CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 12


__ADS_3

...***...


Keesokan harinya.


Pagi itu Raya dan Maisya menyiapkan sarapan dengan semangatnya. Keduanya tampak kompak, dan terlihat senyuman sumringah di wajah kedua wanita itu.


"Andai saja salsa lebih duluan bertemu dengan mama?. Apakah mama akan seakrab itu dengan salsa?." Entah kenapa di dalam hatinya sangat berharap seperti itu. "Alangkah bahagianya hidupku jika pada awalnya aku bertemu dengan salsa. Wanita yang benar-benar sangat aku cintai, wanita yang membuat aku gila akan cinta pada seorang wanita." Ravenska seakan-akan hendak mengungkapkan apa yang ada di dalam isi hatinya.


"Loh?. Pagi-pagi kok sudah melamun?. Memangnya kamu lagi memikirkan apa?."


"Enggak apa-apa kok ma."


"Kalau begitu mulailah sarapan. Karena setelah itu mama akan kembali. Kasihan papa mama tinggal dua hari untuk menjaga raya di sini."


Ravenska hanya diam saja karena ia tidak ingin membuat suasana semakin keruh saat itu, sehingga ia memilih diam untuk sementara waktu.


"Mari dicicip makanannya mas."


Ravenska langsung mengambil makanan itu, dengan penuh percaya diri ia memakan masakan itu.


"Masakan mama memang enak seperti biasanya. Ravenska jadi kangen masakan mama."


Raya dan Maisya saat itu saling bertatapan satu sama lain.


"Tapi yang memasak semua masakan ini bukan mama. Tapi yang memasak semua ini adalah istri kamu raya."


Deg!.

__ADS_1


Ravenska tentunya sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh mamanya itu. "Tidak mungkin. Tidak mungkin raya yang memasak masakan ini." Dalam hatinya merasa tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh mamanya sendiri.


"Mama nggak berbohong. Yang memasak masakan ini adalah raya. Dengan sepenuh hati dia memasak untuk kamu. Jadi kamu tidak perlu mencari wanita lain untuk sekedar memasak masakan yang ingin kamu makan."


Entah kenapa pada saat itu suasana menjadi tidak enak. Akan tetapi Raya hanya berharap jika iya adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh Ravenska.


...**...


Sementara itu Di rumah Salsa.


"Andai saja mas ravenska berada di sini. Tentunya pagi ini aku tidak akan kesepian." Dalam hatinya saat itu merasakan hal yang seperti itu. "Mas ravenska mengatakan jika ia ada pekerjaan yang mendadak. Dia akan mengabari jika pekerjaannya itu akan selesai. Semoga saja pekerjaan itu selesai dengan cepat, sehingga malam ini aku bisa bersama dengannya. Aku tidak mau sendirian di sini, aku tidak mau sendirian di sini." Saat itu ia mencoba untuk menghubungi Ravenska. Akan tetapi sepertinya ia tidak bisa menghubunginya saat itu.


Perasaan suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat berkecamuk. Perasaan cemas menghantui pikirannya, seakan-akan orang yang sangat ia cintai akan pergi meninggalkannya.


"Aku harap kamu tidak pergi meninggalkan aku. Kamu telah berjanji, jika kamu akan tetap bersamaku apapun yang akan terjadi." Salsa masih ingat dengan apa yang telah diucapkan oleh Ravenska. "Kamu akan terkutuk jika kamu berani mengingkari janji kamu." Hanya seperti itu yang iya ingat ketika itu. "Tapi aku sangat yakin, jika kamu adalah seorang laki-laki yang setia pada janjinya. Untuk saat ini aku simpan dulu perasaan cemas ini. Karena aku sangat percaya kepadamu." Dalam hati Salsa mencoba untuk menguatkan hatinya untuk tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Iya masih mencoba menguatkan dirinya ke arah yang lebih positif lagi.


...***...


...***...


Sebelum Maisya akan meninggalkan rumah anak dan menantunya, ia sempat berbicara dengan anaknya.


"Mama nggak mau tahu, raya sekarang adalah tanggung jawabmu. Jika terjadi sesuatu padanya?. Mama tidak akan mengampuni kamu."


"Mama nggak perlu mengancam ravenska. Tentunya ravenska mengetahui dengan baik bagaimana tugas ravenska saat ini."


"Bagus, kalau kamu telah mengetahui apa tugas kamu sebagai seorang suami yang baik. Mungkin dua hari lagi mama akan kembali, karena mama akan menjadi model pakaian terbaru untuk raya."

__ADS_1


"Ya ma."


"Kalau begitu mama pulang dulu. Kamu ingat dengan baik-baik. Jangan sakiti anak perempuan mama. Jika kamu berani menyakitinya maka mama yang akan menyakiti kamu."


"Ya. Mama tenang saja."


"Kalau gitu mama pulang dulu."


Setelah itu Maisya pergi dari rumah itu, ia hanya ingin memastikan, apakah anaknya benar-benar bertanggung jawab atas menantunya itu.


"Kenapa selalu saja mengancam aku?." Dalam hatinya sebenarnya sangat tidak terima dengan apa yang telah dikatakan oleh mamanya itu.


Setelah itu ia masuk ke dalam rumah, hari ini ia libur. Tentunya ia libur karena dipaksa oleh mamanya supaya menemani Raya.


"Kamu kan?. Yang mengadu sama mama kalau aku jarang pulang."


"Aku nggak ngadu apa-apa lho mas. Saat itu aku diserang oleh empat orang wanita yang mengaku sebagai fans kamu. Aku nggak tahu kalau mama tiba-tiba saja datang ke rumah."


"Diserang fans aku?. Kamu ini jangan mengada-ngada ya raya?. Mana mungkin aku memiliki fans yang seperti itu."


"Tapi buktinya dua hari yang lalu mereka datang. Mereka mau ngomong ngamuk sama aku mas. Mereka sangat tidak terima kalau aku nikah sama kamu."


"Dah lah. Kamu sebaiknya jangan mengada-ada."


Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu, ia sudah mencemaskan keadaan Salsa. Hatinya saat itu sedang bercabang memikirkan apa yang telah dilakukan oleh kekasihnya itu. Sementara itu raya hanya bisa berdiam diri saja karena ia tidak bisa mencegah kepergian suaminya itu.


"Apakah tidak ada ruang bagiku untuk kamu?. Apakah perasaan ini hanya aku yang memiliki?. Apakah aku yang terlalu berharap mencintaimu?. Apakah selama ini kau tidak mencintaiku?." Entah kenapa tiba-tiba saja dalam pikirannya terbesit pikiran yang aneh. "Tidak mungkin kau tidak mencintaiku. Sebab selama ini kita selalu bersama, aku tidak melihat kebersamaan wanita lain selain aku." Dalam hati raya hanya berharap jika Ravenska tidak memiliki wanita lain selain dirinya.

__ADS_1


"Untuk saat ini aku tidak bisa bergerak sembarangan. Aku takut mama akan menyelidiki semua apa yang telah aku lakukan." Dalam hati Ravenska tentunya ia tidak ingin terjadi apa-apa. "Salsa, untuk beberapa hari ke depan aku mohon kau tetap bersabar. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tentunya aku akan menepati janjiku. Namun kondisi yang aku alami saat ini kita mendukung kita untuk bersama. Jika ada sisi aku tidak mau mama mengancam aku hanya untuk membela raya. Aku juga tidak ingin kehilangan mamaku jika aku dicoret dari kartu keluarga. Sungguh maafkan aku salsa. Untuk saat ini saja aku tidak akan bersamamu." Ravenska tentunya tidak ingin kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, namun perasaan barat yang harus ia tahan juga membuat dia tidak nyaman. Bagaimana kelanjutan?. Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2