CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 19


__ADS_3

...***...


Tiga hari telah berlalu begitu saja. Tanpa terasa tiga hari telah berlalu tanpa adanya kabar yang membuat hati masing-masing panas. Namun pada saat itu ia tidak bisa melampiaskan  semua rasa sakit itu dalam diam tanpa suara.


"Mas?. Kamu sebenarnya berada di mana?. Kenapa tiga hari ini tidak ada kabar?. Apakah telah terjadi sesuatu kepadamu?. Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?."


Kirim, Raya mencoba untuk menghubungi suaminya melalui chat pribadi. Sangat disayangkan sekali, chat itu terakhir kali aktif tiga hari yang lalu.


"Rasanya sangat sakit sekali. Kau benar-benar telah melewati tiga hari yang hampir sama. Menunggu kamu di meja makan ini, seperti menunggu seorang tamu yang sangat penting. Akan tetapi kamu itu tidak kunjung juga datang walaupun tiga hari aku terganggu di sini." Saat itu ia merasakan rasa sakitnya sangat berbeda. Rasa sesak yang tidak bisa ia tahan lagi.


Namun perlahan-lahan saat itu matanya mulai terasa sangat berat. Sehingga ia tidak dapat menahan kantuk itu, ia sandarkan kepalanya di meja makan itu.


"Semoga saja besok pagi mas ravenska sudah berada di rumah ini." Hanya itu saja harapannya pada saat itu sebelum ia benar-benar menutup matanya untuk terlalap sejenak.


Tak berselang lama pada saat itu Ravenska membuka pelan pintu rumahnya. Ia langsung menuju ke dapur, karena pada saat itu ia merasa haus setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh.

__ADS_1


Deg!.


Ia sangat terkejut ketika melihat Raya yang sedang tertidur di meja makan?. Saat itu ia juga melihat ada hidangan makan malam di depan Raya. Semua itu adalah makanan kesukaanmu, makanan yang sebelumnya telah dibuat oleh mamanya. Tapi bagaimana mungkin?. Raya bisa membuat masakan itu?.


"Mas?."


Deg!.


Saat itunya juga semakin terkejut karena Raya memanggilnya?.


"Kamu tidak usah melakukan sandiwara apapun ray. Aku sama sekali tidak akan terpengaruh dengan apapun yang kamu lakukan." Dalam hatinya telah merdeka tidak akan bergeser sedikitpun hatinya untuk siapapun selain untuk Salsa. "Bagiku selain mama, salsa adalah wanita yang sangat aku cintai dari hatiku yang paling dalam. Sedangkan kamu sangat berbeda dari apa yang aku harapkan. Bagiku kau hanyalah seorang teman, dan aku tidak akan pernah keluar dari zona itu jika bersama dirimu." Dalam hatinya telah bertekad bahwa satu-satunya wanita yang sangat ia cintai adalah Salsa. "Walaupun kita telah lama bersama, tapi bukan berarti ada perasaan cinta yang aku tanamkan kepadamu sehingga kau menerima pernikahan itu dengan mudahnya." Setelah itu ia pergi menuju kamarnya, karena ia ingin segera beristirahat. "Maaf saja, aku telah melakukan perjalanan yang cukup jauh rasanya sangat lelah. Jadi aku tidak memiliki waktu untuk memindahkan kamu." Ravenska pergi begitu saja. Ia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Raya yang saat itu sedang sakit?. Padahal sudah sangat jelas sekali bahwa ia mendengarkan Raya mengigau sambil menanyakan keberadaannya?. Ya, mungkin saja ia tidak akan mengetahui itu, karena ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Raya. Karena cinta yang ia miliki pada saat itu hanyalah untuk Salsa, dan tidak akan pernah ia bagikan.


...***...


Pukul 4.45.

__ADS_1


Raya terbangun karena mendengarkan suara adzan subuh. Ternyata ia benar-benar tertidur di meja makan. Akan tetapi pada saat itu kepalanya terasa sakit, badannya pun terasa panas. Namun ia mencoba untuk mengabaikan perasaan itu, ia segera menuju kamarnya karena ia ingin melaksanakan salat subuh.


Saat itu Raya sama sekali tidak memperhatikan bagaimana kabarnya, karena kepalanya yang terasa sakit, sehingga ia tidak memperhatikan bagaimana kondisi sekitarnya saat itu. Yang ia lakukan hanyalah untuk melaksanakan sholat subuh saja. Sementara itu Ravenska perlahan-lahan membuka matanya karena ia merasakan silau yang menerpa matanya.


"Raya?." Dalam hatinya sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu. Ia melihat Raya sedang melaksanakan salat subuh?.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi penyayang. Berikanlah kekuatan hati dan kekuatan iman kepada hamba. Berikanlah kekuatan hati kepada hamba untuk merasakan bagaimana diabaikan oleh orang yang sangat hamba cintai. Berikanlah kekuatan iman kepada hamba supaya hamba menghadapi cobaan ini dengan hati yang tabah. Dekatkanlah hati kami, jangan ada perasaan yang renggang terhadap kami ya Allah. Sesungguhnya cinta ini adalah milikmu, perasaan ini adalah milikmu. Karena itu merekalah hamba kekuatan hati dan kekuatan iman ya Allah. Lindungilah suami hamba di manapun ia berada, jauhilah marah bahaya yang menimpa dirinya. Semoga saja suami hamba sehat selalu, semoga saja suami hamba selalu berada di dalam lindungan ya Allah. Aamiin." Saat itu terdengar suara isak tangisnya, walaupun hanya terdengar sedikit.


"Raya." Dalam hati Ravenska tidak akan menduga bahwa ia akan mendengarkan doanya seperti itu yang dilantunkan oleh Raya dalam salatnya?. Akan tetapi pada saat itu ia berpura-pura tidak mendengarnya. Ia pura-pura tertidur supaya rakyat tidak curiga, jika sebenarnya ia mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh Raya dalam doanya.


Sementara itu Raya mencoba membaringkan tubuhnya di samping Ravenska, ia seperti sedang tidak sadarkan diri karena tidak dapat menahan perasaan demam yang mendera tubuhnya saat itu. Raya langsung saja memejamkan matanya karena perasaan kantuk itu. Sehingga pada saat itu ia tidak dapat melihat bagaimana sekitarnya lagi. Ia hanya menuruti apa yang digerakkan oleh tubuhnya pada saat itu.


Raya menghadap ke arah Ravenska yang terlihat sedang memperhatikan dirinya. Saat itu ia tidak sengaja bersentuhan dengan Raya.


"Panas sekali." Dalam hati Ravenska dapat merasakan bagaimana rasa panas yang ia rasakan ketika bersentuhan dengan Raya. Memang jika dilihat dari wajahnya?. Raya saat itu terlihat sangat pucat, bibirnya terlihat kering, dan sesekali lihat mendengarkan suara rintihan dari bibirnya seakan-akan ia memang sedang sakit saat itu. "Tidak. Aku tidak boleh memberikan perhatian kepadanya. Aku sama sekali tidak akan tersentuh meskipun dalam kondisi dia yang seperti ini." Dalam hatinya mencoba menepiskan perasaan ibanya terhadap Raya. "Aku tahu kamu adalah ratu sandiwara. Jadi aku tidak akan mendapat telepon dengan apapun yang kau lakukan." Ravenska sama sekali tidak peduli dengan keadaan Raya saat itu meskipun yang terlihat sangat jelas demam?. Tapi kenapa pemuda yang menjadi suaminya pada saat itu sama sekali tidak percaya?. Apakah perasaannya benar-benar mati terhadap Raya?.  Apakah ia sama sekali tidak menaruh rasa simpati terhadap istrinya yang sedang sakit karena memikirkan dirinya?. Miris.

__ADS_1


...***...


__ADS_2