CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 14


__ADS_3

...**...


Suasana di rumah Raya sangat tegang, mereka saat itu sedang dikuasai oleh amarah yang sangat tidak biasa.


"Lo ingat itu. Segera tinggalin ayang beb kami."


Bentak mereka dengan penuh kemarahan yang sangat luar biasa. Sementara itu Ravenska hanya diam melihat itu?. "Jadi bukan hanya aku saja yang tidak setuju dnegan pernikahan ini?. Ternyata mereka fans aku yang entah kapan?. Sangat tidak setuju dengan pernikahan aku?." Arah kenapa ia malah sangat senang dengan dukungan mereka?. "Apa yang telah kalian lakukan?." Tanpa sadar ia malah bertanya seperti itu pada merek semua dengan senyuman aneh.


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut melihat keberadaan Ravenska?. Mereka langsung mendekati Ravenska yang sangat mereka cintai itu?.


"Ravenska. Sudah lama banget enggak ketemu." Selvy Angel sangat senang melihat Ravenska yang semakin ganteng menurutnya.


"Ayang beb. Kami sangat rindu loh?. Ke mana aja sih?."


"Iya tu. Udah lama enggak ketemu?. Kok malah nikah sama asap kenalpot rusak sih?."


"Kami sangat kangen berat loh."


"Ayang beb pasti terpaksa menikah dengan makhluk gaib itu, kan?."


Suara mereka berlima benar-benar sangat berbeda dai yang tadi. Mereka benar-benar mengubah kepribadian dengan sangat lembutnya. Ravenska sampai bingung mau merespon seperti apa dengan ucapan mereka saat itu.


"Ka-ka-kalian siapa ya?."


"Ini aku loh?. Teman bisnis kamu yang menjual produk kecantikan."


"Kami ini fans berat kamu loh ayang beb."


Sebisa mungkin mereka terlihat cantik di hadapan Ravenska, dan mereka malah melupakan Raya yang masih kesakitan atas apa yang telah mereka lakukan padanya?. Raya dengan sekuat tenaga mencoba untuk menyeret tubuhnya agar bisa bertumpu pada meja, dengan tenaga yang tersisa ia mencoba untuk merogoh sakunya.


"Ya, halo pak." Suaranya saat itu terdengar sangat lemah. "Halo pak, saya mau lapor. Saya diserang lima orang wanita wanita gila, enggak normal mereka. Tolong tangkap mereka pak. Saat ini mereka masih berada di rumah saya yang di jalan ungkap ujung nomor tujuh puluh empat pak. Mohon segera diproses pak." Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menghubungi polisi, hingga saat itu tangannya terjuntai dengan lemahnya.

__ADS_1


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar. Mereka semua melihat Raya yang menyandar lemah tak berdaya menyandarkan kepalanya di meja. Hp-nya yang masih terhubung dengan panggilan polisi?. Mereka semua saat itu sangat panik?.


"Kalian tunggu aja dijemput polisi." Suaranya masih terdengar sangat lemah, wajahnya terlihat sangat pucat, dan juga ada beberapa luka cakaran di wajahnya. Selain itu rambutnya terlihat sangat acak-acakan, penampilannya sangat memperihatinkan.


"Dia seriusan manggil polisi?." Selvy Angel sangat panik.


Dan benar saja, saat itu ada enam orang polisi yang datang?. Secepat itukah mereka datang dengan panggilan Raya?.


"Raya?."


Namun salah satu dari polisi itu sangat terkejut dengan kondisi Raya yang terlihat sedang kesakitan?. Ia bergegas menggendong Raya, dan Raya langsung menangis ketika digendong polisi itu?. Dan membuat mereka terkejut adalah Raya yang menangis sambil memeluk polisi tampan itu?.


"Anggota siaga satu. Amankan kelima wanita itu. Jangan biarkan mereka lolos sebelum mendapatkan hukuman."


"Siap komandan."


Kelima anggota kepolisian itu langsung mengamankan kelima wanita yang telah menyakiti Raya?. Mereka diseret dengan paksa ke kantor kepolisian?. Benarkah?. Serius?.


...***...


"Maaf pak?."


"Tenang lah dek, mas udah nangkep mereka kok."


"Mas?." Ravenska masih bingung dengan apa yang telah dikatakan polisi itu?.


"Mereka jahat sama aku mas." Raya mengadu sambil menangis terisak.


"Ray?. Apa maksudnya ini ray?." Ravenska tentunya ingin mengetahui alasan itu semua. Pasti ada yang bisa dijelaskan Raya tentang itu semua.


"Tenang ya?." Pak polisi itu bahkan sampai menggendong Raya menuju kamarnya?.

__ADS_1


Keberadaan Ravenska seperti hantu bagi mereka saat itu. Ada?. Tapi tidak terlihat sama sekali, hingga suasana hati Ravenska ingin mengeluarkan kata-kata makian yang sangat kasar untuk mengungkapkan perasaan yang membuncah di hatinya. Setelah pak polisi membaringkan Raya di tempat tidur, menyelimuti Raya?. "Kamu tenang saja dek. Mas akan melindungi kamu." Ia elus kepala Raya dengan pelan.


"Terima kasih mas udah mau datang."


"Ya. Kamu tidur aja dulu, nanti mas panggil dokter untuk memeriksa keadaan kamu."


"Um." Raya hanya mengangguk saja.


Ravenska hanya memperhatikan itu dari pintu saja?. "Bagus ya?. Ternyata pak polisi sangat perhatian pada masyarakatnya dengan sangat mesranya." Ravenska merasa sakit hati dengan apa yang telah ia lihat saat itu.


Pak polisi menutup pintu dengan pelan, ia berjalan menuju ruang tamu. Ia menatap dengan seksama penampilan Ravenska yang sangat berbeda?. "Bagus ya ravenska?. Kek gini kelakukan lu setelah menikahi sepupu gue?."


Deg!.


Ravenska sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan pak polisi itu?. "Lo kenal gue?."


Pak polisi itu terlihat emosional mendengarnya. "Lo bajingan ya?." Tunjuknya dengan sangat kasar. "Padahal gue ini kakak kelas lu. Berani banget lu lupain gue ya?." Emosi, itulah yang ia ungkapkan saat itu. "Gue yang selalu jagain lu sama raya kalo lagi malam mingguan. Karena gue takut itu-ituan sama adek sepupu gue. Tapi lu gak kenal lagi sama gue?. Kurang ajar emang lu ya?."


Deg!.


Ravenska baru ingat dengan sosok itu?. Apakah benar yang ia dengar?. Ia lihat saat itu?. "Bang andri?."


"Ish!." Hampir saja ia layangkan sebuah pukulan yang sangat keras di pipi Ravenska, jika ia tidak segera menahan dirinya. Tentunya itu membuat Ravenska refleks menutupi wajahnya dengan menggunakan tangannya?.


"Du-duduk dulu bang." Dengan takut-takut ia mempersilahkan Andri duduk?.


"Hufh!." Andri mencoba untuk menenangkan dirinya, agar amarahnya tidak lepas begitu saja.


"Kok bisa di sini bang?. Tugas deket sini ya?."


"Kenapa bisa raya diserang kek gitu?. Lu gak liat raya udah takut kek gitu?. Lu itu suaminya!. Kok gak bertindak?." Bentaknya. Amarahnya semakin meledak-ledak. Ternyata ia memnag tidak dapat menahan amarahnya saat itu.


"Sial!. Gue harus ngomong apa?." Dalam hatinya sangat panik dengan apa yang ia rasakan saat itu. "Kenapa malah jadi kek gini sih?." Dalam hatinya sangat panik.

__ADS_1


Andri mengambil hp-nya, ia menghubungi seseorang. "Lo?. Ya?. Datang segera ke alamat yang gue shareloc. Jangan sampai telat." Setelah itu ia matikan panggilannya itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2