
Satu Minggu telah berlalu.
Untuk saat itu kondisi rumah tangganya masih aman, karena Raya tidak ingin membuat masalah ataupun hubungan mereka semakin renggang. Mereka telah kembali kepada aktivitas masing-masing, tentunya masih dalam keadaan dingin. Raya hanya mencoba untuk bertahan walaupun terasa sakit. Sakit yang ia rasakan bukan karena dipukul ataupun dihajar fisiknya. Akan tetapi sikap Ravenska lah yang telah membuatnya seperti itu.
Pagi itu seperti biasanya, Raya telah menyiapkan sarapan untuk mereka. Akan tetapi Ravenska sama sekali tidak menyentuh makanan itu, ia hanya melewatinya saja. Tentunya itu membuat hati Raya sangat sedih.
"Mas?." Raya mencoba untuk memanggil suamimu itu. "Apa enggak sarapan dulu?. Ini aku buatkan bekal untuk kamu mas."
"Aku lagi malas makan. Aku ada rapat penting hari ini. Aku masih bisa makan di kantor nantinya. Kalau bawa bekal aku gak bisa, soalnya takut kena tumpahan lauk yang kamu buat. Nanti proposal ku bisa hancur." Setelah berkata seperti itu ia pergi begitu saja tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Raya saat itu.
"Mas?. Apakah kamu tidak cinta kepadaku?." Dalam hatinya mulai mempertanyakan bagaimana sesungguhnya perasaan Ravenska terhadap dirinya. "Apakah aku tidak bisa menggapaimu?. Apakah hanya aku saja yang terlalu cinta kepadamu?." Hatinya mulai terasa sakit, sakit yang membuat dadanya semakin sesak. "Katakan kepadaku jika kau tidak mencintaiku mas. Maka aku akan melepaskan semuanya." Apakah ia memang sulit melakukan itu?. Atau pada saat itu ia hanya melampiaskan rasa kecewa dan sedih yang ada di hatinya?. Bisa saja seperti itu yang terjadi.
...***...
Di rumah Salsa.
Saat itu ia mencoba menghubungi Ravenska. Perasaan gelisah mulai dia rasakan karena seminggu ini tidak ada kabar Ravenska?. Hingga akhirnya panggilannya tersambung dengan sangat baik.
"Halo mas?. Kamu berada di mana sih?. Aku udah kangen banget sama kamu."
"Aku juga kangen sama kamu sayang."
"Kalau begitu datanglah ke rumahku. Aku sangat merindukanmu sampai-sampai Aku tidak bisa tidur."
"Baiklah. Malam ini aku akan datang menemuimu. Mohon bersabar ya?."
"Kenapa tidak sekarang?. Kenapa harus menunggu malam?. Apakah kamu tidak mencintai aku lagi?."
"Tentunya aku sangat mencintaimu. Aku akan datang pada malam hari, supaya aku dapat melihat keindahan cantikmu masih seperti rembulan yang bersinar di hatiku."
"Oh, mas ravenska. Kamu jangan membuat aku semakin rindu dengan kata-kata gombalmu itu."
__ADS_1
Tadinya Salsa menangis karena tidak dapat menahan perasaan rindu yang sangat dalam terhadap orang yang ia cintai. Akan tetapi ketika ia mendengarkan rayuan gombal dari Ravenska, seketika hatinya luluh lantah dengan apa yang ia dengar.
"Hanya kepadaMu saja aku membuat kata-kata gombal ini. Karena aku memang sangat mencintaimu."
"Baiklah kalau begitu akan aku tunggu malam ini ya mas?."
"Ya. Tunggulah aku dengan keindahan cantikmu malam ini. Akan aku bawa engkau dengan penuh kerinduan yang mendalam."
"Yah aku akan menunggu pelukan hangat itu. Akan aku tumpahkan semua rasa rindu yang ada di dalam hatiku saat ini."
Pada saat itu mereka seakan-akan melemparkan perasaan rindu melalui kata-kata, kata-kata seorang puitis yang sedang menahan perasaan cinta yang terpendam. Apakah mereka benar-benar telah dibutakan oleh cinta?. Sehingga tanpa perasaan malu mereka mengungkapkan begitu saja, apa yang mereka rasakan.
...***...
Sementara itu Raya di rumahnya.
Yang bisa ia lakukan hanyalah membereskan rumahnya dengan segenap hatinya. Meskipun sebenarnya suasana hatinya pada saat itu sedang gelisah. Namun ia mencoba untuk menghilangkan perasaan sedih itu dengan melakukan beberapa pekerjaan yang bisa ia lakukan. Akan tetapi pikirannya pada saat itu melayang entah ke mana.
"Ray, kamu mau makan apa?. Aku laper nih!."
"Ya sih. Laper banget."
"Emangnya kamu mau makan apa?."
"Apa aja yang bisa dimakan. Asalkan jangan makan orang makan batu apalagi makan kayu."
"Ahaha!. Kamu ini bisa saja jika bercanda."
Kedekatan mereka saat itu seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Meskipun mereka belum menyadari perbedaan kedekatan sahabat dengan kedekatan sepasang kekasih. Namun orang-orang yang melihat kedekatan mereka sangat iri, karena keduanya terlihat sangat serasi.
"Ya sudah, kita makan bakso aja ya?."
__ADS_1
"Boleh lah."
Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi ke kantin kampus untuk makan bakso. Mereka memesan dua porsi untuk dimakan, dan beberapa minuman.
"Bismillahirrahmanirrahim." Raya mulai menikmati bakso yang mereka pesan tadi. Begitu juga dengan Ravenska yang terlihat sangat menikmati bakso yang mereka pesan.
Namun pada saat itu entah kenapa tiba-tiba saja Raya merasakan pedas yang tidak biasa. Sehingga ia terbatuk?.
"Minum." Secara spontan Ravenska mengambil minuman untuk Raya.
Sedangkan Raya dengan terburu-buru ia mengambil dan meminumnya, karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa pedas yang menjalar di lidahnya saat itu.
"Loh?. Kamu kok bisa kepedasan sih?." Ucapnya sambil memberikan tisu pada Raya.
"Enggak tahu nih. Rasanya baik-baik aja kalau makan pedas kayak gini."
"Mungkin kamu lagi sariawan."
"Keknya sih iya."
Raya malah tertawa kecil, karena ia menyadari aku yang dikatakan oleh Ravenska memang ada benarnya.
"Kamu ini ya?. Kebiasaan yang suka lupa dengan apa yang aku rasakan."
Kembali ke masa ini.
Ingatan itu memang cukup sederhana, tapi entah kenapa ingatan itu begitu berkesan bagi Raya. Baginya pada saat itu perhatian yang diberikan oleh Ravenska adalah hal yang paling membahagiakan baginya. Namun sekarang apa yang terjadi?. Ravenska begitu sangat cuek kepadanya bahkan tidak melihat ke arahnya.
"Apakah aku harus memberanikan diriku untuk bertanya kepadamu mas?. Apakah aku harus mengatakan kepadamu?. Apakah hanya aku yang terlalu mencintaimu?. Apakah pernikahan kita ini ada yang salah?. Jangan katakan kau tidak mencintaiku." Hatinya pada saat itu merasakan kesedihan yang sangat dalam. "Katakan kepadaku sesuatu. Jangan perlakukan aku seperti itu, seakan-akan engkau memberi kode kepadaku bahwa jika kau memang tidak mencintaiku. Tapi hanya aku sendiri saja yang mencintaimu sejak dahulu. Sejak pertama kita bertemu, cinta yang mungkin hanya aku yang rasakan." Dalam hatinya terus mengingat apa saja yang telah mereka lalui. Namun pada saat itu tidak ada yang salah pada mereka berdua. Rasanya Ravenska menyambut dengan baik apa yang telah ia lakukan kepada pemuda yang sangat ia cintai itu. Tidak ada yang salah pada saat itu, keduanya seakan-akan seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran, dan sedang merangkai kisah cinta yang hebat.
...***...
__ADS_1