CINTA GILA SANG GENGSTER

CINTA GILA SANG GENGSTER
Bab 11 Kemarahan Arman


__ADS_3

Sepuluh menit sudah, Arman terbaring di atas tempat tidur bahkan Dr.Amanda saat ini tidak ada di ruangannya karena ada panggilan dari atasannya.


Zee masih memperhatikan wajah Arman, hingga tidak lama kemudian Arman pun mulai menggerakkan tubuhnya.


"Kamu sudah sadar?" seru Zee.


"Berapa lama aku pingsan?"


"Kira-kira 10 menitan."


Arman pun bangun dan Zee dengan sigap membantu Arman untuk bangun.


"Jangan bantu aku bangun, aku tidak sakit," seru Arman dingin.


Zee hanya diam, hingga beberapa kemudian Dr.Amanda pun datang.


"Kamu sudah sadar Arman? baiklah terapinya sudah cukup untuk hari ini, besok kita bertemu lagi."


"Baiklah, terima kasih dok."


"Sama-sama."


Arman pun langsung pergi dan Zee dengan cepat menyusul Arman.


"Aku antarkan kamu pulang."


"Iya."


Zee tidak mau banyak bicara, dia segera memakai helmnya dan naik ke atas motor Arman. Arman mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Sekarang kamu tahu apa yang sudah terjadi kepadaku, apa kamu masih takut kepadaku?" tanya Arman disela-sela perjalanannya.


Zee dengan cepat menggelengkan kepalanya, entah kenapa saat melihat Arman mengalami trauma berat seperti itu, Zee tidak takut lagi kepada Arman justru sekarang Zee merasa sangat kasihan kepada Arman.


Hingga beberapa saat kemudian, Arman pun menghentikan motornya di depan rumah sekaligus toko bunga Zee.


"Terima kasih."


Arman menganggukkan kepalanya, dan tanpa banyak bicara Arman pun langsung menancapkan gas meninggalkan rumah Zee.


"Zee, kamu diantar oleh laki-laki berandal itu?" tanya Ayah Hendar.


"Dia namanya Arman, Ayah. Dan dia bukan anak berandalan," sahut Zee lembut.


"Bukan berandalan bagaimana? kamu lupa tempo hari dia hampir saja mau memukul Ayah? kalau bukan anak berandalan, lalu apa? karena anak yang baik-baik tidak akan bersikap seperti itu kepada orangtua."


"Nanti Zee jelaskan semuanya kepada Ayah, sekarang Zee mau mandi dulu soalnya sudah gerah sekali."


Zee dengan cepat pergi ke kamarnya untuk mandi.


Malam pun tiba....


Seperti janjinya, Biru malam ini menjemput Zee untuk membawa Zee ke suatu tempat.


"Sebenarnya kamu mau bawa aku ke mana, Bir?" tanya Zee di sela-sela perjalanan mereka.


"Kita akan pergi ke sebuah tempat, pokoknya nanti kamu akan suka," sahut Biru.

__ADS_1


Biru melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga tanpa sadar mobil Biru melewati kumpulan pemuda yang tidak lain adalah anak buahnya Arman.


"Anto, bukannya itu ceweknya si Bos? kenapa dia pergi dengan laki-laki itu lagi?" tunjuk salah satu anak buah Arman.


"Wah, iya. Itu si Zee, ayo buruan kita ikuti mereka," sahut Anto.


Semuanya segera menancapkan gasnya dan mengikuti mobil Biru, hingga tidak lama kemudian Biru pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran.


"Ayo keluar, kita makan malam di sini."


Zee pun keluar dari dalam mobil Biru dan mengikuti Biru masuk ke dalam restoran itu. Biru memang sengaja memilih restoran yang romantis karena malam ini dia berencana ingin mengatakan cintanya kepada Zee. Sudah lama Biru menyukai Zee, bahkan sejak Biru berada di kampung bersama Zee.


"Ayo, silakan duduk."


Biru menggeser sedikit kursinya ke belakang, supaya Zee bisa duduk.


"Terima kasih."


Biru dengan cepat memesan makanan untuk mereka berdua, sedangkan Anto dan teman-temannya tidak bisa masuk karena penampilan mereka yang urakan membuat pemilik restoran tidak mengizinkan mereka masuk.


"Bagaimana ini, Anto?"


"Aku telepon si Bos dulu."


Akhirnya Anto pun memilih untuk memberitahukannya kepada Arman. Arman yang saat ini sedang bermain game di ponselnya merasa sangat kesal saat Anto menghubunginya.


📞"Brengsek, siapa suruh kamu menghubungi ku di malam hari? kamu sudah lupa ya, dengan apa yang aku peringatkan kepadamu!" bentak Arman.


Arman langsung menjauhkan ponselnya saat mendengar bentakan Arman.


📞"Katakan, kalau sampai berita yang kamu berikan sama sekali tidak penting, aku buat kamu babak belur malam ini juga," ancam Arman.


📞"Santai Bos. Begini Bos, di saat aku sama anak-anak sedang nongkrong tiba-tiba mobil laki-laki yang suka sama Zee lewat dan ternyata Zee juga ada di dalam mobil itu, mereka saat ini ada di sebuah restoran Bos."


📞"Apa? share lock sekarang juga."


Arman memutuskan sambungan teleponnya, dan segera menyambar jaket dan kunci motornya, lalu dengan terburu-buru keluar dari dalam kamarnya.


"Hai, anak berandalan, kamu mau ke mana malam-malam begini?" seru Paras.


"Sudah pasti mau main sama geng berandalannya, sayang," sahut Mama Venna dengan sinisnya.


Arman menghentikan langkahnya, dan dengan cepat Arman menendang vas bunga yang ada di atas meja membuat vas bunga itu pecah berantakan.


Masih beruntung Mama Venna menunduk, kalau tidak vas bunga itu akan mendarat dengan sempurna di keningnya.


"Kurang ajar, kalau vas bunga itu sampai kena kepada Mama, aku akan laporkan kamu ke polisi!" bentak Paras.


"Aku sedikit pun tidak takut, dan satu hal yang harus kalian tahu. Masih mending aku anak berandalan tapi tahu diri, daripada kalian sudah miskin, tidak tahu diri pula. Kerjaannya hanya numpang hidup sama Papaku," seru Arman dengan senyumannya.


"Brengsek kamu Arman, beraninya kamu mengatakan kami orang miskin!" teriak Paras.


Arman tidak memperdulikan teriakan Paras, dia dengan cepat keluar dan pergi dari rumahnya.


Arman melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, emosinya sudah sampai ubun-ubun. Dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Arman pun sampai di restoran itu.


"Kenapa kalian tidak masuk dan hajar laki-laki itu?" kesal Arman.

__ADS_1


"Kami tidak bisa masuk Bos, karena pemilik restoran tidak mengizinkan kami masuk," sahut Anto.


Arman pun hendak masuk ke dalam restoran, tapi Arman juga ternyata di tahan oleh sekuriti.


"Maaf, Mas tidak bisa masuk," seru sekuriti.


Arman merogoh kantong jaket kulitnya dan memperlihatkan kartu member VIP di restoran itu, seketika nyali si sekuriti ciut dan mempersilakan Arman untuk masuk.


Anto dan yang lainnya memutuskan untuk menunggu di luar. Arman celingukan mencari keberadaan Zee, hingga matanya yang tajam melihat Zee dan Biru sedang makan malam bersama bahkan Zee tampak tersenyum berbeda saat dengan dirinya, jangankan Zee tersenyum, yang ada Zee ketakutan dan merasa tertekan.


Arman masih berdiri mematung, sedangkan Zee dan Biru sudah selesai makan malam.


"Zee, sebenarnya aku mengajak kamu ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu," seru Biru.


"Apa?"


Biru mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jasnya kemudian membukanya di hadapan Zee.


"Zee, aku sudah lama menyukaimu tapi aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Tapi sekarang, aku berusaha memberanikan diri untuk mengatakannya. Zee, maukah kamu menikah denganku?" seru Biru.


Zee merasa terkejut dengan ucapan Biru, malam ini bukan hanya Biru menembaknya saja, bahkan Biru langsung melamar Zee untuk menjadi istrinya.


Zee bingung harus mengatakan apa, hingga akhirnya Zee membelalakkan matanya saat melihat Arman sedang berdiri di belakang Biru dengan tatapan tajamnya.


"Arman."


Senyuman Biru luntur saat Zee menyebut nama Arman, Biru pun membalikan tubuhnya dan ternyata di belakangnya sudah berdiri Arman.


"Aku sudah peringatkan sama kamu, jangan dekati Zee karena Zee adalah milikku!" sentak Arman.


"Sejak kapan Zee menjadi milikmu? Zee itu bukan milik siapa-siapa, termasuk bukan milikmu juga," sahut Biru.


Bugghh...


Satu pukulan dari Arman mendarat di perut Biru, membuat Biru tersungkur ke atas lantai dan itu menjadi pusat perhatian semua tamu yang berada di dalam restoran.


"Arman, hentikan!" sentak Zee.


Zee menghampiri Arman dan menatap tajam ke arah Arman.


"Kalau kamu mencintaiku, tolong jangan bersikap kasar kepada sahabatku," seru Zee.


"Bodoh, kamu anggap dia sahabat, tapi dia tidak menganggapmu sahabat dan itu yang membuat aku marah!" bentak Arman.


"Kenapa kamu mesti marah? aku dan kamu tidak punya hubungan apa-apa, jadi aku bebas dekat dengan siapa pun termasuk Biru," sahut Zee.


Zee membantu Biru untuk berdiri. "Kamu tidak apa-apa kan, Bir?"


"Tidak, kamu tidak usah khawatir."


"Ya sudah, lebih baik sekarang kita pulang saja."


"Sebentar, aku bayar dulu."


Biru pun mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyimpannya di atas meja, setelah itu Zee dan Biru pergi meninggalkan Arman yang masih diam mematung.


Arman mengepalkan kedua tangannya, dan rahangnya pun mengeras menahan emosi karena Zee lebih membela laki-laki itu dibandingkan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2