Cinta di dataran China

Cinta di dataran China
Bab 23


__ADS_3

Pagi hari nya, hari ini Vira dengan Zhang memiliki beberapa agenda yang cukup penting. Selagi menunggu persiapan pernikahan mereka selesai, Zhang ingin mencari rumah untuk nya dan Vira. Ia dengan Vira akan tinggal di dua negara, di China Zhang sudah mempunyai apartemen pribadi, untuk di Indonesia Zhang ingin mempunyai rumah. Rumah ini akan ia gunakan untuk tempat mereka tinggal saat mereka berkunjung ke Indonesia.


"Sayang kamu mau bagaimana sih, sebenarnya kita mau tinggal dimana," tanya Vira.


"Dua tempat, tergantung mood, bisa di Indonesia bisa di China. Aku tidak akan bekerja selama 10 tahun ke depan, orang tua ku masih pada muda, mereka juga tidak akan memberikan ku izin untuk bekerja. Jadi selama 10 tabun itu kita bisa pindah pindah sesuai kedinginan kita," jelas Zhang.


"Wah bahasa Indonesia kamu sangat baik, kamu belajar dengan sangat cepat. Aku harap anak kita nanti akan memiliki kecerdasan yang sama seperti mu," kata Vira.


"Ya pasti dong, ayah nya pintar. Anaknya juga akan pintar, kamu ingin anak, kita buat sekarang," ucap Zhang.


"Nah mulai lagi.." Vira memberikan tatapan tajam pada Zhang.


"Hahaha maaf maaf, Vira aku tidak ingin mempunyai anak dalam waktu dekat, sekitar 5 tahun setelah pernikahan aku baru ingin mempunyai anak," ucap Zhang.


"Lama sekali, usia ku sudah 29-30 dong," kata Vira.


"Di keluarga ku memang jarang sekali mempunyai anak dengan cepat, aku juga berpikir sama dengan mereka," ucap Zhang.


Vira menggelengkan kepalanya, ia tidak mau menunda terlalu lama, setahun dua tahun ia masih oke, tetapi kalau sudah masuk 5 tahun itu terlalu lama.


"Tidak mau sayang, dua tahun paling lama," ucap Vira.


Zhang tidak mau egois, ia sadar kultur tempat ia berasal dengan Vira berasal berbeda, dua tahun sudah sangat lama untuk Vira. Dan Zhang memutuskan untuk mengikuti apa yang Vira inginkan.


"Oke sayang, aku setuju. Kita tunda setahun dua tahun ya, aku siapkan mental dulu," ucap Zhang.


"Makasih, aku sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu," kata Vira sambil mengecup dahi Zhang.


Setelah selesai bersiap-siap mereka berdua pergi meninggalkan Apartemen, sebelum ini Zhang sudah meminta orang untuk mencari komplek perumahan baru, ia tidak mau tempat yang sudah padat dan terlalu ramai.


Orang yang Zhang perintahkan sudah menemukan tempat itu, sekarang mereka berdua dalam perjalanan ke tempat itu.


Vira sendiri sudah mempunyai bayangan rumah impian nya nanti, ia tidak ingin mempunyai rumah yang terlalu besar, dua lantai sudah cukup, maksimal 3 lantai. Vira ingin rumah nya lebih banyak menggunakan kaca agar sinar matahari masuk dengan bebas.

__ADS_1


"Kamu mau rumah seperti apa," tanya Zhang.


"Mau lihat langsung," jawab Vira.


"Hmmm sebentar lagi sampai," ucap Zhang.


Tak lama mereka berdua tiba di sebuah komplek perumahan mewah, keduanya di antar langsung oleh pemilik komplek perumahan itu.


"Yang ini tipe 2. Hanya dua lantai."


"Aku mau yang dua lantai," ucap Vira.


"Tidak ada yang membuat ku selera, balkon kecil, tidak ada kolam renang, aku tidak mau," kata Zhang.


"Hmmmm iya sih, yang 3 lantai mungkin bagus," ucap Vira.


"Tuan.. Ada perubahan tiga lantai, hanya ada 10 rumah di sana, pemandangan juga sangat bagus langsung ke lapangan golf. Kolam renang yang luas, dan ada beberapa balkon, termasuk kamar."


"Aku mau ke sana," ucap Zhang.


Mata Zhang tertarik pada sebuah rumah yang sangat cocok untuk nya, walaupun berada paling pinggir Zhang tidak masalah sama sekali, malahan Zhang sangat suka dengan tipe rumah seperti itu.


"Itu kosong kan," tanya Zhang.


"Kebetulan itu kosong tuan."


"Boleh kami melihat nya," tanya Zhang.


"Silahkan tuan."


Mereka pun berhenti di rumah itu, berbeda dengan Zhang, Vira tidak terlalu suka dengan rumah itu. Rumah itu terlalu besar untuk nya, apalagi mereka hanya tinggal berdua, Vira yakin dirinya akal lelah sendiri jika tinggal di rumah sebesar itu.


"Aku suka," ucap Zhang.

__ADS_1


"Sayang aku tidak mau," kata Vira.


"Aku tidak meminta pendapat kamu," ucap Zhang dengan santainya.


Vira membuang nafasnya dengan kasar, ia tidak bisa apa apa karena Zhang yang mempunyai uang. Ia hanya bisa menerima jadi nya saja.


"Berapa," tanya Zhang.


"30 tuan."


"Aku ambil, nanti akan ada yang mengurus nya," ucap Zhang.


"Tadi di mobil kamu meminta pendapat ku, sekarang kamu main ambil saja," kata Vira.


"Hahaha sayang, aku mengambil keputusan yang tepat, kamu tenang saja. Kamu tidak akan lelah kok, rumah ini ada lift nya, dan bukan kamu yang akan membersihkan rumah ini. Kamu akan jadi ratu di rumah ini," ucap Zhang.


Vira sangat percaya dengan apa yang Zhang katakan. Untuk apa ia mempermasalahkan hal ini, ia saja tidak membantu Zhang untuk membeli rumah ini.


Zhang dan Vira lanjut berdua melihat lihat rumah ini, mereka berdua masuk ke dalam kamar utama yang begitu luas sekali. Kamar yang Vira sangat suka, semuanya sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Aku sangat suka," ucap Vira.


"Maaf sayang, warna nya tidak sesuai dengan ku. Aku akan mengganti nya," kata Zhang.


"Sayang tidak mau.. Kalau kamu memaksa aku tidak mau menikah dengan kamu."


Zhang tersenyum mendengar ancaman Vira, untuk kali ini ia mengikuti apa yang Vira inginkan.


"Ini akan menjadi spot favorit ku," ucap Zhang.


"Tempat apa itu," tanya Vira.


"Untuk membuat anak, malam pertama kita di sini saja," jawab Zhang.

__ADS_1


"Terserah kamu," ucap Vira.


__ADS_2