
...***...
Raya pada saat itu sangat senang, karena ketika ia masih terbangun ia masih sempat melihat suaminya yang baru saja datang.
"Mas?. Kamu baru nyampe mas?."
Akan tetapi sama sekali tidak ada tanggapan dari suaminya itu.
"Mau aku buatkan kopi hangat untuk kamu mas?."
"Enggak usah."
"Tunggu mas."
"Aku tu dah capek. Jangan bikin aku emosi."
Raya terdiam mendengarkan ucapan itu, dan ia tidak berani untuk menegur Ravenska yang masuk ke kamar.
"Kamu itu ada niat gak sih mas?. Aku ini istri kamu." Dalam hatinya sangat sakit dengan perlakuan Ravenska yang seperti itu padanya.
Sementara itu Ravenska sedang membalas chat dari Salsa, bahwa ia mengabari jika ia belum bisa pulang besok.
"Maaf ya sayang, besok aku belum bisa pulang. Tapi aku janji akan memberikan kejutan yang manis untuk kamu."
"Benarkah?. Wah, aku gak sabar untuk menunggu hari itu."
"Hehehe. Sabar ya sayang. Semoga aja kamu suka dengan kejutan itu."
"Tentu saja aku sangat suka."
Ravenska saat itu tidak menyadari, jika Raya melihatnya yang sedang tersenyum manis. Entah apa yang ia lihat dari hp-nya itu, tapi senyumannya terlihat sangat berbeda ketika berhadapan dengannya. Hatinya sangat sakit, karena ia tidak bisa mengambil hati Ravenska seperti dulu.
...***...
Sementara itu rumah Maisya.
__ADS_1
Ia sedang berbicara dengan seseorang yang ia sewa untuk melihat apa yang telah terjadi pada anaknya.
"Bagaimana hasil yang kamu dapatkan?. Apakah kamu melihat apa yang telah aku minta?."
"Hasilnya sangat mencengangkan sekali nyonya."
"Coba aku lihat." Maisya ingin melihat hasilnya.
Deg!.
Matanya terbelalak terkejut ketika melihat foto anaknya sedang bersama wanita yang sedang hamil?.
"Kamu yakin kalau kamu yang mengambil foto ini?."
"Tentu saja nyonya. Saya sendiri yang mengambilnya. Bahkan saya mengambil videonya." Ia putar sebuah video yang menunjukkan bagaimana anaknya Ravenska yang terlihat sangat mesra sekali dengan wanita hamil itu.
"Kurang ajar sekali anak itu. Akan aku bunuh dia!." Emosinya sangat memuncak.
"Tenang lah ma, kita masih bisa meminta penjelasan dari anak kita, jangan asal bunuh saja." Bambang sangat cemas dengan apa yang akan dilakukan istrinya.
"Sama-sama nyonya. Jika ada apa-apa hubungi saja saya."
"Ya."
Setelah itu mata-mata itu segera pergi dari sana setelah menerima sejumlah uang yang sangat banyak. Itu adalah upah yang ia dapatkan dari pekerjaan yang ia lakukan.
"Mama dengar papa?."
"Ya."
Maisya saat itu sedang menahan perasaan benci pada anaknya sendiri. "Jika saya raya mengetahui masalah ini?. Apa yang akan aku katakan pada anak itu untuk menenangkannya?." Dalam hatinya sangat bimbang dengan apa yang akan ia lakukan setelah itu.
...***...
Raya sebenarnya saat itu sudah tidak tahan lagi. Ia sudah tidak kuat dengan apa yang ia rasakan. Kebetulan saat itu Ravenska masih terbangun, belum tidur sama sekali.
__ADS_1
"Mas. Apakah kamu tahu?. Mencintai seseorang dalam bayangan itu sangat sakit. Apalagi jika bayangan itu terlalu redup, hingga ia kalah dengan cahaya yang sangat menyilaukan." Raya mencoba untuk menyampaikan apa yang ia rasakan saat itu.
"Jika kau lelah mengejar bayangan itu. Maka kau hentikan saja, karena tidak semua bayangan akan mengikuti tinggi ukuran pemilik bayangan." Balasnya dengan perasaan kesal.
"Tapi bayangan itu selalu mencoba agar terlihat diantara cahaya. Sebab dimana ada cahaya di sana ada bayangan yang membuat ia mencoba untuk bertahan dalam rasa sakit yang ia rasakan mas."
"Jika kau merasa sakit, aku rasa tidak usah mencoba. Karena apapun ingin kamu coba hasilnya percuma saja. Karena cahaya telah menemukan di mana ia memberikan kehangatan pada bayangannya."
"Termasuk menyimpan bayangan lain untuk mendapatkan kebahagiaan?."
Deg!.
Ravenska sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Raya, tiba-tiba saja hatinya sangat panas dengan apa yang telah dikatakan Raya.
"Sebaiknya kamu diam saja. Aku sangat muak berbicara panjang lebar sama kamu!." Ia meninggikan suaranya, ia lampiaskan semua kemarahan yang ia rasakan.
"Seorang kamu mulai pemarah, padahal dulu tdiak seperti itu mas." Raya mulai merasakan sakit yang sangat luar biasa. "Aku sangat kecewa sama kamu." Setelah berkata seperti itu ia pergi ke luar. Ia ingin menenangkan dirinya agar bisa mencerna dengan apa yang telah terjadi padanya saat itu.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mengetahui jika aku sebenarnya memiliki calon istri dan calon anak. Aku akan ceraikan kamu dengan alasan tidak bisa mengurus anak, dan aku akan menikahi salsa. Hanya salsa saja yang akan menjadi istri aku, bukan kamu raya. Wanita yang sama sekali tidak aku harapkan." Dalam hati Ravenska sama sekali tidak peduli dengan nasib Raya akan jadi seperti apa jika ia menceraikan wanita itu. "Aku yakin kau akan bersujud kepadaku, meminta belas kasihan kepadaku agar tidak menceraikan kamu. Aku sangat jamin itu." Dalam hatinya sangat percaya diri sambil membayangkan bagaimana Raya yang menangis darah meminta untuk tetap bersama.
...***...
Di rumah Salsa.
Hatinya sedang berbunga-bunga, karena ia sudah tidak sabar lagi akan menerima apa yang akan diberikan Ravenska padanya.
"Dia itu kalau telah memberikan kejutan tidak nanggung-nanggung. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi dengan apa yang akan diberikannya pada pertemuan besok ini." Ia masih belum bisa membayangkan dalam bentuk apa. "Semoga saja itu barang yang sangat berharga. Aku ingin dia membelikan aku hal yang sangat berharga di dunia ini." Dengan perasaan yang menggebu ia berharap seperti itu. Baginya saat itu kebahagiaan yang sangat sempurna adalah ketiak ia bersama Ravenska. "Aku sangat rindu padamu mas. Apakah kamu tidak bisa pulang sekarang?." Dalam hatinya tidak bisa lepas dari bayangan Ravenska yang telah berjanji akan memberikan kebahagiaan yang sangat ia idam-idamkan selama ini.
...***...
Sementara itu Raya, ia masih termenung di kamarnya. Hatinya sangat sakit mengingat apa yang telah ia alami setelah menikah dengan Rangga. Kehidupannya yang sangat hebat, sangat romantis?. Sangat bahagia?. Ternyata itu semua hanyalah khayalan semata, ia bangun dengan kenyataan yang sangat menyakitkan yang pernah ia lihat selama ini. Hatinya yang dipenuhi dengan perasaan cemas, gelisah dan tidak tentu arah.
"Kenapa pernikahan yang aku jalani malau berakhir seperti ini?." Dalam hatinya sangat sakit dengan kejadian yang telah ia alami selama ini. Apalagi mengingat kepercayaan, cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang sangat ia cintai?. "Kenapa rasanya sangat menyakitkan seperti ini?." Rasanya ia sangat ingin menangis seperti orang lain, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu tanpa bantuan lainnya.
...***...
__ADS_1