
Pagi hari nya, ini hari terakhir mereka berada di Korea, besok keduanya akan terbang ke Indonesia karena sudah waktunya Vira mengajukan izin ulang di kantor nya. Ia sudah terlalu lama di luar negeri, padahal tidak banyak yang ia lakukan di sini, beruntung ia bertemu dengan Zhang yang memberikan nya fasilitas mewah, uang yang ia bawa dari Indonesia tidak terlalu berkurang banyak.
"Morning," ucap Vira yang melihat Zhang keluar dari dalam kamarnya.
Zhang memberikan kode pada Vira untuk memasang alat penerjemah bahasa, ia ingin berkomunikasi dengan Vira.
"Sudah aku pakai," ucap Vira sambil menyingkirkan rambut nya, memang alat itu tertutup oleh rambut.
"Sedang apa," tanya Zhang.
"Membuat roti bakar, tunggu sebentar.. Kamu mau minum apa," tanya balik Vira.
"Jus," jawab Zhang.
"Jus oke. Kemarin kita ada beli jus kemasan."
Vira mengambil jus itu dari dalam kulkas, tidak lupa ia menyajikannya langsung di depan Zhang.
Zhang tersenyum melihat Vira melayani nya, ia yang sebelumnya tidak ada berpikir untuk menikah langsung memikirkan pernikahan nya, ia sudah memasukkan usia yang sangat matang, dan memang sudah waktunya untuk ia menikah.
"Kenapa," tanya Vira.
"Ada yang salah dengan ku," tanya balik Zhang.
"Kamu senyum senyum sendiri," jawab Vira.
"Apa salahnya," ucap Zhang.
"Tidak ada sih."
"Ha??" Zhang tidak mendapatkan terjemahan yang baik dari alat di telinga nya.
"Tidak ada sih? Ada apa dengan mu?"
__ADS_1
Zhang mengambil alat di telinga nya, ia tidak bisa mendengar terjemahan yang baik dari alat itu.
"Rusak," ucap Vira.
Zhang mengusap nya dengan tisu di meja, mungkin karena kuping nya masih basah alat itu sedikit eror.
"Sudah kamu cas belum," tanya Vira.
Zhang tidak menanggapi apa yang Vira tanyakan, ia saja tidak mengerti apa yang Vira katakan.
"Zhang," ucap Vira.
"Sttttt." Zhang menutup bibir Vira dengan jarinya.
Hal itu membuat Vira sangat terkejut, ini pertama kalinya Zhang menyentuh bibir nya.
"Kamu ah." Vira menepis tangan Zhang.
Zhang kembali memasang alat di telinganya. Ia meminta Vira untuk berbicara.
"Sudah, seperti nya mulai rusak, nanti kita beli lagi," jawab Zhang.
"Kamu kerja apa sih? Kok mudah sekali mengeluarkan uang," tanya Vira.
"Oke kamu mau tau aku berkerja sebagai apa? Aku tidak benar-benar bekerja, aku anak tunggal dari keluarga kaya raya, ayah ku seorang pengusaha dan ibu ku mempunyai sebuah agency hiburan," jawab Zhang.
"Wah serius? Kamu ternyata benar-benar sultan, seharusnya kamu bantu mereka," kata Vira.
"Hahaha kalau mereka memberikan izin aku akan melakukan nya, aku tidak mendapatkan izin dari mereka. Mereka ingin aku jalan jalan, menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, melakukan apa saja yang aku suka," ucap Zhang.
"Wah kehidupan mu apa yang aku inginkan, kita sangat berbanding terbalik. Aku tidak mempunyai keluarga seperti dirimu, aku sudah berjuang sendiri sejak kecil, berjuang untuk sukses seperti sekarang," kata Vira.
"Dimana ibu dan ayahmu," tanya Zhang.
__ADS_1
"Mereka sudah berpisah dan pergi meninggalkan ku," jawab Vira.
"Its oke, keluarga bukan segalanya. Masih banyak jalan menuju bahagia." Zhang mengusap pundak Vira, ia sadar selama ini ternyata ia banyak mengeluh, padahal ia meminta kehidupan yang begitu sempurna dan lengkap.
"Jadi sedih," ucap Vira sambil mengusap wajahnya.
"Jangan sedih, sekarang kan ada aku. Aku juga kesepian kok, itu sebabnya aku menahan ktp mu, aku ingin ada seseorang yang menemani ku. Apalagi aku ingin ke Indonesia, aku membutuhkan orang Indonesia," kata Zhang.
"Nah ketauan kan, memang kamu ya. Kan kamu bisa cari teman, atau nyewa orang."
"Lah ada dirimu, kenapa aku harus mencari orang lain," ujar Zhang.
Vira memajukan bibir nya, memang pria ini tidak dapat di tebak. Mungkin alasan yang Zhang katakan sekarang masuk akal, tetapi belum tentu itu alasan yang sesungguhnya.
Setelah sarapan dengan roti dengan segelas jus, mereka berdua pergi meninggalkan hotel. Tujuan pertama mereka berdua adalah toko elektronik untuk membeli alat terjemah baru, Zhang takut yang sekarang rusak secara tiba-tiba, ia akan kesulitan berkomunikasi dengan Vira jika sampai itu terjadi.
"Sudah," ucap Vira.
"Satu atau dua ya," kata Zhang.
"Dua saja, mana tau punya ku rusak juga," ujar Vira.
Tanpa berpikir lagi Zhang mengambil dua alat itu, ia membeli dengan model yang baru dan lebih canggih dari sebelumnya.
"Simpan di dalam tas mu," ucap Zhang.
"Lah kenapa di dalam tas ku?"
"Aku tidak membawa tas seperti mu," ucap Zhang.
"Oh iya…." Vira mengambil alat itu dan memasukkan nya ke dalam tas.
"Zhang kita ke tower yang tinggi itu yuk," ucap Vira.
__ADS_1
"Makan dulu, hanya roti tidak akan membuatmu kenyang," kata Zhang.
"Ah perhatian nya."