CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 29


__ADS_3

...***...


Maisya baru saja sampai di rumah Raya, ia sedang mempersiapkan mentalnya untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan oleh anaknya terhadap menantunya itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi menantunya ketika ia mengatakan anaknya telah memiliki wanita simpanan?.


"Huufh!. Bismillah semoga baik-baik saja." Dalam hatinya mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup. Dengan perasaan sama dia menekan bel pintu rumah. Dan ketika ia mendengarkan suara pintu itu dibuka?. "Assalamu'alaikum." Sapanya dengan suara yang sangat ramah.


"Wa'alaikumussalam." Balas Raya. "Mama?." Raya tidak menduga yang datang itu adalah mama mertuanya.


"Anak mama." Maisya memeluk Raya dengan eratnya. "Kuatkanlah hati hamba ya Allah." Dalam hatinya merasakan tidak enak hati ketika ia akan menyampaikan semua itu.


"Mama sama siapa?. Papa nggak ikut?." Begitu mereka melepaskan pelukan, Raya langsung bertanya.


"Papa kamu ada urusan penting, jadi nggak bisa ikut. Ya?. Mama sendirian aja ke rumah kamu." Ada perasaan kecewa yang ia rasakan ketika menjawab pertanyaan menantunya.


"Mari masuk ma." Dengan sopan Raya mempersilahkan mama mertuanya untuk masuk.


"Oh iya?. Mama bawa sesuatu untuk kamu." Maisya memberikan kotak bingkisan makanan.


"Loh?. Mama bawa apa?." Ucapnya sambil mengambil kotak bingkisan yang disodorkan oleh mama mertuanya.


"Mama bawa makanan untuk kamu." Ia hanya tersenyum kecil.


Saat itu mereka menuju ruang tamu, tentu saja mereka ingin mengobrol dengan santai sambil duduk.


"Raya baru aja selesai masak untuk mama." Raya ingat apa yang telah ia persiapkan jika mama mertuanya datang.


"Kalau gitu kita tukeran aja, gimana?." Tiba-tiba saja terbesit ide seperti itu di kepalanya.


"Boleh juga tu ma." Tentu saja Raya sangat senang.


"Kalau gitu mari kita ke dapur untuk menyiapkan semuanya." Setelah berkata seperti itu ia pergi menuju dapur.


"Okeh ma." Raya dengan senang hati mengikuti mama mertuanya ke dapur.


Sepertinya Maisya tidak bisa terburu-buru mengatakan apa yang telah terjadi pada anaknya itu. Secara perlahan-lahan ia akan mengatakan apa yang hendak ia sampaikan kepada menantunya itu.

__ADS_1


...**...


Sementara itu di sebuah tempat restoran yang lumayan besar. Di sanalah Bambang dan Ravenska berada, mereka memiliki urusan yang sangat penting harus disampaikan.


"Emangnya ada apa sih pa?. Bikin suasana gak enak aja." Ravenska merasakan suasana yang sangat canggung ketika berbicara dengan papanya.


"Kamu yang bikin papa sama mama enggak enak." Entah kenapa iya hampir saja terbawa emosi ketika anaknya berkata seperti itu.


"Loh?. Kok bisa?." Ravenska sangat bingung dengan apa yang telah dikatakan oleh papanya.


"Kamu jangan pura-pura bodoh!." Hampir saja ia menggeplak kepala anaknya. "Emangnya apa yang kamu lakuin di luar sana enggak diketahui sama mama kamu?." Amarahnya hampir saja tidak bisa ia tahan ketika itu. "Apa yang kamu lakuin itu sama saja dengan membangkit singa betina yang sedang tidur." Saking emosinya Bambang malah berkata seperti itu kepada anaknya. "Dengan apa yang kamu lakukan, mama kamu hampir saja membunuh papa." Biasanya ia selalu membela anak laki-lakinya itu. Akan tetapi pada saat itu hanya amarah yang menguasai dirinya.


"Ravenska enggak ngelakuin apa-apa pa." Ravenska masih saja belum mau berkata jujur kepada papanya.


"Kamu bilang ngelakuin apa-apa?. Lalu siapa wanita hamil yang kamu sembunyikan itu?. Hah?." Suasana hatinya pada saat itu sedang diuji oleh anaknya sendiri.


Deg!.


Ravenska sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh papanya. Tiba-tiba saja detak jantungnya bekerja lebih cepat dari yang sebelumnya. "Bagaimana mungkin papa mengetahui itu?. Aku yakin ada seseorang yang telah mengatakan itu kepada papa." Dalam hatinya sangat kesal.


"Ravenska hanya ingin hidup bersama dengan orang yang ravenska cintai." Jawaban itu yang ia berikan.


"Kamu bilang hanya?." Hampir saja ia tersurat emosi jika ia tidak ingat orang yang berkata di depannya itu adalah anaknya. "Hanya yang keluar dari mulut kamu itu membuat papa ingin menghajar kamu." Dengan gestur hendak mencengkram wajah anaknya itu, Bambang benar-benar hampir tidak bisa menahan emosinya.


"Dari awal ravenska udah bilang sama papa, mama." Sepertinya ia sedang mencari alasan yang tepat untuk membela dirinya. "Bahwa ravenska tidak mau menikahi raya!." Ucapnya dengan penuh penekanan. "Tapi papa dan mama yang maksa ravenska buat nikah sama raya. Jadi jangan salahin ravenska!." Itulah yang tidak dia sukai selama ini.


"Kamu tahu sendiri kan?." Bambang mencoba untuk memberikan peringatan kepada anaknya. "Kalau mama kamu itu dari dulu udah mengatakan, kalan raya adalah calon istri kamu?. Apa kamu pikir mama kamu saat itu bercanda?!." Tentu saja ia ingat dengan ucapan istrinya kala itu.


"Ravenska tetap pada keputusan, ravenska tidak akan pernah meninggalkan salsa hanya deni setia sama raya." Ravenska masih saja belum tahu menerima apa yang telah dikatakan oleh papanya. "Bukankah seorang laki-laki diperbolehkan untuk memiliki banyak istri?." Ravenska malah berpikiran ke arah sana.


"Ravenska!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.


"Papa enggak usah marah-marah sama ravenska. Percuma saja, salsa sedang mengandung anak ravenska." Bukannya takut dengan suara tinggi dari papanya itu?. Ia malah mengatakan jika Salsa sedang mengandung anaknya.


"Hufh!." Bambang mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menghela nafas. Tidak tahu bagaimana caranya ia menyampaikan kepada anaknya, bahwa mamanya sedang diselimuti amarah yang sangat membara setelah mengetahui kenyataan itu.

__ADS_1


...***...


Perlahan-lahan Maisya mencoba menjelaskan kepada menantunya itu. Bahwa anaknya telah berselingkuh?. Apakah benar anaknya telah berselingkuh?.


"Dengan berat hati mama ingin menyampaikan masalah ini sama kamu." Ada perasaan berat yang mengganjal di hatinya. "Mama sangat minta maaf sama kamu." Hanya kalimat itu saja yang dapat ia sampaikan.


"Mama gak perlu minta maaf, raya udah tahu kalau mas ravenska memiliki wanita simpanan." Raya hanya berusaha menahan kepedihan hatinya.


"Jadi kamu udah tahu?." Maisya sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raya.


"Ya ma." Raya hanya menganggukkan kepalanya tanda benar apa yang telah dikatakan oleh mertuanya.


"Tapi kenapa kamu enggak kasih tahu mama?." Maisya tidak menduga jika menantunya telah mengetahui itu.


"Itu karena raya enggak mau mama marahin mas ravenska." Dengan rambut wajah yang sangat polos ia menjawab pertanyaan itu. "Raya tahu, kalau mama udah marah, mama akan mukul mas ravenska kek dulu. Raya gak mau ma." Itulah yang akan terjadi jika ia mengatakan kepada mama mertuanya.


"Raya." Maisya menantunya. "Mama harap kamu jadi wanita yang kuat." Ada perasaan simpati yang terselip di hatinya ketika mendengarkan ucapan menantunya. "Memang keterlaluan ravenska sama kamu nak." Sungguh ia sangat bersimpati kepada Raya.


"Ini semua raya lakuin demi melindungi mas ravenska. Raya akan berusaha membuat mas ravenska cinta sama raya." Raya telah mengatakan alasannya kenapa iya tidak ingin mengatakan kepada mama mertuanya apa yang telah dilakukan oleh suaminya.


"Mama akan bantu kamu. Mama akan bantu kamu untuk mendapatkan cinta ravenska." Itulah janji yang ia ucapkan kepada Raya.


"Terima kasih ma." Raya merasakan kelegaan yang sangat luar biasa.


Apakah memang seperti itu yang dirasakan oleh Raya ketika itu?. Apakah benar hanya demi melindungi suaminya ia tidak mengatakan apapun kepada mama mertuanya?. Simak terus cerita ini.


...***...


Sementara itu di rumah Salsa.


Suasana hatinya kembali iba, sedih, dan dikuasai oleh pikiran-pikiran buruk mengenai Ravenska yang hampir beberapa hari ini tidak bisa dihubungi.


"Kenapa belum ada kabar juga?. Apakah mas ravenska memiliki masalah?." Perasaan takut pertama yang menghantui pikirannya. "Apalagi nomor hp-nya tidak bisa dihubungi. Dia duluan yang WhatsApp aku." Salsa sangat sedih dengan kondisinya yang seperti itu. "Apakah sebenarnya dia menyembunyikan sesuatu dariku?. Sehingga dia takut ketahuan?. Apakah dia benar-benar akan menikahi aku?." Memang, jika diperhatikan dengan sikap Ravenska ya seperti itu membuat pikirannya berkelana entah ke mana. "Aku harap dia benar-benar menepati janjinya. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa ayah." Ia usap pelan perutnya yang membesar. Ada kecemasan yang sangat luar biasa yang menyelimuti suasana hatinya ketika itu. "Aku hanya ingin anak ini bahagia nantinya." Di sisi lain ia juga sedang membayangkan bagaimana kebahagiaan yang ia inginkan ketika bersama kedua orang yang sangat ia cintai. "Tentu saja aku akan melahirkanmu dengan selamat anakku." Dengan senyuman yang lembut ia mau kembali mengusap perutnya yang membesar. "Cincin yang ada di tangan mama, ini adalah bukti cinta papa kamu mama." Ia kecup cincin yang melingkar dengan manisnya di jarinya itu. "Mama sudah tidak tahan ini bersama dengan kalian." Perasaan rindu terhadap seseorang yang memang sangatlah berat. "Mama sedang membayangkan bagaimana perasaan gembira yang akan kita lalui nantinya." Sehingga timbullah imajinasi seseorang untuk membuat dirinya benar-benar bahagia dengan khayalannya itu. "Ya. Tentu saja kita akan melalui hari-hari yang bahagia." Senyumannya mengembang begitu saja ketika ia membayangkan bagaimana kebahagiaan mereka yang tiada tara. Kebahagiaan yang memberikan kesempurnaan hidup terhadap mereka bertiga. Kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka berikan kepada siapapun walaupun hanya secuil saja. Terdengar agak berlebihan memang, tapi itulah harapannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2