CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 16


__ADS_3

...**...


Mereka semua sedang melakukan persiapan untuk hasil yang sangat memuaskan, hasil yang dapat menjangkau semua kalangan?. Apakah mereka akan berhasil melakukan itu nantinya?. Sementara itu Ravenska dan Bambang sedang menunggu di luar. Keduanya sedang menunggu bagaimana hasil itu nantinya?. Tentunya ayah dan anak, mereka saling berbincang satu sama lain, kan?.


"Mama kamu cerita sama papa. Kalau kamu enggak kek dulu sama raya."


"Gak kek dulu gimana pa?."


"Ya gak kek dulu. Kamu yang rasain, kok nanya sama papa sih?."


Ravenska terdiam sejenak, ia mencoba memikirkan apa saja yang telah dikatakan papanya mengenai hubungannya dengan Raya sebelum mereka menikah?.


"Kamu tu yang selama ini bersama raya, kamu yang telah mengulurkan perasaan cinta kamu sama dia?. Jadi kamu yang harus bertanggung jawab?. Atas apa yang telah kamu berikan itu."


"Mengulurkan perasaan cinta?. Sejak kapan aku memberikan perasaan cinta aku sama raya?. Aku enggak ingat sama sekali." Dalam hatinya mencoba untuk mengingat dimana letak uluran perasaan cinta itu?. "Rasanya apa yang aku lakukan itu biasa saja." Dalam hatinya sangat bingung, dan ia telah memikirkan itu dengan sangat benar, dan tidak pernah ia lupakan apa saja yang telah ia lalui bersama Raya. "Itu hanyalah perhatian biasa, pertemanan biasa, dan tidak ada yang istimewa. Tapi kenapa raya sangat bersikeras ingin menikah dengan aku?. Apa lagi dia memiliki kedekatan yang sangat baik dengan raya." Dalam hatinya masih belum menemukan ada yang spesial dengan itu. "Andai saja salsa duluan yang bertemu dengan mama?. Mungkin raya tidak akan pernah menjadi penghalang antara hubungan aku dengan salsa. Kenapa kamu harus menjadi tembok yang menghalangi cinta aku sama salsa ray?. Aku tu enggak cinta sama kamu. Karena wanita yang aku cintai salsa, bukan kamu." Dalam hatinya masih saja belum menerima dengan apa yang telah terjadi di depan matanya saat itu?. Dalam pandangan agama dan negara ia telah terikat dengan janji pernikahan yang sangat dalam. Tapi kenapa hatinya yang memiliki kehendak?. Tidak bisa menerima itu dengan lapang dada?. Apakah hatinya memang telah tertuju pada Salsa yang telah memberikan cinta yang ia inginkan?. Tidak ada yang bisa mengukur seberapa dalam perasaan cinta seseorang, hanya perasaan egois yang mampu melakukan itu.


Sementara itu Maisya sedang menikmati sesi pemotretan itu, ia benar-benar tampil seperti seorang model yang sangat profesional.


"Wah, mantap sekali bu cantik. Iya, ke kiri sedikit." Kameramen yang bertugas saat itu merasa sangat senang mengambil gambar itu. Rasanya ia benar-benar mengambil gambar yang sangat luar biasa. "Ok, senyumnya yang manis. Sip. Terbaik bu. Cakep banget dah."


Mereka semua yang mendengarkan itu malah ikutan tertawa, tidak tahan dengan ucapan kameramen yang tidak tahan dengan pose luar biasa dari Maisya yang bak model profesional.

__ADS_1


"Ok, sip. Istirahat sebentar." Ucapnya dengan semangat. "Tolong tim make up. Tata rias kembali modelnya." Dengan nada genit ia berkata seperti itu, sehingga mengundang tawa mereka semua.


"Ok. Sip."


"Mama keren banget loh."


"Hehehe. Makasih loh ray."


Saat itu mereka benar-benar bekerja sama dengan sangat baik, demi kelancaran program baru yang telah mereka buat dengan hasil kerjasama antar tim yang sangat sempurna untuk hasil yang baik pula.


...***...


Sesi model saat itu telah selsai, dan mereka telah kembali ke rumah untuk istirahat. 


"Jangan terlalu memuji mama kek gitu pa. Rasanya mama kembali jadi anak muda."


Raya dan Bambang malah tertawa mendengarkan apa yang telah dikatakan Maisya. Sedangkan Ravenska hanya diam saja memperhatikan mereka yang seperti itu. Apakah tidak ada perasaan iri yang ia rasakan?. Jika papa dan mamanya lebih dekat dengan Raya?.


"Kalau gitu mama istirahat dulu. Mama pasti capek jadi model."


"Ya, mama tahu kalau kamu mau sama raya. Tapi jangan usir mama kek gitu."

__ADS_1


"Mama bisa aja."


Raya malah tersipu malu mendengarkan itu, sedangkan Ravenska sangat miris mendengarkan ucapan itu. "Apaan sih mama." Hanya itu saja tanggapannya.


"Pa, kita ke kamar buat istirahat. Biarin anak kita sama istri tercintanya di sini."


"Siap mama yang cantik." Ia gandeng tangan Maisya dengan sangat mesranya. Seakan-akan mereka kembali muda, melakukan hal yang sangat romantis layaknya pasangan suami istri yang baru saja menikah.


"Apaan sih ma?. Malu banget liatnya." Ravenska yang merasa malu dengan tingkah kedua orang tuanya yang seperti itu.


Setelah itu Raya mengambil obat salap yang telah ia beli sebelum mereka kembali. Dengan pelan ia oleh ke pinggangnya yang masih terasa sangat sakit. Memang terlihat sangat jelas ada keringat yang membasahi kepalanya, dan saat itu ia terlihat sangat pucat. "Oh, sakit banget." Ia sampai menyandarkan kepalanya di atas meja untuk menahan tubuhnya. Untuk sesaat ia resapi obat yang telah menyatu dengan kulitnya, karena menghilangkan rasa nyeri yang mendera pinggangnya setelah menerima pukulan keras.


Deg!.


Entah kenapa Ravenska merasa tidak tega ketika melihat itu, tapi perasaan lain mengatakan untuk mengabaikan itu?. Walaupun seharian ini Raya telah berjuang menahan rasa sakit di pinggangnya untuk menyembunyikan apa yang telah ia rasakan saat itu?. "Apakah aku sudah keterlaluan sama dia?." Dalam hatinya sedang menanyakan pertanyaan seperti itu pada dirinya sendiri?.


"Mas. Bisa bantu aku ke kamar mas?. Rasanya sangat sakit banget mas." Suaranya terdengar sangat lemah sambil menahan rasa sakit itu.


Namun apa yang terjadi?. Ravenska saat itu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah?. Ia seakan-akan tidak mendengarkan apa yang telah dikatakan Raya saat itu?.


"Apakah seperti ini balasan kamu mas?. Setelah aku berusaha dengan sekuat tenaga aku menahan perasaan sakit ini?." Dalam hatinya sangat sakit, dan tanpa sadar air matanya mengalir dengan sendirinya membasahi pipinya. Tapi sayangnya ia menangis tanpa suara, ia simpan suara tangisannya itu ke dalam hatinya. Bukan berarti ia menangis karena rasa sakit yang mendera pinggangnya. Akan tetapi ia simpan untuk menguatkan hatinya, ia tangkap dengan jelas, bahwa tidak ada cinta yang ia dapatkan dari apa yang telah ia berikan pada Ravenska selama ini. "Lantas untuk apa aku menikah dengannya?. Jika aku tidak dapat merasakan perasaan cinta itu darinya?. Apakah aku yang telah salah?. Terlalu percaya diri jika ia juga akan mencintai aku?." Dalam hatinya sangat sakit dengan apa yang telah ia inginkan ketika ia dewasa masa ini. Apakah ia menyesal setelah ia merasakan bahwa sebenarnya Ravenska tidak mencintainya?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2