CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 26


__ADS_3

...***...


Siang hari, saat itu Raya merasakan perasaan yang tidak enak sama sekali, saat itu ia mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi padanya saat itu. Hatinya yang saat itu masih dikuasai oleh kesedihan yang tidak biasa.


Kembali ke masa itu.


"Mas?."


Namun tidak ada tanggapan dari Ravenska. Apakah ia telah melakukan kesalahan?.


"Mas?."


Masih belum ada jawaban darinya, membuat Raya bingung dengan sikap Ravenska yang sangat berubah padanya. Ravenska sat itu seperti sedang terhipnotis pesan yang telah dikirim oleh Salsa padanya.


"Malam ini aku kesepian banget mas. Apakah kau tidak bisa datang ke tempat aku?."


"Aku juga kesepian ca."


"Apakah kamu enggak bisa datang?."


"Pekerjaan saat ini lumayan berat."


"Jadi pekerjaan lebih penting dari pada aku?."


"Kamu lebih penting Tapi pekerjaan ini juga penting demi masa depan kita. Ok sayangku?."


Ya, kira-kira seperti itulah chat rahasia mereka saat itu. Ravenska yang menghubungi Salsa secara rahasia tanpa diketahui oleh Raya. Namun saat itu Raya sekilas dapat melihat senyuman Ravenska, yang membuat ia penasaran.


"Apa yang membuat mas ravenska tersenyum?. Apakah dia menonton film lucu?." Ia mencoba untuk mengintip, akan tetapi pada saat itu Ravenska ingin bangun, hingga tanpa sengaja mereka malah berbenturan.


"Aduh!."


Keduanya meringis satu sama lain.

__ADS_1


"Kamu ngapain sih?."


"Maaf mas, aku enggak sengaja."


"Kamu ini nyebelin ya ray?!."


Dengan perasaan yang sangat kesal ia segara meninggalkan kamarnya. Ia keluar dengan membawa bantal dan selimut?.


"Mas?. Mau ke mana?."


Namun tidak ada jawaban apapun dari ravenska, mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Raya padanya.


Brakh!.


Terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras. Mungkin itu adalah luapan rasa sakit hatinya terima pada saat itu. Mempunyai bantingan pintu yang cukup keras itu membuat saya sangat terkejut.


"Mas?. Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?. Apakah ada kesalahan yang terjadi padaku?." Rasanya sangat berat ia ingin ketemu seperti itu. "Katakan sesuatu mas. Kenapa kamu mau melakukan aku seperti ini?. Aku kira kita bisa menjalin hubungan yang baik. Aku pikir kita bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman." Raya tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


"Akulah yang tidak bisa menerima hubungan kita lebih dari teman." Ravenska ternyata mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Raya. "Sebenarnya aku sama sekali tidak setuju dengan pernikahan kita. Hanya karena mama mengancam aku, maka pernikahan itu telah terjadi. Jangan salahkan aku jika aku tidak memperdulikanmu." Ravenska menyandar dengan perasaan sakit. "Pernikahan ini sama sekali tidak aku inginkan. Jadi maaf saja, jika aku tidak bisa menerima keberadaan sebagai seseorang yang sangat spesial di dalam hidupku." Ia mencoba melangkahkan kakinya dengan perasaan yang sangat berat menuju ruang tamu. "Bagiku salsa adalah wanita yang sangat spesial. Akan tetapi sepertinya kami tidak mendapatkan restu karena adanya dirimu. Harusnya aku menikah dengan salsa, bukan menikah denganmu. Tapi kenapa mama malah setuju denganmu?. Apakah karena Mama belum mengenal salsa?. Apa perlu aku bawakan salsa kehadapan mama?. Siapa wanita yang sangat aku cintai di dalam hidup ini. Ini sangat tidak adil buat aku." Hatinya pada saat itu dapat merasakan sakit yang sangat luar biasa.


Kembali ke masa ini.


Setelah itu Raya mengambil obat salap yang telah ia beli sebelum mereka kembali. Dengan pelan ia oleh ke pinggangnya yang masih terasa sangat sakit. Memang terlihat sangat jelas ada keringat yang membasahi kepalanya, dan saat itu ia terlihat sangat pucat. "Oh, sakit banget." Ia sampai menyandarkan kepalanya di atas meja untuk menahan tubuhnya. Untuk sesaat ia resapi obat yang telah menyatu dengan kulitnya, karena menghilangkan rasa nyeri yang mendera pinggangnya setelah menerima pukulan keras.


Deg!.


Entah kenapa Ravenska merasa tidak tega ketika melihat itu, tapi perasaan lain mengatakan untuk mengabaikan itu?. Walaupun seharian ini Raya telah berjuang menahan rasa sakit di pinggangnya untuk menyembunyikan apa yang telah ia rasakan saat itu?. "Apakah aku sudah keterlaluan sama dia?." Dalam hatinya sedang menanyakan pertanyaan seperti itu pada dirinya sendiri?.


"Mas. Bisa bantu aku ke kamar mas?. Rasanya sangat sakit banget mas." Suaranya terdengar sangat lemah sambil menahan rasa sakit itu.


Namun apa yang terjadi?. Ravenska saat itu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah?. Ia seakan-akan tidak mendengarkan apa yang telah dikatakan Raya saat itu?.


"Apakah seperti ini balasan kamu mas?. Setelah aku berusaha dengan sekuat tenaga aku menahan perasaan sakit ini?." Dalam hatinya sangat sakit, dan tanpa sadar air matanya mengalir dengan sendirinya membasahi pipinya. Tapi sayangnya ia menangis tanpa suara, ia simpan suara tangisannya itu ke dalam hatinya.

__ADS_1


Kembali ke masa ini.


Apakah pada hari itu ia hanya mengingat masa-masa yang menyakitkan saja?. Apakah ia tidak bisa mengingat masa bahagia bersama orang yang ia cintai?. Bukankah ia sangat mencintai Ravenska?. Sehingga ia mencoba menahan rasa sakit yang mendesak dadanya ketika ia diperlakukan seperti itu oleh orang yang sangat ia cintai?.


Sementara itu Ravenska sedang berada di kantornya. Akan tetapi pada saat itu ia mendapatkan panggilan dari mamanya.


"Apa yang mama inginkan dengan menghubungi aku jam seperti ini?." Dengan sangat berat hati ia mengangkat panggilan itu.


"Ya ma?."


"Kamu lagi di kantor?."


"Iya ma."


"Bagaimana dengan raya?. Apakah dia udah ada tanda-tanda akan hamil?."


Deg!.


Saat itu jantungnya berdetak dengan sangat kencangnya karena pertanyaan itu. Apa yang akan ia katakan pada mamanya jika pertanyaan itu yang diajukan?.


"Kenapa kamu diam saja?. Apakah mama memberikan pertanyaan yang aneh kepadamu?."


"Enggak ma."


"Lantas kenapa tidak dijawab."


Ravenska benar-benar sangat panik, namun saat itu ia mencoba untuk tetap tenang. "Kenapa mama tidak bertanya langsung kepada anak kesayangan mama itu?."


"Pasti. Mama pasti akan bertanya pada raya. Tapi sebelum itu mama mau tanya sama kamu, sebab sumbernya ada sama kamu. Tidak mungkin anak perempuan mama belum hamil, jika belum kamu sentuh sama sekali."


Deg!.


Ravenska semakin gugup dengan pertanyaan itu, sebab jika diperintahkan untuk jujur?. Memang seperti itulah yang terjadi pada mereka. "Mati aku. Apa yang harus aku jelaskan." Dalam hatinya sangat panik dengan jawaban yang akan ia berikan kepada mamanya.

__ADS_1


Bagaimana jawaban Ravenska pada mamanya?. Bagaimana ia menghindarinya dengan jalur aman?. Temukan jawabannya.


...**** ...


__ADS_2