
"Apa kau mau naik motor bersamaku?" Tiba-tiba suara itu mengejutkan Zul. Terlihat lelaki tengah mengendarai motor sport mengiringi langkah kaki Zul yang terburu-buru takut terlambat ke sekolah.
Siapa dia?. Zul mengerutkan keningnya.
Lelaki itu membuka kaca helm. "Ayolah nanti kau tidak bisa masuk ke sekolah".
"Kak Rey? Tidak terimakasih kamu bisa duluan". Zul menolak karena canggung kalau boncengan dengan Rey.
"Sudah jangan keras kepala jarak sekolah dari sini masih lumayan jauh kau bisa terlambat nanti". Rey sedikit memaksa.
Zul masih berpikir sebentar. Akhirnya dia menyerah dengan pikirannya karena memang takut terlambat, dia mengikuti perkataan Rey lalu segera naik ke atas motor duduk di belakang lelaki itu.
"Pegangan yang kuat" Rey mengarahkan tangan Zul ke pinggangnya. Zul hanya terdiam dan menunduk malu-malu. Rey melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menyibak jalanan hingga membuat Zul memejamkan mata.
Sampailah di parkiran sekolah semua anak memandangi Rey dan Zul. Banyak gadis-gadis yang terlihat sangat iri melihat Zul naik motor bersama Rey. Zul segera menurunkan diri dari atas motor karena masih merasa canggung. "Terimakasih ya atas tumpangannya". Kata Zul lirih. "Aku mau ke kelas dulu". Zul beranjak pergi dari hadapan Rey.
"Tunggu...". Rey membuat langkah kaki Zul berhenti. "... sepertinya tadi kamu sudah tau namaku?". Tanyanya. Zul hanya menggigit bibir bawahnya, memainkan jari jemarinya.
"Baiklah lupakan, siapa namamu?" Rey bertanya yang lain karena menyadari kalau gadis di depannya kini sedang gugup walaupun dia sudah tau namanya.
"Zulia, panggil saja Zul". Zul memperkenalkan diri. Ia melihat sahabatnya berjalan menuju kelas lalu berteriak. "Hei Anna... Sudah dulu ya kak Rey aku ke kelas dulu sekali lagi terimakasih" Zul berlalu pergi dengan berlari. Rey hanya tersenyum.
"Kok baru datang? Sama siapa kamu tadi?" Anna celingukan mencari-cari orang diparkiran tapi tidak menemukan siapapun.
"Sudah nanti akan aku ceritakan ayo ke kelas" Zul menarik Anna karena tidak ingin bercerita di tempat umum.
***
"What? Kamu berangkat bareng kak Rey?" Anna terkejut mendengar cerita dari Zul. Zul hanya mengangguk.
"Ah aku jadi iri sama kamu Zul" Anna merengek. "Beruntungnya kamu, andai aku jadi kamu aku akan curi-curi kesempatan untuk memeluknya di atas motor" Katanya sambil cengar-cengir dan melebih-lebihkan bayangannya.
"Hush diam kamu nanti ada yang dengar" Zul menggerutu dengan setengah berbisik walaupun tadi semua murid melihatnya. Tapi memang tadi dia suruh aku memeluknya sih. Zul tersenyum sendiri mengingatnya.
"Oh ya aku mau bilang sama kamu kalau..." Ucap Anna hati-hati, suaranya menggantung di udara. Zul masih menunggu sahabatnya meneruskan. "... kalau aku sekarang sudah punya pacar".
__ADS_1
"Pacar? Siapa?". Zul membelalakkan matanya.
"Berryl" Anna berbisik.
"Berryl? Siapa dia?" Tanya Zul sedikit teriak.
"Ih jangan keras-keras nanti pada dengar". Anna mengerucutkan bibirnya. Menghela nafas pelan. "Berryl teman sekelas kak Rey". Katanya. "Sebenarnya aku sudah dekat lama dengannya lalu tadi malam dia menembak ku saat kencan". Tambahnya lagi.
"Dan kau tidak memberitahu aku tentang dia kalau kau sudah lama dekat?" Zul membuang nafas kasar. "Menyebalkan sekali kamu, sahabat apanya kalau kau tertutup begitu". Menepis pandangannya dari Anna ke depan.
"Zul jangan marah". Menggoyangkan bahu Zul tapi tidak ada respon. "Iya maaf, aku cuma ingin tau seberapa dia serius denganku tanpa ada yang tau" Anna memegang tangan Zul. "Kalau aku memberitahumu, kau tidak akan diam saja pasti kau akan menyeledikinya seperti tersangka".
"Tapi itu kan demi kebaikanmu Anna...". Zul menoleh berkata dengan datar.
"Ya aku tau kau ingin yang terbaik untukku. Tapi Zul aku ingin mengenalnya dengan caraku sendiri". Anna berkata lirih. "Kamu tau kan maksudku?" Anna memastikan jawaban walaupun dari raut wajah sahabatnya itu. Zul hanya terdiam. "Maaf". Hanya kata itu yang mampu terucap.
Zul memandang Anna dan tersenyum hangat. "Baiklah, aku cuma khawatir kalau kau salah dalam memilih lelaki, kau kan tau lelaki jaman sekarang pada berbahaya".
"Terimakasih" Kata penuh syukur karena Zul sudah mengerti, Anna memeluk Zul erat. "Aku yakin Berryl tidak akan menyakitiku".
Zul melepas pelukan Anna karena merasa sesak. "Iya-iya nanti kalau Berryl membuatmu menangis aku sendiri yang akan menghajarnya"
"Kencan?" Zul mengerutkan keningnya.
"Ya, kau dengan kak Rey dan aku sama Berryl". Jelas Anna dengan semangat.
"Ih ngaco kamu, mana mungkin kak Rey mau kencan denganku". Gumam Zul. Anna memandang aneh. "Eh maksudku aku kan baru kenal tuh sama kak Rey jadi gak mungkin lah kalau kami pergi kencan". Ralat Zul.
"Ya bisa jadi kesempatan dong untuk kenal lebih dekat dengannya". Pungkas Anna.
Zul hanya terdiam tidak menghiraukan perkataan Anna. Bel berbunyi guru mata pelajaran sudah memasuki ruangan kelas, pelajaran akan dimulai mengakhiri percakapan Zul dan Anna.
***
"Aku ingin ke club malam ini. Kita pergi nanti jam delapan". Kata Rey sambil memakan mie goreng yang ada di depannya di kantin sekolah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa". Berryl menolak.
"Kenapa? Apa kau sedang sibuk?".
"Ya ini sangat darurat". Ucap Berryl mengerutkan kening khawatir.
"Kenapa? Ada yang sakit? Atau ada yang kecelakaan? Apa Ayahmu atau Ibumu? Apa yang darurat?". Rey terkejut hingga mengajukan banyak pertanyaan.
"Sialan. Kau berdoa supaya kedua orang tuaku terluka". Berryl mengumpat dengan wajah kesal.
"Jadi apa yang darurat?". Rey bertanya lagi tanpa menghiraukan kata-kata Berryl.
"Darurat karena nanti malam aku menemani Anna ke mall". Berryl terkekeh geli. "Darurat karena kalau dia marah semuanya akan berakhir". Berryl tertawa lebih keras.
Rey mendengus kesal. "Jadi ini soal wanita?". Pertanyaan Rey mengambang. "Sejak kapan?".
"Apanya?". Berryl tidak mengerti maksud Rey.
"Pacaran dengan Anna, apalagi?".
"Sepertinya aku tadi belum bilang kalau dia pacarku juga namanya". Berryl semakin bingung.
"Lupakan. Jawab saja". Rey semakin kesal karena tak kunjung dijawab.
"Baru semalam". Berryl berkata santai sambil tetap makan mie goreng. "Nanti malam aku sudah ada janji dengannya akan pergi kencan. Dari pada kamu ke club mending kamu ajak Zul tuh jalan-jalan supaya dapat lampu hijau perjalananmu".
"Menurutmu dia akan menerima ajakanku?". Rey meminta pendapat.
"Langsung saja datang ke rumahnya. Kalau kau bertanya dulu aku yakin dia akan menolak".
Rey terlihat berpikir sejenak mencari ide supaya bisa membujuk Zul pergi kencan. "Ide bagus".
"Ideku?". Tanya Berryl sambil tersenyum bangga.
"Ideku lah. Mana mungkin kau punya ide?". Ketus Rey.
__ADS_1
"Terserah kau saja". Berryl menyerah tidak mau menjawab dengan kata-kata sahabatnya itu.
***