
H-1 sebelum pernikahan, hari ini Vira dan Zhang akan pindah ke Vila tempat mereka akan menikah. Mereka berdua sudah bersiap siap untuk segera berangkat ke tempat itu.
"Sayang apa kamar kita sekarang akan sama dengan kamar kita setelah menikah?"
"Tidak sayang, kamar yang itu kan harus di dekorasi," ucap Zhang.
"Oh begitu, orang orang yang aku undang juga akan datang hari ini, mereka menginap di Vila itu juga kan," tanya Vira.
"Iya, aku sudah menyewa 100 kamar, siapa saja yang isi nanti ya terserah. Keluarga ku sekitar 20 orang, dan tamu kamu 25 orang. Aku sewa lebih banyak, karena takut ada tambahan tamu," jawab Zhang.
"Hari ini keluarga kamu datang," tanya Vira.
"Banyak sekali kamu bertanya ya, iya mereka datang hari ini. Ingat jaga sikap, jangan membuat mereka ilfil, aku takut mereka malah berbalik tidak suka dengan kamu," jawab Zhang.
"Ih kamu semakin membuat ku takut," ucap Vira.
"Hahaha jangan takut, lakukan dengan hati yang tenang."
Mereka pun berangkat menuju Vila, seperti yang Zhang katakan jarak Vila mereka sekarang dengan Vila tempat mereka menikah hanya menempuh waktu sekitar 15 menit saja. Vila tempat mereka akan menikah jauh lebih mewah dari Vila sebelumnya, Vira saja sampai melongok melihat tempat itu.
"Kita akan menikah di tempat seperti ini," tanya Vira.
"Iya sayang, kamu siapkan menikah dengan ku besok."
Vira menganggukkan kepala nya, menikah dengan Zhang sama dengan memulai kehidupan yang baru, kehidupan yang penuh dengan kemewahan.
Zhang sengaja tidak melewati lokasi pernikahan mereka, Vila ini sangat luas yang membuat Zhang bisa mencari jalan lain untuk ke kamar mereka, Zhang ingin Vira melihat tempat mereka menikah nanti saat acara berlangsung, ia ingin membuat sang istri terkejut dengan dekorasi yang ada.
"Ini kamar sementara kita," tanya Vira.
"Iya kamu istirahat di sini ya. Aku ingin menghubungi keluarga ku, seperti nya mereka sudah dalam perjalanan. Oh iya kamu jangan lupa menggunakan alat terjemah, kamu bawa kan," ucap Zhang.
"Bawa.. Tapi tetap saja aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka."
"Tidak masalah, yang terpenting kamu tau apa yang mereka katakan," ucap Zhang.
Vira merasa Zhang tipe orang yang begitu menghormati anggota keluarga nya. Ia sudah beberapa kali mendapatkan peringatan oleh Zhang untuk bersikap baik pada keluarga nya, tanpa Zhang minta pun pasti ia akan melakukan nya. Peringatan yang Zhang berikan pertanda jika Zhang memang sangat menghormati anggota keluarga nya.
Vira memperhatikan Zhang yang sedang mengubungi keluarganya, mendengar Zhang menggunakan bahasa Mandarin terasa sangat berbeda sekali dari biasanya. Zhang juga terlihat lebih berdamage.
"Sudah," tanya Vira.
"Sudah, mereka lagi di bandara," jawab Zhang.
"Sayang aku nanti menyapa mereka dengan bagaimana?"
"Tersenyum dah sedikit menundukkan kepala," ucap Zhang.
__ADS_1
"Kalau aku ingin memeluk mamah mu," tanya Vira.
"Boleh saja, mamah lebih welcome pada orang lain, kamu akan menjadi dekat dengan mamah," jawab Zhang.
"Berenang yuk," ucap Zhang.
"Dimana," tanya Vira.
"Di bawa lah, di sini ada dua kolam renang, satu kolam renang jauh dari tempat kita menikah."
"Ramai," tanya Vira.
"Tidak tau sih, seperti nya tidak ramai," jawab Zhang.
"Ayo lah, untuk yang terakhir kalinya sebelum kita menikah."
"Gunakan bikini," bisik Zhang di telinga Vira.
"Tidak akan," ucap Vira sambil menjulurkan lidah nya.
Setelah selesai berenang, mereka berdua memutuskan untuk istirahat, keduanya hanya tinggal menunggu keluarga Zhang sampai di bandara, kemungkinan besar mereka akan sampai sore ini.
Pukul setelah 6 sore, Vira di bangunkan oleh Zhang secara tiba-tiba, hal itu membuat Vira cukup terkejut. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih terbang entah kemana.
"Sayang ada apa sih," tanya Vira.
"Keluarga ku sudah dalam perjalanan ke Vila, kamu mandi sana. Siap siap, pakai pakaian yang bagus dan wangi, aku berikan waktu 15 menit."
Zhang hanya bisa melongo melihat apa yang Vira lakukan, Vira benar benar terlihat di luar nalar.
Dalam waktu yang singkat itu Vira memutuskan untuk tidak mandi, ia hanya bersih bersih dan memakai pakaian yang sopan, ia tidak mau terlihat binal di depan calon keluarga nya.
"Pakai ini, wangi nya enak," ucap Zhang.
"Dari mana kamu dapat?"
"Aku bawa dari China, khusus kamu pakai saat sedang bersama dengan keluarga ku," ucap Zhang.
Vira mengambil nya dari tangan Zhang, tidak lupa ia langsung mencoba nya.
"Hmmm wanginya bunga sekali," ucap Vira.
"Wangi khas keluargaku," kata Zhang.
"Seperti nya tidak sayang, aku rasa wangi keluarga kamu itu, wangi uang," ucap Vira.
"Sayang… Hahaha kamu benar," kata Zhang sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap siap mereka berdua langsung turun dari dalam kamar, Zhang mendapatkan informasi jika keluarga nya sudah ada di depan sana.
Vira melihat keluarga besar Zhang sudah menunggu mereka berdua. Ia masih tidak menyangka akan menjadi bagian dari keluarga besar ini.
"Tunggu dulu, mereka tidak terlihat seperti Zhang semua.. Ada beberapa wanita bule," batin Vira.
"Kamu bukan satu satunya wanita asing di keluarga ku, selain kau ada beberapa orang yang mendapatkan wanita asing. Itu sebabnya kedua orang tua ku tidak mempermasalahkan pernikahan kita," ucap Zhang.
Vira langsung merasa lega, ternyata memang bukan hanya dia wanita asing di keluarga ini
Zhang langsung memelihara mamah dan ayahnya, ia sangat menyayangi mereka berdua. Rasa sayang nya pada mereka berdua tidak bisa di ukur oleh apapun.
Vira tersenyum manis pada keluarga besar Zhang, mereka semua membalas senyuman manis itu.
Zhang menggunakan bahasa Mandarin untuk mengobrol denah keluarga nya, ia memperkenalkan Vira dengan sangat baik pada keluarga nya. Vira dapat mengerti apa yang Zhang katakan, karena ia menggunakan alat penerjemah di kuping nya.
Vira benar-benar bangga pada Zhang, ia memperkenalkan Vira dengan sangat istimewa dan baik sekali, orang orang yang mendengar apa yang Zhang katakan sampai tersenyum.
"Vira.."
Vira menaikan kepala nya, ia melihat ke arah mamah Zhang yang memanggil dirinya.
Zhang memberikan kode agar berjalan mendekati mamah nya, Vira pun berjalan mendekati mamah mertua nya.
Vira mendapatkan pelukan hangat dari mamah Zhang, hal itu membuat Vira senang sekaligus terharu, walaupun baru pertama kali bertemu Vira dapat merasakan bagaimana kasih sayang yang mamah Zhang berikan ke pada nya.
Vira juga bersalaman dengan anggota keluarga yang lainnya, mereka semua sangat hangat menyambut dirinya, sayang sekali mereka tidak bisa berkomunikasi karena terhalang bahasa.
Zhang membawa keluarga besar nya masuk ke dalam Vila, Zhang sudah menyiapkan kamar khusus untuk mereka semua.
"Mereka sangat hangat sekali," ucap Vira.
"Hahaha keluarga kun memang seorang itu sayang," kata Zhang.
Kedua orang tua Zhang, Zhang dah Vira berada di ruangan yang sama, mereka berempat ingin makan malam bersama sekalian ada yang ingin dibicarakan.
Zhang seperti menjadi juru bahasa dalam pertemuan ini, ia menjelaskan pada Vira apa yang orang tuanya katakan dan begitu juga dengan sebaliknya. Walaupun terasa cukup sulit ia sangat senang karena ini hal yang baru dalam keluarga nya.
"Mereka berterimakasih pada mu, kata ayah ku karena kamu aku jadi banyak tertawa, lebih bahagia, dan terlihat lebih bersemangat untuk hidup."
"Begitu? Kamu tidak bohong kan," tanya Vira.
Zhang menggelengkan kepalanya, ia mengatakan sejujurnya, tidak mungkin ia berani membelokan apa yang orang tuanya katakan.
"Apa kata mamah," tanya Vira.
"Dia ingin cucu, tapi aku berkata. Aku ingin lebih banyak berdua dulu dengan mu, masa pacaran kita kurang lama," jawab Zhang.
__ADS_1
"Sayang aku ingin memakai alat terjemah," ucap Vira.
"Jangan, cukup dengarkan apa yang aku katakan."