CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 13


__ADS_3

...**...


Setelah makan malam sudah selesai, tidak ada pembicaraan di antara keduanya hingga sekarang. Mereka benar-benar seperti orang asing yang tinggal bersama. Hati mereka gelisah dengan situasi yang ia hadapi saat itu.


"Mas?."


Namun tidak ada tanggapan dari Ravenska. Apakah ia telah melakukan kesalahan?.


"Mas?."


Masih belum ada jawaban darinya, membuat Raya bingung dengan sikap Ravenska yang sangat berubah padanya. Ravenska sat itu seperti sedang terhipnotis pesan yang telah dikirim oleh Salsa padanya.


"Malam ini aku kesepian banget mas. Apakah kau tidak bisa datang ke tempat aku?."


"Aku juga kesepian ca."


"Apakah kamu enggak bisa datang?."


"Pekerjaan saat ini lumayan berat."


"Jadi pekerjaan lebih penting dari pada aku?."


"Kamu lebih penting Tapi pekerjaan ini juga penting demi masa depan kita. Ok sayangku?."


Ya, kira-kira seperti itulah chat rahasia mereka saat itu. Ravenska yang menghubungi Salsa secara rahasia tanpa diketahui oleh Raya. Namun saat itu Raya sekilas dapat melihat senyuman Ravenska, yang membuat ia penasaran.


"Apa yang membuat mas ravenska tersenyum?. Apakah dia menonton film lucu?." Ia mencoba untuk mengintip, akan tetapi pada saat itu Ravenska ingin bangun, hingga tanpa sengaja mereka malah berbenturan.


"Aduh!."


Keduanya meringis satu sama lain.


"Kamu ngapain sih?."


"Maaf mas, aku enggak sengaja."


"Kamu ini nyebelin ya ray?!."

__ADS_1


Dengan perasaan yang sangat kesal ia segara meninggalkan kamarnya. Ia keluar dengan membawa bantal dan selimut?.


"Mas?. Mau ke mana?."


Namun tidak ada jawaban apapun dari ravenska, mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Raya padanya.


Brakh!.


Terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras. Mungkin itu adalah luapan rasa sakit hatinya terima pada saat itu. Mempunyai bantingan pintu yang cukup keras itu membuat saya sangat terkejut.


"Mas?. Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?. Apakah ada kesalahan yang terjadi padaku?." Rasanya sangat berat ia ingin ketemu seperti itu. "Katakan sesuatu mas. Kenapa kamu mau melakukan aku seperti ini?. Aku kira kita bisa menjalin hubungan yang baik. Aku pikir kita bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman." Raya tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


"Akulah yang tidak bisa menerima hubungan kita lebih dari teman." Ravenska ternyata mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Raya. "Sebenarnya aku sama sekali tidak setuju dengan pernikahan kita. Hanya karena mama mengancam aku, maka pernikahan itu telah terjadi. Jangan salahkan aku jika aku tidak memperdulikan mu." Ravenska menyandar dengan perasaan sakit. "Pernikahan ini sama sekali tidak aku inginkan. Jadi maaf saja, jika aku tidak bisa menerima keberadaan sebagai seseorang yang sangat spesial di dalam hidupku." Ia mencoba melangkahkan kakinya dengan perasaan yang sangat berat menuju ruang tamu. "Bagiku salsa adalah wanita yang sangat spesial. Akan tetapi sepertinya kami tidak mendapatkan restu karena adanya dirimu. Harusnya aku menikah dengan salsa, bukan menikah denganmu. Tapi kenapa mama malah setuju denganmu?. Apakah karena Mama belum mengenal salsa?. Apa perlu aku bawakan salsa kehadapan mama?. Siapa wanita yang sangat aku cintai di dalam hidup ini. Ini sangat tidak adil buat aku." Hatinya pada saat itu dapat merasakan sakit yang sangat luar biasa. Kenapa ia tidak bisa menikah dengan wanita yang sangat ia cintai?. Apakah ia telah salah selama ini?.


...***...


Setelah sholat subuh raya mulai melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri. Mulai mengumpulkan pakaian kotor, setelah itu ia cuci dengan menggunakan mesin cuci. Namun sambil menunggu ia menyempatkan dirinya untuk menyiapkan sarapan mereka nantinya.


"Apakah mas ravenska udah bangun?." Ia mencoba untuk melihat keadaan suaminya. "Ternyata masih tidur toh?." Ia mencoba mendekati Ravenska. "Mas?. Mas?. Bangun mas."


Namun tidak ada tanggapan sedikitpun, tentunya membuat Raya sedih dengan sikap Ravenska yang seperti itu padanya.


"Mau ke mana kalian?."


"Enggak ada urusannya denganmu."


"Heh!."


Mereka terus melanjutkan perjalanan mereka, namun siapa yang menduga jika mereka memiliki arah yang sama?. Dan tempat yang sama?.


"Gue mau gebukin si istri mas ravenska. Kami enggak setuju jika dia menikah ayang beb kami."


"Gue juga enggak setuju kalo dia udah nikah sama cewek yang lebih jelek dari pada gue."


"Kalau gitu kita serang rame-rame aja biar lebih kapok dia."


Mereka langsung masuk ke dalam halaman rumah Raya. Sementara itu Ravenska saat itu memilih pindah ke kamar, sebab ia malas mendengarkan suara Raya yang memanggilnya mas terus.

__ADS_1


"Kamu itu sebenarnya kenapa mas?. Jangan seperti itu padaku." Dalam hatinya sangat sedih dengan apa yang ia rasakan saat itu.


Brakh!.


Saat itu Raya sangat terkejut karena ada dobrakan suara pintu yang sangat keras. Raya segera membuka pintu itu, matanya menangkap ad beberapa orang yang datang dengan wajah yang sangat gahar.


"Mau apa lagi kalian datang ke sini?. Apakah masih belum puas dengan apa yang kalian lakukan beberapa hari yang lalu?."


"Kami belum puas sebelum kami berhasil menyingkirkan lo dari sisi ayang beb kami."


"Heh!. Wanita yang enggak bisa berkaca!. Lo sadar gak sih?. Kalo lo itu gak pantes gandengan dengan mas ravenska."


"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Sebelum gue teriak maling kalian semua."


Namun apa yang ia dapatkan sat itu?. Mereka semua malah menyerang Raya dengan benda-benda yang mereka bawa. Tubuh Raya menjadi sasaran kemarahan yang mereka rasakan saat itu.


"Kegh!. Sakit!. Lepaskan!."


Raya berusaha untuk melawan mereka semua, ia dikeroyok lima orang sekaligus. Tentunya ia kewalahan menghadapi  mereka semua.


Duakh!.


Raya merasakan punggungnya di pukul dengan sesuatu yang sangat keras. Hingga ia sempat terdiam meresapi rasa sakit itu. Sementara itu Ravenska yang mendengarkan suara kegaduhan itu merasa sangat risih. "Apa lagi yang dibuat anak sial itu." Umpatnya dengan sangat kesal. Ia langkahkan kakinya menuju ruangan utama.


Namun saat itu ia melihat ada seorang wanita yang mengayun tongkat baseball ke arah pinggang raya, hingga ia berteriak kesakitan.


Deg!.


Ravenska sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu. Apalagi melihat Raya yang terjajar setelah mendapatkan serangan itu.


"Lo ingat ya?. Itu awal dari penderitaan lo!."


"Berani banget lo mau dapetin mas ravenska."


"Gue pastiin lu mampus setelah ini kalo lo masih saja serumah sama ayang beb gue."


"Enggak ada ampun bagi orang gak tahu diri kek lu." Seorang wanita menekan kuat kepala Raya, hingga ia hampir saja tersungkur sambil menahan sakit di pinggangnya saat itu. Pasti sakit.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2