CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 22


__ADS_3

...***...


Suasana hatinya pada saat itu sangat gelisah, karena jam telah menunjukkan pukul 22.30 malam. Padahal ia telah menyiapkan segala hal yang ingin ia berikan kepada suaminya itu. Akan tetapi orang yang ditunggu belum saja datang?. Berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi orang yang ditunggu, nomor itu tidak juga aktif. Siapapun akan gelisah jika tidak diangkat teleponnya itu.


"Sebenarnya kamu ada di mana sih mas?. Kenapa kamu juga belum pulang?. Sebenarnya masalah apa yang terjadi di dalam kantormu?. Sehingga aku tidak boleh mengetahuinya?." Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang salah pada suaminya itu. "Padahal aku hanya ingin memberikan kejutan kepadamu." Dalam hatinya sangat sedih dengan apa yang telah ia terima pada saat itu.


Sementara itu Ravenska masih bersama dengan kekasihnya. Malam itu ia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Salsa.


"Rasanya tidak ada habis-habisnya kebahagiaan yang aku rasakan ketika bersamamu." Dengan senyuman yang sangat sumringah ia berkata seperti itu.


"Janganlah selalu menggombal kepada aku. Aku takut aku akan mati meleleh karena ucapan romantis mu itu."


"Ini adalah ucapan yang keluar dari hatiku begitu saja. Aku tidak bisa memendamkan perasaan ini terlalu lama, jadi aku katakan apapun yang ada di dalam hatiku saat ini."


Saat itu mereka seperti pasangan kekasih yang sangat bahagia di dunia ini. Bukan hanya melalui kata-kata saja, akan tetapi pada saat itu mereka seakan-akan sedang dimabuk asmara yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun juga.


Akan tetapi pada saat itu ada sebuah notifikasi pesan singkat yang masuk ke HP Ravenska.


Deg!.


Entah kenapa pada saat itu perasaannya sangat tidak nyaman sama sekali. Dengan perasaan gugup ia mencoba membuka notifikasi yang berasal dari mamanya itu.


"Selamat ulang tahun anakku. Semoga sehat selalu, dan semoga kamu bahagia bersama anak perempuan mama, raya."


Dalam hatinya membaca pesan itu. Dan yang lebih mendebarkan setelah itu adalah?. Tiba-tiba saja mamanya itu menghubunginya melalui panggilan video call. Tentu saja ia sangat panik dengan apa yang dilakukan oleh mamanya saat itu.

__ADS_1


"Aku angkat dulu ya?." Dengan perasaan yang sangat takut ia pergi melangkah ke kamar mandi.


"Lah?. Siapa memangnya?. Tidak biasanya dia bersembunyi menghubungi seseorang." Dalam hati Salsa mulai bertanya-tanya dengan sikap anda yang telah ditunjukkan oleh kekasihnya itu.


Sementara itu Ravenska mencoba untuk mengangkat panggilan itu. Dengan perasaan yang sangat takut ia mencoba untuk mengangkat panggilan dari mamanya. Panggilan yang seakan-akan ia dipanggil oleh malaikat kematian yang tidak akan pernah kembali lagi.


"Ya ma?."


"Selamat ulang tahun ya nak?."


"Terima kasih mama."


"Memangnya kamu lagi di mana?. Kamu nggak sama raya?."


Suara itu memang terdengar lembut akan tetapi jawabannya akan mematikan jika salah dalam berucap.


"Loh?. Memangnya kamu tidak berada di rumah?. Apakah raya akan mengetahui jika kamu hari ini ulang tahun?." Tiba-tiba saja suara mamanya terdengar berbeda dari yang sebelumnya. Tentunya itu membuatnya semakin ketakutan.


"Tahu sih ma. tapi saat ini aku berada di luar, soalnya tiba-tiba saja teman-teman aku tadi ngajak aku keluar untuk merayakan ulang tahun aku." Jantungnya berdetak dengan sangat kencang seakan-akan ya sedang dilanda ketakutan yang sangat luar biasa.


"Kalau begitu kamu pulang. Jika memang istri kamu mengetahui kamu ulang tahun?. Pasti saat ini dia sedang menyiapkan sesuatu kejutan untuk kamu. Jadi kamu segera pulang karena ini sudah malam, mama tidak akan mengampuni kamu jika kamu terlalu lama membiarkannya sendirian di rumah." Suara itu dipenuhi dengan ancaman yang membuat jantung Ravenska semakin hendak melompat dari tempatnya.


"Baik ma, aku akan segera pulang." Dengan berat hati ia menuruti apa yang telah dikatakan oleh mamanya saat itu.


"Ya sudah. Nanti kalau sudah kembali ke rumah, jangan lupa kabarin mama."

__ADS_1


"Ya ma."


"Hati-hati kamu di jalan ya?. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah itu panggilannya berakhir begitu saja, Begitu juga dengan perasaan Ravenska yang seakan-akan telah berakhir pada saat itu juga. Jantungnya masih berpacu dengan sangat kencang, seakan-akan pada saat itu ia sedang bertemu dengan malaikat kematian.


"Harus pulang malam ini ya?." Suasana hatinya mendadak kalut, rasanya ia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan hidupnya jika terus seperti itu. "Apa yang harus aku katakan kepada salsa?. Jika aku harus pulang malam ini?." Dalam hatinya sedang menimbang alasan apa yang akan ia katakan kepada Salsa mengenai kepulangannya malam itu?.


"Sayang?."


Dari arah luar saat itu terdengar suara ketukan pintu, sontaknya terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu. Perlahan-lahan ia membuka pintu kamar mandi itu.


"Ada apa sayang?. Siapa yang telah menghubungi kamu tadi?." Dengan hati-hati ia bertanya kepada Ravenska yang terlihat sangat pucat.


"Sepertinya terjadi sesuatu di kantor. Malam ini aku harus kembali." Dengan berat hati ia berkata seperti itu.


"Pulang?. Kamu akan pulang malam ini?. Apakah tidak bisa besok?." Ada perasaan berat hati yang ia tunjukkan saat itu.


"Maafkan aku, ini sangat penting sekali. Aku tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja. Karena itulah aku harus pergi malam ini juga. Aku harap kamu mengerti dengan situasinya." Ia peluk erat tubuh Salsa. Hingga saat ini ia belum mau jujur dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. "Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu. Hanya itu saja yang dapat aku lakukan untuk bersama denganmu selamanya." Dalam hatinya hanya berkata seperti itu.


"Tapi aku harap kamu segera kembali lagi. Aku sebenarnya tidak sanggup untuk berpisah denganmu terlalu lama." Salsa tentunya sedang dalam masa fase yang sangat panjang kepada suaminya. Apalagi bawaan hamil membuat dia semakin tidak ingin berpisah dari Ravenska.


"Aku janji aku akan kembali dalam waktu yang sangat cepat." Hanya itu saja yang dapat dia katakan saat itu.

__ADS_1


Setelah itu ia terpaksa pergi dari rumah Salsa dengan perasaan yang berat hati. Hatinya pada saat itu benar-benar mengutuk dengan apa yang telah dikatakan oleh mamanya. "Kenapa aku begitu penurut sama mama?. Kenapa tiba-tiba saja nyaliku begitu jika berhadapan dengan mamaku?." Dalam hatinya pada saat itu sangat bingung setelah mati. "Jika saja tidak mendengarkan ucapan mama, maka aku tidak akan kembali pada malam ini." Dalam hatinya masih menaruh hormat kepada mamanya. Walaupun sebenarnya ia sangat tidak terima dengan keadaan menyakitkan hatinya.


...***...


__ADS_2