CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 11


__ADS_3

Pukul 17.33.


Maisya melihat jam yang tertera di hp-nya saat itu, dan saat itu ia juga melihat ke arah raya yang tampak serius dengan apa yang telah ia kerjakan di kantornya?. Atau juga disebut dengan Toko pakaian kekinian?. Ya, sebut saja seperti itu. Namun bukan itu yang menjadi masalahnya. Maisya segera pergi dari sana, ia ingin mencari tempat yang aman untuk menghubungi anaknya.


"Anak itu benar-benar kurang ajar. Sampai sekarang dia masih belum juga membalas pesanku. Dan bahkan dia tidak memberi kabar apapun pada istrinya?." Dalam suasana hati yang sangat gelisah dan dipenuhi dengan amarah yang sangat bergejolak ia melihat kontak anaknya.


Sedangkan Ravenska yang saat itu berada di perjalanan menuju rumahnya?. Tiba-tiba saja hp-nya berdering dengan sangat kencangnya.


Deg!.


Rasanya jantungnya ingin melompat dari tempatnya, saat mata itu melihat nama siapa yang tertera di sana. Dengan keadaan setengah takut ia menjawab panggilan itu.


"Ya ma?.'


"Kamu di mana?!."


Deg!.


Ravenska sangat terkejut mendengarkan suara bentakan yang sangat keras itu sehingga secara spontan ia menjauhkan HP dari telinganya.


"Mama jangan marah-marah dulu. Saat ini ravenska sedang berada di jalan untuk menuju ke rumah."


"Apakah kamu masih ingat dengan rumah kamu?. Apakah kamu masih ingat ada seorang istri yang menunggu kamu di rumah?."


"Memangnya mama berada di mana?."


"Saat ini mama berada di toko istri kamu. Sudah dua hari mama berada di rumah kamu!. Tapi kamu belum juga pulang tanpa kabar!. Apakah kamu tidak menghargai mama lagi?!."


"Bukan seperti itu ma. Tapi aku lagi mengerjakan beberapa pekerjaan yang sangat rumit saat ini."

__ADS_1


"Pekerjaan rumit seperti apa yang kamu kerjakan sehingga kamu melupakan istri kamu yang berada di rumah?. Papa kamu tidak seperti kamu. Meskipun ada pekerjaan yang sangat berat, tapi papa kamu masih ingat ada istri di rumahnya!."


"Ya ma, ravenska mau pulang. Ravenska lagi menyetir. Nanti kita ketemuan di rumah ya?."


"Awas kalau kamu tidak pulang malam ini. Jangan kamu anggap lagi aku mama kamu jika kamu tidak pulang malam ini." Dengan perasaan yang sangat sakit hati ia memutuskan panggilan itu.


Deg!.


Perasaan takut mulai berkecamuk di dalam hatinya. Tentunya ia sangat takut dengan ancaman yang telah diucapkan oleh mamanya.


"Sial!. Kenapa aku harus seperti ini?. Kenapa mama malah membela raya daripada aku?. Sebenarnya yang anak kandungnya itu aku atau raya?." Dalam hatinya pada saat itu sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh mamanya itu.


"Aku tidak ingin Raya tersakiti oleh kamu. Sebab yang memilih menjadi pasangan hidup kamu adalah aku. Jika kamu berani menyakiti raya?. Sama saja kamu dengan menyakiti aku. Tidak akan aku biarkan itu terjadi. Akan aku hajar kamu jika kamu berani melakukan itu pada raya. Aku tidak peduli jika kamu adalah anakku sendiri." Dengan perasaan yang sangat marah dan kecewa, Maisya secara tidak langsung telah mengucapkan janji bahwa ia akan melindungi Raya apapun yang akan terjadi. Karena memang ia yang menginginkan anaknya untuk menikah dengan Raya. Karena itulah apapun yang akan terjadi pada Raya yang memiliki hubungan dengan anaknya?. Maka itu semua akan menjadi tanggung jawabnya. Semangat mama.


...***...


Pukul 20.11.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaskumussalam."


"Duduk!."


Ravenska hanya menurut, ia tidak berani untuk membantah apa yang telah dikatakan mamanya.


"Kamu tahu?. Berapa hari kamu tidak pulang?!."


"Ravenska kerja ma."

__ADS_1


"Kerja di mana kamu?. Sampe dua hari enggak pulang?!. Kamu masih ingat, kan?. Kalau kamu punya istri di rumah?!."


"Tapi ravenska benaran pergi kerja ma. Ravenska udah kasih pesan buat raya, kalo ravenska enggak pulang."


"Enggak pulang berarti bukan sampai dua hari!. Jangan kamu anggap remeh hubungan keluarga itu!."


Tidak ada jawaban dari Ravenska, karena saat itu matanya tertuju pada Raya yang hanya diam saja.


"Jadi benar?. Dia yang udah ngadu sama mama?." Dalam hatinya sangat marah dengan itu. "Aku tidak menduga sama sekali, jika kamu sangat licik. Apakah tidak ada cara lain yang dapat dia gunakan untuk membuat aku dan mama bertengkar seperti ini?." Dalam hatinya pada saat dia benar-benar sangat benci pada Raya.


"Sebenarnya mama tidak ingin ikut campur dengan urusan kalian. Tapi untuk kamu?. Tidak baik kamu meninggalkan istri kamu sendirian di rumah. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang sangat menyakitkan pada istrimu nantinya?."


"Raya hidup di tengah masyarakat yang banyak ma. Rasanya nggak mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk padanya."


"Tapi yang lebih berhak untuk melindungi dia adalah kamu sebagai suaminya. Mama tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan oleh kita semua. Pokoknya keselamatan Raya ada di tangan kamu, karena kamu adalah suaminya."


"Kalau gitu ravenska mau istirahat dulu ma."


"Ya sudah. Kamu istirahat saja. Jangan lupa habiskan makan malam kamu yang telah disiapkan oleh istri kamu."


"Ya ma." Ravenska memang hanya takut pada mamanya saja. Karena dari kecil ia diajarkan dengan ajaran yang sangat keras oleh mamanya sehingga ia sangat takut pada mamanya itu. Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka berdua, tentunya dengan keadaan hatinya yang sangat benci kepada Raya.


"Ma?. Apakah mama tidak terlalu keras pada mas ravenska?."


"Kamu tidak usah memberi hati padanya. Laki-laki akan terus menipu, jadi kamu tidak usah merasa kasihan padanya."


"Tapi ma?."


"Meskipun dia anak kandungku. Namun bukan berarti aku begitu mudahnya percaya dengan apa yang dia katakan. Suatu saat nanti akan aku bongkar, apa yang telah membuat dia lupa sama kamu, yang berada di rumah selalu menunggu dia."

__ADS_1


Deg!.


Ravenska sangat terkejut mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh mamanya itu. Sebab saat itu ia belum sepenuhnya pergi meninggalkan tempat itu, karena saat itu ia sedang mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh mamanya. "Aku pikir yang over thinking kepadaku itu adalah raya?. Tapi tetap saja aku tidak suka dengan cara raya yang mengadu kepada mama. Karena dia percaya jika mama akan berpihak kepadanya." Hatinya benar-benar sangat sakit saat itu. "Selain itu aku juga harus berhati-hati. Aku tidak mau mama mengetahui keberadaan salsa. Akan berbahaya jika mama mengetahui itu." Ya, yang lebih berbahaya itu adalah mamanya yang mengetahui apa yang telah ia lakukan di belakang mereka selama ini.


__ADS_2