CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 8


__ADS_3

...***...


Entah mimpi apa la malam tadi, karena ada empat orang wanita yang tidak kenal menyerangnya.


"Sejak kapan mas ravenska memiliki fans ganas kek gitu?" Dalam hatinya merasa sangat aneh dengan apa yang telah dilakukan oleh mereka padanya. Saat itu yang bisa ia lakukan hanyalah mengobati luka yang ia terima dari perbuatan mereka. "Apa yang mereka lakukan itu hampir saja membuat aku gila." Ia masih ingat, bagaimana ketika ra mengancam mereka semua agar pergi dari rumahnya.


Ting Tong !. Saat itu ia mendengar suara bel dibunyikan seseorang.


Deg!!.


Raya sangat terkejut, ia sangat cemas, "Apakah mereka balik lagi." Raya bersiap-siap mengambil gunting. Apa gue bunuh aja mereka ya?." Dalam hatinya timbul niat yang tidak baik.


Sementara itu seseorang yang berada di depan rumah?. "Apa mereka enggak ada di rumah ya?." Karena tidak ada tanggapan dari dalam. "Ravenska?. Raya?. Assalamualaikum."


Deg!.


Raya Kembali terkejut, karena la kenal dengan suara itu.


"Lah?. Bukannya itu tante, eh mamanya mas ravenska?." Dalam hatinya sangat panik, segera ia sembunyikan gunting yang ia pegang.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Raya buru-buru membuka pintu itu. "Mama?." Raya salim Pada mama mertuanya.


"Loh?. Ternyata ada di rumah toh?."


"Iya ma, tadi lagi beres-beres rumah."


"Tapi kok kamu luka-luka kek gitu?."


"Mari masuk dulu ma." Raya mempersilahkan mama mertuanya masuk, mereka duduk di ruang tamu.


"Obat P3k?. Kamu kok bisa luka?. Kamu abis ngapain?."


"Enggak apa-apa kok ma."


"Apa kamu dipukul sama Ravenska?."


"Bukan mas ravenska ma."

__ADS_1


"Terus siapa yang telah membuat kamu luka?."


Perasaan Maisya sangat tidak tenang dengan apa yang telah dialami oleh menantunya itu, ia takut terjadi sesuatu pada Raya. Apa lagi Raya seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya?.


"Sebaiknya kamu jujur aja sama mama. Kamu kenapa sayang?. Kalau kamu dipikuli sama anak mama?. Mama yang akan memukulnya balik."


"Itu, fansnya mas ravenska yang telan nyerang raya ma."


"Fans Ravenska?. Kok bisa?. Sejak kapan dia punya fans?. Lah?. Dia bukan artis." Sontak ia terkejut.


"Mereka yang bilang kek gitu ke raya ma." Saat itu raut wajah yang terlihat sangat sedih.


"Astagfirullah halazim ya Allah. Tega banget mereka melakukan hal yang kejam sama kamu raya." Maisya tidak tega melihat keadaan menantunya. "Kalau begitu mama bantu ngobatin luka kamu ya?."


"Terima kasih ma."


"Sama-sama." Balasnya dengan senyuman ramah. "Apa kamu udah kabarın tahu sama ravenska?. Kalau ada orang nyerang kamu?."


Raya hanya menggelengkan kepalanya.


"Loh?. Kok enggak dikasih tahu?. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu?."


"Soalnya raya gak mau ngerepotin mas ravenska yang lagi menghadapi masalah di kantor."


"Iya ma." Raya hanya tidak ingin membuat Mama mertuanya itu khawatir padanya.


"Jika ravenska tidak bertindak juga?. Aku harus apa?. Tidak mungkin rasanya aku ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Tapi jika ini menyangkut nyawa menantuku, aku tidak akan diam." Dalam hati Maisya sangat tidak terima dengan apa yang telah dialami oleh menantunya. Sebagai orang tua yang merasa bertanggung jawab kepada anak gadisnya itu.


...***...


Sementara itu di rumah Salsa?.


Ternyata Ravenska saat itu sedang bersama Salsa, saat itu ia sedang memanjakan pacarnya yang sedang hamil. Perasaan yang ia rasakan pada saat itu sedang berbunga-bunga karena mengetahui pacarnya itu sedang hamil. Tapi apakah dia mengetahui jika istrinya di rumah sedang diserang oleh beberapa orang wanita yang sangat mencintai dirinya?. Tentu saja ia tidak mengetahui itu karena saat ini hatinya hanya terkejut pada Salsa saja.


"Kamu itu semakin cantik sejak kamu hamil. Entah kenapa aku semakin jatuh hati kepadamu."


"Kamu ini terlalu banyak menggombal mas."


"Supaya anak kita jadi orang yang romantisan nantinya."

__ADS_1


"Hahaha!. Mas ini bisa saja."


Saat itu keduanya terlihat seperti sepasang suami istri yang sangat bahagia.


"Tapi mas telah berjanji, jika anak ini lahir nantinya?. Mas akan segera menikahi aku, kan?."


"Tentu saja. Aku nggak akan melupakan janji itu. Aku telah menyiapkan mahar yang sangat mahal untuk menikahi kamu nantinya."


"Benarkah?."


"Kamu adalah wanita yang sangat aku cintai, jadi aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan kamu, membahagiakan anak kita nantinya."


"Oh, mas ravenska." Salsa benar-benar tidak tahan mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh Ravenska saat itu. Hatinya benar-benar apa yang telah ia dengar saat itu.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengingkari janji yang telah aku ucapkan kepada wanita yang sangat aku cintai."


"Rasanya aku benar-benar menjadi seorang wanita yang sangat bahagia di dunia ini, karena dicintai oleh seorang lelaki yang baik hati seperti kamu mas."


"Justru aku adalah orang yang sangat bahagia di dunia ini karena menemukan orang yang sangat sabar seperti kamu."


Entah kesurupan apa keduanya pada saat itu mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Seakan-akan keindahan dunia yang telah mereka capai saat itu. Ingatan dan kenangan romantis yang pernah mereka lalui terbayang-bayang di dalam pikiran mereka saat itu juga. Tidak ada ungkapan kebahagiaan yang mereka rasakan selain hanya tinggal berdua saja.


"Mas, kalau aku meminta sesuatu kepadamu?. Apakah kau akan menuruti apa yang aku katakan?."


"Memangnya kamu mau apa?. Katakan saja apa yang ingin kamu mau saat ini. Maka aku akan menuruti apapun yang kamu mau." Ucapnya sambil memberikan kecupan manis di kening Salsa.


"Saat ini aku mau jalan-jalan bersamamu."


"Jalan-jalan?. Emangnya kamu mau jalan-jalan ke mana?. Mau belanja?. Atau liburan beberapa hari ke tempat yang menyenangkan?. Dengan senang hati aku akan mengantar kamu ke mana saja ke tempat yang kamu inginkan."


Salsa terlihat sangat senang mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Ravenska kepadanya. "Aku hanya ingin jalan-jalan ke mall saja. Mungkin kita menemukan barang-barang yang lucu untuk bayi kita nantinya."


"Untuk anak kita?. Mari kita jalan-jalan." Ravenska terlihat sangat bersemangat mendengarkan ucapan itu.


"Sekarang nih ya?."


"Ya sekarang. Masa tahun depan sih?. Ya udah lahir lah anak kita." Ucapnya sambil menggandeng tangan Salsa dengan sangat romantisnya.


"Oke. Mari kita jalan-jalan." Salsa pun tampak bahagia saat itu.

__ADS_1


Kedua insan itu benar-benar merasakan kebahagiaan yang sangat hakiki, tidak ada kebahagiaan yang lain yang mereka rasakan pada saat itu, selain hidup berdua saling berdampingan, dan bergandengan tangan dengan sangat romantisnya.


...***...


__ADS_2