusun kata-kata.
"Asal setelah ini kau tidak lagi mengejarku". Rey memperingati.
"Ciuman terakhir". Ucapnya datar. "Maksudku aku ingin ciuman yang terakhir darimu".
"Gadis aneh”.
"Aku bersungguh. Tapi kita akan melakukannya di rumahku".
Rey tertawa keras tapi tawanya tidak enak untuk didengar. "Kau ini anak seorang yang terhormat mengapa harga dirimu sungguh rendah? Kau pikir aku bodoh? Kau ingin aku datang ke rumahmu karena kau ingin lebih dari sekedar ciuman". Rey menebak kemana arah pembicaraan Sanju. "Lakukan di sini atau tidak sama sekali". Rey menegaskan kalimatnya.
Sanju terdiam tak bisa membantah satu kata pun karena yang diucapkan Rey memang benar kalau ia hanya ingin menjebak Rey supaya melakukan lebih dari sekedar ciuman saja. Dengan begitu Rey tidak akan bisa meninggalkannya lagi.
Akhirnya setelah kebisuannya selama beberapa menit Sanju menyerah, tanpa malu ia langsung melahap bibir merah Rey. Ia memeluk tengkuk pemuda itu penuh dengan perasaan. Tapi tidak dengan Rey, Ia hanya fokus untuk segera pergi dari Sanju.*
"Aneh". Berryl mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar cerita dari sahabatnya. "Di luar sana orang berciuman untuk meresmikan hubungan. Tapi kau berciuman untuk sebuah perpisahan".
***
"Zul...". Rey tiba-tiba datang di depan Zul. Menghentikan kemudi sepeda yang dikendarai Zul.
"Kau...". Tatapan Zul kini sangat tajam seperti melihat mangsanya.
"Aku ingin bicara denganmu". Kata Rey langsung pada intinya.
"Aku mau pulang. Minggir". Zul mengusirnya.
"Hanya sebentar". Matanya dipenuhi permohonan.
Akhirnya Zul menyerah, ia mengikuti kata Rey. Mereka berdua menuju kedai kopi dekat sekolah karena menurut Rey itu tempat paling nyaman untuk berbicara.
Setelah sampai di kedai kopi, seorang pelayan mencatat menu makanan dan beberapa jenis kopi yang di pesan Zul dan Rey. Sebenarnya Zul ingin menolak karena merasa tidak nafsu untuk makan atau minum apapun.
__ADS_1
"Bisa katakan sekarang, apa yang ingin kau bicarakan?". Zul mulai membuka pembicaraan dengan suara yang sinis.
"Terimakasih". Kata Rey pada pelayan yang mengantar makanan dan minuman. Lalu beralih pada gadis yang sedang duduk di depannya setelah pelayan itu pergi. "Zul, aku minta maaf".
"Minta maaf untuk apa?". Kata Zul datar.
"Soal Sanju. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan".
"Kau bebas melakukan apapun dan pada siapapun". Kata Zul sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Toh aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu".
"Kau penting untukku". Kata Rey cepat.
"Sungguh? Lalu ciuman dengan Sanju apa kau bisa menjelaskan?". Zul menautkan jemarinya membentuk tenda segitiga.
Lalu Rey menceritakan apa yang telah diceritakan juga pada Berryl. Dari dia mendapat ancaman Sanju sampai permintaan Sanju yang sangat bodoh.
"Wow, itu mengesankan. Kau memberi ciuman untuk perpisahan. Baru kali ini aku mendengarnya". Ucapnya sinis seolah kata-katanya seperti mengolok-olok.
"Bukan untuk perpisahan tapi sebagai syarat agar dia tidak lagi mengejar ku". Rey berkomentar membenarkan ucapan Zul yang sedikit keliru.
"Itu sama saja. Sama-sama agar tidak saling bertemu". Zul tidak terima dengan kritikan Rey.
"Menurutku perpisahan itu tidak akan lagi bertemu, tidak ada lagi hubungan melalui jaringan apapun atau bisa juga dengan kematian. Kau harus menggarisbawahi kalau ini hanya syarat". Di kata 'syarat' diucapkan penuh penekanan oleh Rey.
"Terserah". Hanya itu jawaban Zul yang terlihat menyerah.
"Jadi kau memaafkan ku?". Tanya Rey penuh harap.
"Ya". Singkat Zul.
Rey tersenyum lega. "Jadi kau percaya padaku?".
"Tidak".
"Kenapa? Apa menurutmu aku seburuk itu?". Suara Rey sedikit meninggi.
"Turunkan suaramu". Suara Zul juga ikut sedikit meninggi. "Aku hampir saja, mungkin sedikit lagi bisa percaya sepenuhnya padamu. Tapi karena aku melihatmu berciuman dengan Sanju aku jadi sedikit ragu padamu. Apa kau benar mencintaiku atau hanya bualan saja". Zul menjelaskan panjang lebar. "Apalagi rumor yang ku dengar kau suka berkencan dengan wanita yang berbeda-beda". Tambahnya.
"Itu dulu. Aku sekarang sudah berubah. Aku hanya mencintaimu dan hanya menginginkanmu. Zul tolong percaya padaku". Kata Rey menggenggam tangan Zul.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti. Aku ingin melihatmu seberapa jauh kau berjuang". Lagi-lagi secara tidak langsung Zul memberi kesempatan.
***