
...***...
Pukul 19.48.
Pada sat itu Ravenska baru saja sampai di rumahnya. Dengan perasaan yang sangat takut luar biasa ia berusaha untuk masuk ke rumahnya. Tentu saja ia sangat takut masuk ke rumahnya karena ia melihat mobil mamanya terparkir dengan indah di depan rumahnya.
"Sial!. Rasanya aku benar-benar seperti masuk ke rumah malaikat maut. Padahal sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal yang menakutkan seperti ini." Dalam hatinya pada saat itu benar-benar sangat gugup yang luar biasa.
Dengan tangan bergetar ia mendorong pintunya dengan perlahan-lahan. Akan tetapi pada saat itu ia malah mendengarkan suara gelak tawa dari di dapur.
"Oh?." Rasanya jantungnya mau copot begitu saja. "Assalamualaikum." Ia mencoba menyatakan dua wanita yang sedang tertawa terbahak-bahak itu.
"Waalaikumsalam." Balas kedua wanita itu sambil menghentikan tawa mereka.
"Duduk sini." Sorot mata mamanya agak berubah.
"Ya ma." Ravenska hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Kamu tahu nggak sih?. Tadi mama itu cerita-cerita sama istri kamu. Ternyata istri kamu ini memiliki jiwa humor yang luar biasa." Maisya masih saja tertawa dengan terbahak-bahak.
"Memangnya raya cerita apa sih?." Ravenska terlihat sangat jelas bagaimana ia terpaksa bertanya seperti itu agar suasana tidak canggung.
"Raya pernah bilang kalau kamu itu dulu pernah dihukum guru gara-gara kamu salah menggunakan pakaian olahraga." Entah kenapa mamanya malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Apaan sih ray?. Jangan cerita yang aneh-aneh kepada mama." Ravenska sebenarnya tadi sangat takut jika mereka akan memarahinya.
"Loh?. Kan cerita sama mama sendiri?. Wajar dong kalau mamanya harus tahu gimana anaknya waktu sekolah?." Raya malah ikutan tertawa.
__ADS_1
"Ya enggak wajar lah. Masa kamu bongkar aku sih?!." Ravenska mana terlihat kesal.
"Ya, maaf deh." Raya hanya tertawa kecil saja.
"Ya sudah. Kalau gitu kamu mau ganti baju dulu." Maisya hanya tidak ingin melihat mereka bertengkar. "Nanti setelah berganti pakaian kamu segera kembali ke sini. Kita akan makan malam bersama. Kemungkinan mama akan menginap malam ini di sini." Matanya sedang memperhatikan gerak-gerik anaknya yang sedang gelisah.
"Ya ma. Ravenska ganti pakaian dulu." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Ray?. Kamu panasin dulu sopnya ya?. Mama mau berbicara empat mata dengan yang sebentar." Dengan senyuman yang sangat drama ia berkata seperti itu.
"Tapi mama jangan keras-keras ngomongnya sama mas ravenska ya?." Entah kenapa Raya merasa kasihan. "Kasihan mas ravenska. Pasti capek habis kerja, jadi mama jangan nambah beban pikirannya dulu ya?." Raya mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya terasa sangat pahit.
"Kamu tenang saja. Mama nggak akan ngelakuin itu kok." Maisya yang pada saat itu sedang berusaha menahan amarahnya. Setelah itu ia pergi menyusul anaknya yang mungkin berada di kamarnya.
Tok, tok, tok.
"Siapa?." Ravenska sangat terkejut ketika mendengarkan suara ketukan pintu itu.
"Ini mama." Jawabnya.
"Aku lagi ganti baju ma." Ia sangat gugup sehingga ia memikirkan cara untuk menghindari mamanya.
"Kamu nggak usah mencari alasan apapun. Mama hanya ingin berbicara sebentar dengan kamu." Suaranya terdengar melembut dan mengandung luka yang sangat dalam.
Dengan berat hati Ravenska mencoba untuk membuka pintu kamarnya dengan suasana hati yang sangat bergemuruh.
"Biarkan mama masuk." Ia masuk begitu saja, ia duduk di depan meja hias milik Raya. "Duduk kamu di situ." Tunjuknya ke arah tempat tidur.
__ADS_1
Ravenska hanya diam saja sambil mengikuti apa yang dikatakan oleh mamanya saat itu. Rasanya detak jantungnya sudah tidak normal lagi ketika ia merasakan bagaimana intimidasi yang dilakukan oleh mamanya.
"Kamu itu benar-benar membuat mama kecewa. Siapa wanita yang kamu hamil itu?. Sedangkan raya istri sah kamu?. Malah kamu abaikan begitu saja." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Bagaimana kalau posisi itu adalah mama?. Bagaimana kalau papa kamu yang memperlakukan mama seperti itu?. Apakah kamu akan terima begitu saja?. Coba saja kamu yang berada di posisi raya?. Apakah kamu tidak akan sakit hati diperlakukan seperti itu?." Dadanya sampai naik turun menahan emosi yang ada di dalam hatinya. "Jika saja raya mengatakan untuk tidak mempermasalahkan kasus kamu ini?. Sudah mama bunuh kamu. Malu sekali aku memiliki anak seperti kamu."
Tidak ada tanggapan sama sekali dari Ravenska, karena saat itu ia tidak menduga jika mamanya akan menangis.
"Istri kamu mengetahui itu, istri kamu mengetahui kamu dengan wanita lain karena kiriman foto dari orang yang tidak dikenal. Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya?." Dengan perasaan yang sangat sakit ia berkata seperti itu. "Apakah karena cinta kamu melakukan itu?. Kamu pikir zina itu adalah perbuatan yang baik?. Bukankah kamu selama ini juga berbuat zina dengan pacaran dengan raya?." Suasana hatinya masih sakit.
"Tapi ravenska-." Ia hampir saja mengeluarkan bantahan.
"Tidak mencintai raya?." Bantahnya. "Setelah kamu ajak raya jalan sana sini kamu bilang tidak mencintai raya?." Sungguh hatinya sangat sakit menebak apa yang di dalam pikiran anaknya.
"Jika mama sudah tahu?. Kenapa mama malah memaksa aku untuk menikah dengannya?." Ia juga tidak terima dengan apa yang telah terjadi.
"Kamu tidak boleh mencintai wanita lain selain raya. Raya adalah wanita yang baik untuk kamu yang mama pilih untuk kamu. Tapi kamu malah mencintai wanita yang dengan mudahnya diajak untuk berzina?." Sungguh suasana hatinya sangat panas, hampir saja ia melakukan kekerasan kepada anaknya.
"Mama!. Salsa bukanlah wanita yang seperti itu!." Secara spontan ia bersuara keras pada mamanya.
"Lihat?. Kamu sudah berani melawan mama hanya karena membela wanita itu?!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
Ravenska terdiam ketika mendengarkan ucapan mamanya, ia hanya melakukan itu secara spontan saja. Karena ia tidak terima jika ada seseorang yang berani berkata yang tidak tidak tentang Salsa?. Apakah itu termasuk mamanya?. Akan tetapi pada saat itu, Maisya melihat panggilan masuk di hp-nya yang tertera nama Raya. Pada saat itu Maisya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Mama katakan sekali lagi kepada kamu. Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu menduakan raya." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan.
Sedangkan Ravenska sedang mati-matian menahan perasaan sakit yang ada di dalam hatinya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan salsa. Aku pasti akan selalu bersamanya. Karena aku telah berjanji akan menikahinya setelah anak aku lahir." Hatinya sangat sakit dengan apa yang telah dikatakan mamanya. "Mana mungkin aku akan pergi meninggalkan orang yang aku cintai begitu saja." Dalam hatinya.
...***...
__ADS_1