
...***...
Pukul 18.30.
Raya pada saat itu sudah melaksanakan salat Magrib. Akan tetapi pada saat itu ia melaksanakan salat magrib di rumah sakit. Karena pada saat itu ia sangat lemas dengan seseorang yang telah ia tolong. Meskipun ia tidak mengenali orang yang ia tolong, namun tetap baginya itu adalah kewajiban baginya.
Dengan salat khusuk yang mencoba untuk melaksanakan salat magrib di sana, dan tentunya ia berdoa. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Hanya kepadamu lama berserah diri, dan hanya kepadamu hamba memohon pertolongan. Jauhkanlah kami dari marabahaya, kuatkanlah hati kami dalam menghadapi segala cobaan di dunia ini." Itulah doa yang ia ucapkan. "Hamba hanya normal kepada-Mu berikanlah petunjuk kepada hamba apa yang telah terjadi kepada suami hamba sebenarnya. Lupakanlah hatimu ketika dia berhadapan dengan hamba ya Allah. Apa yang salah pada diri kamu sehingga ada perlakukan seperti itu oleh suami hamba ya Allah?. Dengan memuji nama-Mu, hamba serahkan hidup, mati hamba hanya kepadamu ya Rabb." Hanya seperti itulah doanya. Hatinya yang gelisah dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang berhubungan dengan apa yang telah terjadi pada suaminya.
Tak selang beberapa lama ia hendak menuju administrasi, saat itu ada seorang suster yang datang padanya.
"Maaf buk?. Bapak sudah bangun." Ia menunjuk ke arah ruangan yang menjadi tempat ruang pasien di rawat.
"Baik sus. Akan saya lihat." Ia hanya tersenyum kecil saja. "Bapak?." Dalam hatinya merasa sangat aneh.
Meskipun agak aneh, namun ia mencoba untuk memahami kondisinya saat itu. Raya memasuki ruangan perawatan orang yang telah berhasil ia selamatkan.
"Permisi." Ia terlihat agak canggung.
"Oh. Iya?." Pemuda itu terlihat terkejut ketika melihat ada seorang wanita cantik yang datang mendekatinya.
"Syukurlah kalau kamu terlihat baik-baik saja. Tadi aku menemukan kamu tergeletak di jalan, jadi aku menghubungi rumah sakit terdekat agar kamu mendapatkan perawatan." Hanya kata itu saja yang ia sampaikan untuk sekedar basa-basi.
"Terima kasih karena kamu telah menolongmu aku. Maaf jika suster tadi mengatakan kalau dia ingin memanggil istriku." Wajahnya terlihat memerah merona ketika ia menyebutkan kata istri.
__ADS_1
Raya hanya mampu tertawa saja ketika ia mendengarkan ucapan pemuda itu. "Aku tadi sangat terkejut ketika dia mengatakan bapak sudah bangun. Rasanya sangat panas sekali."
"Maaf jika itu membuat kamu merasa tidak nyaman." Begitu juga dengan pemuda itu. Dan yang paling aneh adalah ia merasa gugup ketika melihat senyuman yang manis itu.
"Ah. Lupakan saja." Raya mencoba mengabaikan perasaan itu. "Kalau begitu aku pulang dulu. Aku takut suamiku menunggu di rumah. Maaf ya?."
"Oh?. Enggak apa-apa. Maaf kalau aku telah membuat kamu menunggu di sini." Entah kenapa pula ia merasakan hatinya sedang retak. "Ternyata dia telah memiliki suami." Ada perasaan kecewa dan ia rasakan pada saat itu.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah itu Raya pergi meninggalkan tempat itu, karena ia takut jika Ravenska akan menunggunya?. Apakah memang seperti itu yang akan terjadi?. Hatinya sangat ragu sekali jika yang seperti itu yang terjadi.
"Sangat disayangkan sekarang. Ternyata wanita cantik seperti itu telah memiliki suami." Dalam hatinya sangat tidak nyaman. Dan ia juga tidak menduga, jika ia ditolong oleh seorang wanita yang sangat cantik. "Seandainya saja dia belum menikah?. Mungkin aku akan melamarnya, karena dia telah menolong nyawaku tanpa pamrih sedikitpun." Hatinya pada saat itu benar-benar sangat tersentuh dengan apa yang telah dilakukan oleh wanita cantik itu. "Oh!. Aku malah lupa bertanya namanya siapa?. Kenapa aku begitu bodoh?!." Tiba-tiba saja ia merasa kesal dengan dirinya sendiri karena ia tidak mengetahui siapa yang telah membantunya. Apakah yang ia lakukan jika ia tidak bisa mengetahui siapa yang telah menolongnya itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
"Apakah sebaiknya tidak istirahat dulu?. Nanti kamu bisa kelelahan juga terlalu lama menatap layar laptopmu itu." Dengan senyuman yang sangat ramah ia berkata seperti itu.
"Jika menatap monitor ini aku sanggup dalam waktu yang lama?. Menatap wajahmu dengan senyuman manis itu membuat aku semakin betah." Ia kedipkan matanya itu.
"Ih!. Kamu ini ya mas?. Masih saja sempat menggombal aku?. Kamu ini benar-benar rajanya gombal ya mas?." Salsa malah tersipu malu.
"Hihihi!. Karena kamu adalah magnet pawang gombal aku. Jadi ketika aku berada di dekatmu?. Semua yang ada di dalam pikiranku keluar begitu saja." Ia ambil minuman yang dibawa oleh Salsa, ia minum beberapa tepung dengan penuh penghayatan. "Seperti biasanya, kamu itu selalu tahu apa yang aku inginkan. Kamu benar-benar wanita yang sangat sempurna untuk aku."
__ADS_1
"Dah lah mas. Rasanya aku tidak sanggup mendengarkan rayuan gombal begitu." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan ruangan itu.
"Loh?. Kenapa kamu tidak berada di sini saja?." Ravenska seakan-akan hendak menahan dirinya pada saat itu.
"Nanti saja setelah kamu selesai bekerja. Aku mau menyiapkan pakaian kerja untukmu besok. Bukankah kamu ada pertemuan penting dengan klien besok?." Dengan senyuman yang sangat ramah ia menjawabnya.
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya?."
Salsa malah tertawa mendengarkan itu, setelah itu ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.
"Jadi besok aku terpaksa kembali lagi ke rumah itu?. Rasanya sangat berat sekali meninggalkan rumah ini." Dalam hatinya sangat keberatan apa yang telah ia lakukan. "Andai saja jika mama merestui hubungan kami. Aku yakin aku akan menjadi orang yang sangat bahagia." Dalam hatinya pada saat itu hanya gelisah dengan restu dari mamanya.
...***...
Raya baru saja sampai di rumah.
Hatinya sangat miris sekali dengan apa yang telah terjadi. Padahal saat itu ia berharap, jika Ravenska menyambut kepulangannya. Namun itu semua hanyalah khayalannya belaka saja.
"Tapi rasanya akan sia-sia, karena dia sama sekali tidak akan pernah datang. Bahkan sampai lima hari dia tidak pulang." Dalam hatinya sangat miris dengan apa yang telah ia rasakan selama menikah dengan Ravenska. "Mau sampai kapan kamu akan aku lakukan aku seperti ini mas?." Dengan penuh tanda tanya, ia merasa sangat heran dengan perubahan sikap Ravenska yang sangat berbeda dari yang dulunya dengan yang sekarang. Apakah tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan cinta dari Ravenska?.
Raya mencoba untuk masuk ke kamarnya yang terasa sangat sepi. Ia mencoba untuk memberikan tubuhnya di tempat tidur suaminya yang tidak akan pernah melihat ke arahnya. "Apa yang seharusnya aku lakukan?. Apakah aku harus minta cerai kepadanya?. Supaya aku benar-benar merasa lega dengan perasaan cinta yang tak terbalas ini." Saat itu ia usap bantal yang menjadi penyangga kepala suaminya.
"Apakah mungkin aku terlalu berharap?." Dalam hatinya kembali merasakan sakit yang sangat luar biasa di dalam hidupnya saat itu. "Aku tidak pernah menduga jika perasaan inilah yang aku rasakan?. Sakit." Ada perasaan menyesal yang terselip di hatinya.
__ADS_1
Next.
...***...