CINTA DALAM BAYANGAN

CINTA DALAM BAYANGAN
CHAPTER 15


__ADS_3

...***...


Tak berselang lama seorang dokter tampan datang dengan mengucap salam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Emangnya siapa yang sakit sih ndri?. Lu kalo manggil jangan dadakan. Gue mau praktek satu jam lagi. Entar gue viral gara-gara gak tepat waktu kerjanya."


"Udah, lu jangan banyak omong. Adek gue di kamarnya lagi sakit. Lu periksa dia."


"Ya deh. Cerewet!. Gawat deh kalo gue masuk kantor polisi bareng lu."


Ravenska bingung dengan kedekatan antara Andri dengan polisi itu. "Apakah mereka saudara?. Kenalan?. Atau teman?. Kok gue baru tahu ya?." Dalam hatinya sangat bingung dengan hubungan mereka yang sangat heran.


...*** ...


Sementara itu di rumah Salsa?.


Saat ini ia merasa sangat kesepian, dan ia tidak merasa hidup tanpa adanya Ravenska yang selalu membuat ia merindukan laki-laki itu. Ia usap pelan perutnya yang teah membesar, ada perasaan senang yang ia rasakan.


"Kamu itu aneh banget ya?. Udah berani mengandung anak orang tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah." Tentunya ia memikirkan itu, akan tetapi, akan tetapi entah kenapa setiap bersama dengan Ravenska?. Ia seakan-akan tidak ingin membahas masalah itu. Meskipun ada tumbuh perasaan yang seperti itu?. Namun rasa bahagia seakan-akan teah mengalahkan itu semua, sehingga ia urungkan niat itu, selama Ravenska masih bersama dengannya. Ia mengambil hp-nya, ia lihat semua kenangannya?. Ia lihat semua foto kenangannya bersama Ravenska yang tampak sangat bahagia. "Sama seperti yang dikatakan seorang puitis yang sedang jatuh cinta. Dunia ini milik berdua ketika jatuh cinta, dan yang lainnya hanya menumpang lewat saja." Ia hampir saja tertawa dengan apa yang ia ucapkan saat itu. "Kamu pasti akan pulang dalam waktu dekat ini." Itulah yang membuat ia yakin dengan apa yang ia katakan. Perasaan cinta yang sangat kuat, membuat ia sangat yakin bahwa Ravenska akan kembali padanya, tanpa ia berkoar-koar menanyakan kabar Ravenska melalui kata-kata yang ia tuangkan melalui chat. Salsa lebih percaya dengan panggilan cintanya melalui perasaan hati, dan kekuatan cinta yang memanggil mereka untuk bersama. Apakah memang seperti itu selamanya?. Simak terus ceritanya.


...**...


Rumah Raya.


Dokter tampan itu telah memeriksa keadaan Raya, dan ia cukup terkejut dengan hasil pemeriksaan yang ia lihat?.


"Harus ke rumah sakit, soalnya tulang pinggangnya agak kena. Jadi segera bawa dia ke rumah sakit, supaya mendapatkan penanganan yang tepat."


"Separah itu?."


"Enggak parah-parah banget sih, tapi tetap aja harus mendapatkan perawatan yang tepat."


"Kalau gitu langsung ke rumah sakit, habis itu gue ulti tu cewek-cewek yang udah berani nyakitin adek gue."


Setelah itu ia gendang Raya untuk menuju rumah sakit. "Mas, pelan-pelan mas."


"Oh, iya maaf."


Andri saat itu hanya khawatir saja dengan keselamatan Raya, ia sangat takut, jika terjadi sesuatu pada Raya. Lalu bagaimana dengan Ravenska?. Apakah ia akan ikut?. Ia terpaksa ikut, karena ia tidak ingin membuat masalah baru dengan Andri, bisa gawat kalau Andri pak polisi yang ternyata sepupu Raya akan menuduhnya sebagai seorang suami yang sangat tidak bertanggung jawab atas keselamatan istrinya?.

__ADS_1


"Hufh. Kali ini drama apa lagi yang akan lu mainkan ray?." Dalam hati Ravenska sangat bingung dengan situasi yang ia hadapi, dan drama bodoh menurutnya itu.


...***...


***


Keesokan harinya.


Maisya kembali datang ke rumah Raya, akan tetapi pada saat itu tidak ada di rumah?. Maisya menghubungi Raya?.


"Assalamua'alikum ray?. Kamu di mana?."


"Wa'alaikumussalam. Raya ada di toko sama mas ravenska ma."


"Oh iya?."


"Ya ma. Memangnya mama ada di mana?."


"Mama di rumah kamu loh, sama papa."


"Datang aja ke toko ma."


"Ok, mama akan segera ke sana."


"Ok ma. Raya tunggu ya?."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah itu panggilan mereka berakhir sampai di sana. Raya menatap cemas Ravenska saat itu, ia takut jika mamanya mengetahui apa yang telah terjadi pada Raya, karena itulah ia memohon pada Raya agar membantunya supaya tidak kena amukan mamanya.


Kembali ke malam setelah Raya mendapatkan perawatan.


Di ruangan pasien.


Ravenska saat itu terlihat sangat gelisah, tampak jelas di wajahnya saat itu.


"Ada apa mas?. Kok cemas?."


"Bukannya besok kamu sama mama ada janji untuk model pakaian di toko kamu?."


"Iya sih. Tapi-."


"Kamu harus pura-pura sehat besok. Aku gak mau mama marah sama aku gara-gara lihat kamu kek gini."

__ADS_1


"Tapi mas?."


"Kalo kamu benaran sayang dan cinta sama aku?. Maka kamu lakuin apa yang aku minta. Sekali aja aku minta bantuan sama kamu."


Raya sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu, wajah panik dari Ravenska yang ia lihat setalah menikah?. Benarkah itu?. Hatinya merasa sakit melihat raut wajah Ravenska, juga bahasa yang ia dengar saat itu seakan-akan menusuk jantungnya.


"Apa kamu dengar apa yang aku katakan raya?."


"Um. Baiklah mas."


Dengan berat hati ia menyanggupi apa yang dikatakan Ravenska, dan ia tidak ingin ada kesenjangan nantinya di dalam hubungan mereka nantinya.


Sementara itu Ravenska masih ingat dengan ancaman yang telah diucapkan Andri padanya.


"Kali ini lu selamat karena pembelaan dari raya. Tapi kalo lo berani nyakitin adek gue?. Tewas lo sama gue." Saat itu ia seakan-akan sedang membidik kepala Ravenska dengan menggunakan senapan miliknya.


"Ya." Ravenska sangat gugup dengan ancaman itu.


"Ray, kantor aku enggak jauh dari rumah kamu. Kalo dia macem-macem sama kamu?. Tinggal hubungi aja aku kek tadi, ya?."


"Ya mas." Ia hanya tersenyum kecil saja. "Terima kasih udah bantu aku ya mas."


"Untuk adek mas?. Akan selalu siaga dua puluh empat jam."


"Hehehe. Jangan, nanti mba chika cemburu sama aku."


"Ahaha. Ya sudah. Mas kembali bertugas ya?. Jangan sampai sakit."


Dari dulu Andri memang perhatian pada Raya, bahkan dari bocil sudah menjadi pawang untuk Raya. Pernah ia bertarung dengan anak gang yang terkenal premannya?. Tapi ia hajar sendirian karena telah berani menggoda Raya.


Kembali ke masa ini.


Maisya dan Bambang telah sampai di toko pakaian terkenal milik Raya, tentunya keduanya disambut dengan sangat baik oleh mereka semua.


"Selamat datang ma." Raya langsung salaman.


"Kalian udah nungguin mama ya?."


"Ya ma."


"Kami juga udah nungguin ibu cantik."


Saat itu terdengar tawa gelak kelakar diantara mereka?. Apa lagi mereka yang telah siap.

__ADS_1


"Sejak kapan mama akrab dengan karyawan di sini?." Dalam hati Ravenska sangat heran dengan kedekatan antara mamanya dengan karyawan toko milik istrinya itu?.


...***...


__ADS_2