
...***...
Pukul 23.01.
Ravenska baru saja sampai di rumahnya, dan saat itu ia melihat Raya yang menyambut kepulangannya dengan senyuman yang sangat ramah sekali.
"Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga panjang umur sehat selalu dan bahagia." Dengan senyuman yang sangat bahagia ia mengucapkan kalimat itu. Apalagi pada saat itu di tangannya ada sebuah kue yang sangat cantik.
Akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari Ravenska, karena pada saat itu ia merasakan kelelahan yang sangat luar biasa setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.
"Kamu tu, nggak usah menyediakan hadiah yang berlebihan. Aku sangat capek sekali, aku mau segera istirahat." Entah kenapa pada saat itu ia sama sekali tidak bisa menerima apa yang telah dilakukan Raya kepadanya. Ia melewati Raya yang tampak terdiam setelah mendengarkan apa yang ia katakan tadi. "Bagiku apapun yang kamu lakukan tidak akan menyentuh hatiku. Hanya salsa saja yang mampu memberikan kebahagiaan kepadaku." Di dalam hatinya hanya ada satu wanita yang bernama Salsa.
"Mas?." Raya berusaha untuk menahan dirinya agar tidak melakukan hal aneh. "Aku telah menyiapkan semua ini untuk kamu mas. Tapi kenapa kamu begitu sangat dingin kepadaku?." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat berkecamuk. "Aku hanya ingin meminta satu permintaan saja kepadamu mas." Ucapnya sambil menahan amarah yang ada di hatinya. "Mas, aku minta sesuatu padamu." Ulangnya lagi.
Sangat disayangkan sekali karena pada saat itu Ravenska sama sekali tidak menanggapi apa yang ia katakan?.
"Apakah kamu mendengarkan apa yang aku katakan mas?. Aku meminta sesuatu kepadamu."
Ravenska mendekati Raya, raut wajahnya terlihat sangat emosi?. Apakah ada yang salah dengan ucapannya itu?.
"Aku tidak memiliki kewajiban apapun untuk memenuhi apa yang kamu minta. Karena aku bukan tempatmu untuk meminta." Seperti itulah balasan dari Ravenska. "Jadi kamu jangan meminta apapun kepadaku. Aku tidak akan pernah memenuhi apa yang kamu minta kepadaku. Jangan meminta terlalu lebih kepadaku hanya karena kamu adalah istriku." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi meninggalkan tempat itu. Ia masuk ke kamarnya begitu saja tanpa memperdulikan bagaimana perasaan raya yang hancur setelah mendengarkan ucapannya itu.
Air matanya jatuh begitu saja, air mata kesedihan yang telah menggambarkan suasana hatinya pada saat itu. Dengan langkah yang sangat berat ia pergi kembali ke dapur untuk menyimpan kue yang telah ia siapkan. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk melihat Ravenska yang terbaring di tempat tidur.
Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat kacau, namun ia mencoba untuk tetap tabah. Walaupun sesekali terdengar suara sesegukan tangis yang ia tahan saat itu. "Mas?." Dalam hatinya mencoba untuk menguatkan dirinya. Saat itu ia mencoba untuk menyentuh punggung Ravenska. Akan tetapi pada saat itu juga ia merasakan ketakutan yang sangat luar biasa, jika suaminya akan semakin membencinya jika ia melakukan itu.
"Seharian ini aku telah mencoba untuk melakukan yang aku bisa untuk membuatmu bahagia. Tapi apa yang aku lakukan ternyata sia-sia. Sebenarnya kamu mencintai aku atau tidak mas?." Dalam hatinya ingin bertanya seperti itu, apalagi dalam keadaan suasana hatinya yang terluka setelah mendengarkan apa yang diucapkan oleh suaminya sendiri.
"Bahkan dengan air mata itu pun, aku tidak akan pernah tersentuh sedikitpun. Aku tidak akan pernah menyukai orang yang memaksaku untuk menikahi orang yang tidak aku cintai." Dalam hati Ravenska kamu mencoba untuk menepiskan semua itu. "Kau boleh saja memiliki segudang?. Atau sejuta?. Atau seribu?. Atau bahkan di dunia ini kamu mencintai aku?. Tapi hatiku tetap tidak akan pernah memilihmu menjadi orang yang aku cintai." Dalam hatinya telah berjanji akan menekan perasaan itu terhadap Raya. "Kamu adalah orang yang sangat aku benci, selama ini aku tidak pernah menganggap kamu adalah orang yang aku cintai. Jadi inilah akibat yang kamu dapatkan karena kamu telah memaksa aku untuk menikahimu. Pada sebenarnya aku sangat tidak suka kepadamu." Di dalam hatinya pada saat itu merasakan apa yang dinamakan cinta dan teman biasa saja.
Teman biasa saja?. Jadi selama ini ia telah menganggap hubungannya dengan Raya seperti itu?. Apakah baginya itu hanyalah hubungan teman biasa?. Karena dari apa yang ia dengar, bukan hanya mamanya saja yang memaksanya untuk menikah, namun Raya jugalah yang memohon kepada mamanya untuk mempersatukan mereka dalam hubungan rumah tangga. Padahal saat itu ia sedang menjalin hubungan dengan Salsa wanita yang sangat ia cintai.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hanya kepadamu hamba memohon. Kuatkanlah hati hamba untuk menghadapi cobaan ini. Bukakanlah pintu hatinya untuk melihat ke arah hamba. Hamba serahkan semuanya kepadamu ya Allah." Pada saat itu perlahan-lahan iya menutup matanya karena sebenarnya ia telah lelah seharian ini tanpa beristirahat menyiapkan segalanya untuk menyenangkan hati Ravenska. Akan tetapi siapa yang menduga jika itu yang ia dapatkan ketika suaminya itu kembali.
...***...
Sementara itu Salsa?.
__ADS_1
Saat itu ia menatap sebuah cincin yang sangat indah, cincin itu adalah cincin lamaran. Tentu saja ia mengetahui itu artinya apa.
"Semoga saja dia benar-benar melamar aku setelah aku melahirkan anaknya." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya ketika ia menerima cincin lamaran dari Ravenska. Hatinya pada saat itu benar-benar sangat berbunga-bunga, ia merasakan bagaimana menjadi wanita yang sempurna ketika ada seorang laki-laki yang mengatakan dengan serius ingin menikahinya. "Rasanya aku tidak percaya jika dia benar-benar ingin menepati janjinya." Ia usah perutnya yang mulai membesar dengan penuh kelembutan. "Kamu tenang saja anakku. Tentunya ketika engkau lahir ke dunia ini engkau akan memiliki seorang ayah yang sangat baik hati. Rasanya Mama sudah tidak sabar ingin melihatmu lahir, dibesarkan oleh seorang ayah yang sangat bertanggung jawab kepada dirimu." Dengan senyuman penuh kelembutan iya berkata seperti itu. "Cepatlah engkau lahirkan di dunia ini, supaya mamamu ini bisa bersama papamu." Setelah berkata seperti itu ia malah cengengesan sendirian sambil mengingat hal-hal lucu yang akan ia lakukan bersama suaminya nantinya. "Suami?. Aku sudah tidak kuat lagi menahan perasaan ketika kami menjadi pasangan suami istri yang sangat bahagia, serta ditemani seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Hidupku benar-benar sangat terasa sempurna dengan kehadiran keduanya disampingku saat itu." Alangkah bahagianya hidupnya ketika ia membayangkan bagaimana kenyataan itu yang akan ia jalani nantinya.
Apakah benar ia akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat luar biasa yang ia idam-idamkan bersama orang yang ia cintai?. Simak dengan benar dan perhatikan dengan baik-baik bagaimana kisah ini terjadi nantinya.
...***...
Setelah melaksanakan salat subuh, Raya kembali mengulang tidurnya. Rasanya ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk bergerak, tubuhnya terasa panas. Dan ada kemungkinan ia demam kembali.
"Mas. Maafkan aku, karena pagi ini aku tidak bisa menyiapkan sarapan untuk kamu." Dengan suara yang sangat seram ia berkata seperti itu kepada suaminya.
Lagi dan lagi tidak ada tanggapan yang berarti dari Ravenska. Seakan-akan suasana hatinya pada saat itu benar-benar telah tertutup untuk wanita yang bernama Maharani Rayasuara. Setelah ia rapi-rapi dan menyiapkan apa yang akan ia bawa ke kantor?. Ravenska langsung keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kuatkanlah hati hamba ya Allah. Meskipun dia tidak mencintai hamba. Suatu hari nanti hamba sangat berharap dia akan jatuh cinta kepada hamba." Dalam hatinya sangat berharap seperti itu.
Sementara itu Ravenska sedang menuju ke dapur. Mungkin pagi itu ya bisa mengganjal perutnya dengan roti, namun pada saat itu ia sangat terkejut ketika melihat ada beberapa kotak yang dibungkus dengan sangat rapi. Bukan hanya itu saja yang membuat dia terkejut pada saat itu, semua makanan kesukaannya telah dihidangkan oleh Raya di meja makan itu?. Begitu meriahnya hidangan yang ada di meja makan itu, juga beberapa bungkus kado yang sangat lucu menurutnya?. Apakah hatinya pada saat itu benar-benar tidak akan pernah tersentuh dengan apa yang telah dilakukan oleh Raya?.
"Tidak!. Aku tidak boleh tersentuh sama sekali dengan apa yang dia lakukan. Karena aku tidak akan pernah berpaling dari wanita yang aku cintai." Seperti itulah suasana hatinya pada saat itu. Dengan keteguhan dan penuh keyakinan ia menguatkan dirinya untuk tidak memikirkan untuk bercabang hati kepada wanita lain selain Salsa.
"Maaf saja, hatiku ini tidak akan pernah aku bagikan kepada siapapun. Hatiku telah aku tuangkan semuanya kepada wanita yang bernama salsa." Saat itu ia membayangkan bagaimana kehidupan pernikahannya bersama wanita yang bernama Salsa.
Apalagi setelah kelahiran Salsa nanti ia akan menepati janji yang telah ia ucapkan kepada wanita itu. "Sebentar lagi kami akan menjadi suami istri yang sah. Jika perlu nanti aku akan mencoba untuk menjelaskan kepada mama dengan perlahan-lahan. Bahwa ada wanita yang sangat aku cintai, dan kini sedang mengandung anakku. Setidaknya dua bulan ini Salsa akan melahirkan. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi." Dalam hatinya pada saat itu memikirkan kado terindah apa yang akan ia berikan kepada Salsa setelah melahirkan anak laki-laki untuknya.
Sungguh lelaki yang sangat setia kepada satu orang wanita, tapi apakah dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap wanita yang telah menjadi istrinya?. Apakah ia tidak menyadari bahwa ia telah menyakiti satu orang wanita hanya demi membahagiakan satu orang wanita lainnya?. Bagaimana kisah akhir cerita ini?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
Sementara itu orang tua Raya.
Entah kenapa pada saat itu Dewi merasakan perasaan buruk yang menimpa anaknya. Pada saat itu ia menghubungi anaknya ingin memastikan apakah anaknya baik-baik saja. Raya yang mendengarkan suara panggilan itu segera mengambil Hp nya.
"Assalamu'alaikum ibu?."
"Wa'alaikumussalam. Loh?. Suara kamu kok serak begitu?. Apakah terjadi sesuatu kepadamu?." Sebagai seorang ibu tentunya ia sangat khawatir dengan apa yang telah terjadi kepada anaknya.
"Raya baik-baik saja ibu. Hanya sedang tidak enak badan saja." Suaranya terdengar jelas sangat serak sekali.
"Apakah kamu demam?. Apakah suami kamu ada di sana?. Apakah dia tidak merawatmu?."
__ADS_1
Raya hanya tersenyum kecil mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya. Sepertinya ibunya sangat khawatir kepadanya sehingga ia memberikan pertanyaan yang banyak seperti itu.
"Raya udah baikan bu. Mas ravenska sangat baik. Tentu saja mas ravenska merawat raya dengan baik ibu."
"Alhamdulillah jika memang seperti itu anakku. Ibu hanya khawatir kepadamu makanya ibu menghubungi kamu."
"Ibu nggak usah khawatir kepada raya. Di sini raya baik-baik saja ibu. Mungkin minggu depan raya akan pulang untuk melihat kondisi ibu sama papa."
"Loh?. Emangnya kamu nggak ada kegiatan?. Apakah kamu sudah minta izin kepada suami kamu jika ingin pulang?."
"Mas ravenska pasti akan mengizinkan raya untuk pulang ibu. Tidak mungkin melarang raya pulang ke rumah orang tua raya sendiri."
"Kalau begitu, Kenapa kamu tidak pulang bersama suami kamu saja sekalian?. Rasanya sudah sangat lama sekali ibu tidak melihat kalian di rumah ini."
"Kalau mas ravenska akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya ibu. Jadi agak susah mengajaknya keluar."
"Oh?. Gitu toh. Apakah saat ini dia sedang sibuk bekerja juga?."
"Seperti biasa ibu, mas ravenska sedang banyak pesanan order batik, karena itulah mas raska kadang menginap dia kantor karena banyak kegiatan yang harus ya selesaikan."
"Ya sudah. Nanti kamu pulang sendirian saja. Jika kamu masih demam ibu bisa merawat kamu di rumah ini."
"Terima kasih banyak ibu. Kalau begitu raya mau lanjut membereskan rumah ini."
"Jangan terlalu kecapean kalau kamu masih demam. Bisa gawat kalau kamu terlalu memaksakan diri."
"Baik ibu."
"Kalau begitu panggilan ini ibu tutup ya?. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Raya sebenarnya ingin mengeluarkan semua masalah yang ada di dalam pikirannya pada saat itu kepada ibunya. Akan tetapi entah kenapa ia merasa tidak tegas saja jika ya mengadu kepada ibunya tentang kelakuan suaminya selama ini.
"Ya Allah ya maha pengasih lagi maha penyayang. Hamba serahkan semuanya kepadamu ya rob. Kuatkanlah hati dan iman hamba untuk menghadapi semua ini. jangan sampai hati hamba goyang begitu saja. Berikanlah hamba kekuatan untuk terus melangkah walaupun suatu saat nanti dia benar-benar mengatakan jika ia tidak mencintai hamba." Dalam hatinya pada saat itu benar-benar sangat gelisah dengan apa yang telah ia alami. Namun pada saat itu ia benar-benar tidak bisa menolak apapun kondisinya. Baginya Ravenska adalah segalanya, sehingga ia tidak ragu lagi untuk melakukan apapun untuk suami yang sangat dicintai walaupun mendapatkan penolakan yang membuat hatinya sakit yang sangat luar biasa sekali. Sebenarnya terbuat dari apa hatinya itu?. Sehingga yang rela merasakan bagaimana perasaan sakit hati mencintai seseorang dalam bayangan.
...***...
__ADS_1