
...***...
Pada saat itu Ravenska baru saja bangun tidur, dan itupun ia mendengarkan panggilan telepon dari mamanya. Jantungnya saat itu benar-benar sedang dipacu oleh sesuatu yang sangat menakutkan di dalam hidupnya.
"Selamat pagi mama."
"Pagi." Balasnya dengan sangat jutek. "Apakah hari ini kamu akan ke kantor?."
"Tentu saja aku ke kantor mama. Karena ada banyak tugas yang harus aku lakukan di kantor."
"Kalau begitu pulang dari kantor kamu harus di rumah. Kalau kamu tidak ada di rumah saat jam 07.00 malam?. Maka mama akan membunuh kamu di manapun kamu berada."
Deg!.
Ravenska tentu saja sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh mamanya itu. "Kenapa mama selalu saja mengancam aku?." Hatinya sangat sakit ketika mendengarkan ucapan mamanya sehingga tanpa sadar ia meninggikan suaranya.
"Jaga suara kamu. Aku sebagai seorang mama kandung kamu merasa malu dengan apa yang telah kamu lakukan." Setelah berkata seperti itu ia tutup panggilan itu. Hatinya pada saat itu benar-benar sangat sakit, hatinya yang saat itu sedang dipenuhi oleh rasa benci terhadap anaknya sendiri. "Awas aja kalau kamu berani bertingkah di belakang anakku raya. Aku tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidup kamu." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sedang diselimuti oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
Deg!.
Pikiran Ravenska pada saat itu benar-benar melayang entah kemana. Perasaan takut telah menghantui dirinya ketika itu. Ia sangat takut dengan ancaman yang telah dilayangkan oleh mamanya. "Apakah mama telah mengetahui keberadaan salsa?." Dalam hatinya mulai panik dengan apa yang telah ia rasakan. Pikirannya melayang-layang mengenai keselamatan Salsa. "Raya brengsek!. Aku yakin dia telah melaporkan kepada mama. Aku yakin dia telah melakukan sesuatu untuk menyelidiki kami." Saat itu juga iya menemui Raya. Hatinya sangat tidak tenang sama sekali, ketika ia membayangkan jika Raya lah yang telah melakukan itu semua. "Apa yang ingin dia lakukan sebenarnya?. Apakah dia mencoba untuk memisahkan aku dengan salsa?. Sehingga dia bersekongkol dengan mama untuk menjauhkan aku dari orang yang sangat aku cintai?." Dalam suasana yang kusut seperti itu ia malah berpikiran yang tidak-tidak tentang Raya.
Akan tetapi pada saat ia baru saja memasuki dapur?. Ia melihat Raya yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya?. Saat itu ia memperhatikan hp raya yang berbeda dari yang sebelumnya. "Sejak kapan dia berganti hp?. Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya?." Dalam hatinya sangat kesal dengan itu. Saat itu ia sengaja bersembunyi karena hp Raya berbunyi dengan nyaringnya.
__ADS_1
"Ya?. Wa'alaikumussalam ma?." Raya menjawab panggilan itu.
Deg!.
Perasaan suasana hati Ravenska sama sekali tidak tenang?. Tentu saja ia tidak tenang karena ternyata itu adalah panggilan dari mamanya?.
"Kenapa kemarin mama hubungi kamu tidak kamu angkat?. Apakah terjadi sesuatu padamu?."
Ravenska saat itu benar-benar dapat mendengarkan suara mamanya karena Raya sengaja membesarkan suara itu. Karena saat itu ia sedang masak dan tidak bisa diganggu sama sekali.
"Oh?. Itu kemarin hp raya jatuh ma. HP raya yang lama rusak, jadi raya terpaksa ganti hp baru."
"Loh?. Kok bisa?. Emangnya kamu jatuh di mana?."
"Alhamdulillah kalau kamu baik-baik aja." Suaranya terdengar sangat bersyukur sekali. "Apakah ravenska masih ada di rumah?. Anak mama lagi ngapain?."
"Kalau raya lagi masak ma. Kalau mas ravenska sedang siap-siap untuk berangkat ke kantor."
"Oh?. Gitu?. Ya sudah. Nanti siang mama ke rumah kamu ya?. Ada hal penting yang harus mama bilangin ke kamu."
"Kalau gitu raya mau nyiapin cemilan buat mama nanti."
"Terima kasih anak mama. Sampai jumpa ya?. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaskumussalam."
Setelah itu panggilan mereka berakhir begitu saja. Raya melanjutkan memasak, iya tidak ingin suaminya tidak sarapan. Sementara itu Ravenska yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Ia tidak menduga sama sekali itulah alasan kenapa Raya menggantikan hp-nya?. Tapi apakah memang karena itu?.
"Maaf ya ma?. Sebenarnya hp raya rusak karena raya banting kemarin." Dengan perasaan yang sangat sedih ia berkata seperti itu, sehingga ucapannya didengar oleh Ravenska. "Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengirim foto mas ravenska bersama seorang cewek yang sedang hamil. Raya sangat kesal, apalagi mas ravenska sama sekali tidak bisa dihubungi. Makanya raya banting hp itu ma." Saat itu ia mencoba untuk menahan perasaan sakit yang ada di dalam dadanya.
Deg!.
Ravenska sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Raya. "Jadi ada seseorang yang membutuhkan?. Jadi dia yang telah mengirim sesuatu tentang kami kepada raya?." Dalam hatinya sangat sakit mendengarkan ucapan Raya. "Kurang ajar sekali orang itu!. Untung saja raya membanting hp-nya. Jika tidak?. Raya bisa menunjukkan foto itu kepada mama nantinya. Tentu saja aku tidak ingin itu terjadi." Dalam suasana hati yang sangat kusut, ia mencoba untuk memikirkan cara terbaik agar tidak ada yang mengetahui hubungan gelapnya dengan Salsa. Tentu saja ia tidak ingin itu semua terjadi, karena itulah ia harus bergerak dengan cepat. "Jangan sampai Mama mengetahui ini." Dalam hatinya saat itu sangat takut dengan bayangannya sendiri.
Sementara Raya baru saja selesai menyiapkan semua hidangan pagi itu. Ia berniat untuk memanggil suaminya agar segera sarapan. "Mas?." Ia mencoba mengetuk pintu kamarnya. Akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari dalam. "Mas?. Apa kamu sudah siap-siap?." Raya mencoba untuk bertanya.
Akan tetapi pada saat itu siapa yang menduga jika Ravenska telah berpakaian dengan sangat rapinya. Pada saat itu saya tidak menduga sama sekali jika suaminya itu telah siap untuk berangkat ke kantor.
"Mas?. Aku telah siapkan sarapan sama bekal kamu untuk di kantor." Saat itu suasana hatinya masih berbaik hati untuk berkata tutur lembut kepada suaminya.
Akan tetapi pada saat itu sama sekali tidak ada tanggapan dari Ravenska. Bahkan suaminya itu hanya melewatinya dengan sangat cueknya.
"Mas?. Aku lagi ngomong sama kamu loh?. Kenapa kamu tidak menjawab apa yang aku katakan?." Suasana hatinya mulai berubah.
Ravenska sama sekali tidak peduli dengan apa yang telah dikatakan Raya, ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan rumah itu. "Sebenarnya aku tadi ingin berniat kerja di rumah saja. Tapi karena mama mau datang ke sini?. Aku terpaksa harus ke kantor." Dalam hatinya sangat gelisah jika memang mamanya akan datang. Tentu saja ia tidak bisa bertemu dengan mamanya secepat itu.
...***...
__ADS_1