
Armand segera menuju tempat dimana GPS nya dari ponsel Pak Bimo menyala.
Armand mencari-cari ponsel Pak Bimo, dan dia menemukannya di rerumputan pinggir jalan.
"Ini ponselnya Om Bimo, ke mana dia?" gumam Armand.
Di saat Armand sedang mencari keberadaan Pak Bimo, tiba-tiba kepalanya di tutup dengan kain hitam dan Armand pun langsung dibawa karena Armand tidak sadarkan diri akibat kain hitam yang sudah diberikan obat bius itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, orang-orang itu membawa Armand ke sebuah gubuk di tengah hutan.
"Ini Bos, orangnya," seru salah satu orang itu.
"Bagus."
Paras tampak tersenyum puas karena bisa menangkap Armand, sedangkan Pak Bimo sudah lemas dengan tangan dan kaki terikat bahkan wajahnya sudah babak belur.
"Mas Armand," lirih Pak Bimo.
"Ikat dia," seru Paras.
"Baik, Bos."
Anak buah Paras langsung mengikat tangan dan kaki Armand, setelah itu mereka pun keluar dan membiarkan Armand tergeletak begitu saja karena Armand masih tidak sadarkan diri.
"Kalian jaga mereka berdua baik-baik, jangan sampai mereka kabur karena aku mau pulang dulu. Nanti malam aku balik lagi ke sini, dan kita eksekusi mereka berdua," seru Paras.
"Baik, Bos."
Paras pun segera pergi dari gubuk itu, sedangkan anak buahnya yang berjumlah 5 orang itu menunggu di depan gubuk dan berjaga-jaga.
Sementara itu, Zee di bawa ke sebuah rumah berlantai dua dan Zee tidak tahu rumah siapa itu. Zee mulai merasa ketakutan, si sopir taksi keluar dari dalam mobil dan membuka pintu untuk Zee.
__ADS_1
"Ayo keluar, kamu harus ikuti saya jangan banyak melawan karena saya tidak akan ngapa-ngapain kamu asalkan kamu menurut."
"Ini rumah siapa? aku tidak mau ikut," tolak Zee.
"Nanti kamu akan tahu setelah di dalam, karena Bos saya sudah menunggu."
Si sopir itu menarik tangan Zee. "Oke, lepaskan tanganku. Aku akan mengikuti kamu," seru Zee.
Si sopir pun segera masuk ke dalam rumah itu dan Zee dengan terpaksa mengikutinya. Zee sebenarnya takut, tapi Zee tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurut.
Pria itu terus saja membawa Zee masuk dan betapa terkejutnya Zee saat melihat isi rumah itu yang tertempel foto-foto dirinya di sepanjang dinding.
"Gila, rumah ini penuh dengan fotoku," batin Zee.
Zee semakin takut, bahkan saat ini tubuhnya sudah merinding. Sudah dipastikan kalau Zee akan berhadapan dengan orang gila.
"Silakan masuk, dan tunggu Bos saya datang," seru pria itu dengan membukakan pintu.
Zee tampak ragu-ragu, tapi Zee juga tidak punya pilihan lain. Perlahan Zee masuk ke dalam kamar itu, Zee dibuat tercengang dengan isi kamar yang masih dipenuhi dengan foto Zee.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan betapa terkejutnya Zee saat melihat siapa orang yang masuk ke dalam kamar itu.
"Biru, kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Zee tidak percaya.
"Zee, aku sudah menyukai sejak dulu tapi kamu tidak pernah memperdulikan ku. Aku itu sangat mencintaimu, bahkan aku sudah banyak menolong kamu dan Ayahmu."
"Maksud kamu apa? jadi selama kamu menolong kami, kamu tidak ikhlas," seru Zee tidak percaya.
"Bukanya tidak ikhlas, setidaknya kamu punya perasaan. Di dunia ini tidak ada yang gratis Zee."
Zee geleng-geleng kepala, sungguh dia tidak percaya dengan semua ini. Biru yang selama ini Zee anggap sebagai laki-laki yang baik, ternyata ada niat terselubung dibalik niatnya menolong dirinya dan juga Ayahnya.
__ADS_1
"Ternyata kamu tidak lebih baik daripada Armand, justru Armand yang terlihat berandalan adalah laki-laki yang baik. Kalau kamu mau aku membalas hutang budi aku sama Ayah aku, oke beri aku waktu akan aku bayar semuanya," seru Zee dengan kesalnya.
"Kamu tidak perlu membayarnya Zee, karena aku tidak butuh uangmu. Tapi yang aku mau, kamu menjadi milikku. Kamu tidak lihat, kalau semua rumah ini dipenuhi oleh fotomu dan itu artinya aku sangat mencintaimu."
"Dasar gila," kesal Zee.
Zee hendak keluar dari dalam kamar itu, tapi Biru berhasil menghentikan langkah Zee.
"Kalau kamu berani keluar dari kamar ini selangkah saja, kamu akan melihat mayat Armand di hadapan kamu."
Seketika Zee membelalakkan matanya dan membalikan tubuhnya menatap Biru.
"Maksud kamu apa?"
Biru menghampiri Zee dan memperlihatkan ponselnya ke arah Zee. Zee kaget saat melihat Armand dalam kondisi terikat dan tidak sadarkan diri.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Armand? kamu memang jahat Biru, aku tidak menyangka ternyata seperti ini sifat asli kamu!" sentak Zee.
"Kamu yang sudah membuat aku seperti ini Zee, kamu lebih memilih Armand dibandingkan aku yang selama ini selalu ada di samping kamu."
"Cinta tidak bisa dipaksakan Biru, awalnya aku memang merasa terpaksa oleh Armand tapi Armand tidak jahat sepertimu. Dan aku semakin yakin, kalau pilihanku ternyata memang benar," seru Zee dengan penuh kekesalan.
Zee ingin kabur dari kamar itu, tapi dengan sigap Biru menarik tangan Zee dan melempar tubuh Zee ke atas tempat tidur.
"Jangan paksa aku untuk berbuat kasar kepadamu, lebih baik sekarang kamu ikuti apa keinginan aku dan aku janji akan membahagiakanmu melebihi apa pun."
Biru segera keluar dari kamar itu dan menguncinya dari luar, membuat Zee menggedor-gedor pintu.
"Keluarkan aku dari sini, Biru!" teriak Zee.
"Jangan melawan, atau nyawa Ayahmu akan melayang juga," sahut Biru.
__ADS_1
Seketika tubuh Zee merosot ke lantai, dia terduduk di balik pintu dengan deraian airmatanya.
Awal bertemu, Armand memang sosok laki-laki Pemaksa tapi Armand tidak pernah bersikap kasar kepada Zee. Bahkan ancamannya saja, hanya sebatas isapan jempol belaka karena pada kenyataannya Armand tidak pernah melakukan apa-apa kepada dirinya atau pun kepada Ayahnya.