CINTA GILA SANG GENGSTER

CINTA GILA SANG GENGSTER
Bab 6 Laki-laki Pemaksa


__ADS_3

Selama mengikuti mata pelajaran, Zee terlihat tertekan sekali duduk di samping Arman.


"Astaga, laki-laki ini benar-benar sudah gila," batin Zee.


Hingga beberapa jam kemudian, mata pelajaran pun selesai. Zee dengan cepat membereskan semua alat-alat tulisnya dan hendak bangkit dari duduknya tapi lagi-lagi Arman menahan lengannya.


"Aku antarkan kamu pulang."


"Ti-tidak usah, aku mau pulang bareng Biru," sahut Zee dengan gugup.


Mendengar kata-kata laki-laki itu, Arman mencengkram tangan Zee dengan sangat kuat membuat Zee meringis kesakitan.


"Sakit, lepaskan," seru Zee.


"Tadi aku sudah bilang, kalau mulai saat ini kamu sudah menjadi milikku dan aku tidak suka kamu menyebut nama laki-laki lain di hadapanku," geram Arman.


Arman menarik tangan Zee keluar dari dalam kelas, Biru yang sejak tadi sudah menunggu Zee merasa terkejut saat melihat Zee ditarik seperti itu.


"Hai, apa-apaan kamu? lepaskan dia!" sentak Biru.


Arman menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.


"Mulai sekarang, dia adalah milikku jadi jangan pernah kamu mendekati dia lagi."


"Apa? jangan sembarangan kalau ngomong."


Biru menarik tangan Zee dengan sekali sentakan.


"Jangan karena kamu anak dari donatur tetap di kampus ini, jadi kamu bisa melakukan hal seenaknya. Tidak semua yang kamu inginkan, bisa kamu dapatkan," geram Biru.


Biru segera menarik tangan Zee dan membawanya pergi dari sana meninggalkan Arman, sedangkan Arman tampak mengepalkan tangannya merasa sangat marah dengan apa yang sudah Biru lakukan.


Zee segera masuk ke dalam mobil Biru, dan Biru pun dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


"Aku takut, Bir. Orang itu sudah gila dan pemaksa," seru Zee ketakutan.


"Kamu tenang saja, selama aku ada di samping kamu, aku tidak akan membiarkan anak berandalan itu menyakitimu."


"Tapi dia orangnya nekad Bir, justru aku takut kamu kenapa-napa."


"Sudahlah, gak usah dipikirkan."

__ADS_1


Sementara itu, Arman mengajak teman-temannya untuk mengejar mobil Biru. Hingga, beberapa saat kemudian Arman dan teman-temannya sudah bisa menyusul mobil Biru.


Arman memberi kode supaya menyusul mobil Biru, hingga tepat di jalanan sepi mereka pun berhasil menyalip mobil Biru dan otomatis Biru menginjak rem dengan mendadak.


"Astagfirullah, itu mereka Bir."


"Brengsek."


Anto dan yang lainnya turun dari motornya dan menggedor kaca jendela mobil Biru.


"Keluar kamu!"


"Bagaimana ini Bir?" seru Zee ketakutan.


"Kamu diam saja di sini jangan keluar, biar aku yang urus mereka."


"Jangan Bir, mereka banyak kamu tidak akan bisa menang melawan mereka."


"Sudah kamu tenang saja."


Biru pun akhirnya keluar dari dalam mobilnya, sedangkan Zee terlihat sangat ketakutan sekali.


Arman turun dari atas motornya dan melepaskan helmnya, kemudian berdiri di hadapan Biru.


"Aku sudah bilang sama kamu, gadis itu milikku," seru Arman.


"Zee bukan milik siapa-siapa, lagipula Zee tidak akan mau dengan laki-laki berandalan dan urakan seperti dirimu," sahut Biru.


Bughh...


Satu pukulan mendarat di wajah Biru, membuat Biru tersungkur ke jalanan. Zee sampai menutup mulutnya saking kagetnya melihat Arman memukul Biru.


Arman menarik tubuh Biru supaya bangun. "Kamu itu bukan tandingan ku, jadi jangan pernah melawan kepadaku."


"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan Zee dekat denganmu, karena gadis baik-baik seperti Zee tidak pantas mendapatkan laki-laki berandalan yang bisanya berkelahi dan mabuk-mabukan seperti dirimu!" sentak Biru.


Amarah Arman semakin memuncak, Arman pun tanpa ampun menghajar Biru. Zee yang merasa tidak tega melihat Biru dipukuli seperti itu, akhirnya memilih keluar dari dalam mobil Biru.


"Hentikan!" teriak Zee.


Arman seketika menghentikan aksinya, sedangkan Biru sudah terkulai lemah di jalan dengan hidung dan bibir yang sudah mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Jangan pukuli Biru lagi, yang kamu inginkan itu aku jadi kamu jangan melampiaskan kemarahan kamu kepada Biru," seru Zee memberanikan diri.


Arman tersenyum dan mulai mendekati Zee, jantung Zee berdetak sangat kencang saat Arman menghampirinya. Sungguh Zee sangat membenci laki-laki yang bernama Arman itu.


Arman mengelus pipi mulus Zee, tapi Zee memalingkan wajahnya. "Seandainya dari tadi kamu menurut kepadaku, laki-laki sampah itu tidak akan terluka," seru Arman dengan senyumannya.


"Jangan lukai Biru lagi, mulai sekarang aku akan menuruti apa keinginan kamu," seru Zee berusaha kuat.


Arman kembali menyunggingkan senyumannya, lalu Arman menarik tangan Zee tapi Zee meringis dan itu membuat Arman mengerutkan keningnya.


Arman melihat pergelangan tangan Zee dan ternyata terlihat memar akibat perbuatannya tadi.


"Maafkan aku, mari aku obati," seru Arman lembut.


"Tidak usah, aku mau pulang," sahut Zee.


"Baiklah, aku akan mengantar kamu pulang."


Arman pun kembali memakai helmnya dan menatap Zee supaya segera naik ke atas motornya. Zee melihat ke arah Biru yang saat ini sedang melihatnya.


"Maafkan aku Biru, aku pulang duluan," seru Zee dengan tatapan sedihnya.


Zee pun dengan terpaksa segera menaiki motor Arman.


"Kalian kembali saja ke basecamp jangan ikuti aku," seru Arman.


"Baik, Bos."


Arman menarik kedua tangan Zee supaya memeluk perutnya, Zee ingin menarik kembali tangannya tapi Zee takut. Arman pun mulai melajukan motornya menuju rumah Zee, selama dalam perjalanan Zee memilih diam.


Hingga beberapa lama kemudian, motor Arman pun sampai di depan rumah sekaligus toko bunga Zee. Ayah Hendar mengerutkan keningnya saat melihat Zee diantar oleh orang yang tidak dikenal.


"Ingat, mulai besok aku yang akan antar jemput kamu jadi jangan pernah kamu menerima ajakan laki-laki payah itu," seru Arman dengan merapikan rambut Zee yang sedikit acak-acakan.


"Aku sangat membencimu," seru Zee dengan kesalnya.


Arman tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak peduli, kamu mau membenciku atau tidak karena yang jelas mulai detik ini kamu adalah milikku dan tidak ada yang boleh mendekatimu. Ingat, sekali saja aku melihat laki-laki itu mendekatimu, aku akan buat dia lebih parah daripada tadi," ancam Arman.


"Kamu memang laki-laki Pemaksa," kesal Zee.


Zee dengan cepat masuk ke dalam rumahnya, Ayah Hendar memperhatikan Arman tapi Arman dengan cepat menutup kaca helmnya dan pergi dari rumah Zee.

__ADS_1


__ADS_2