
Armand dan anak buahnya bisa tertawa bahagia karena lagi-lagi mereka bisa mengalahkan Geng Tiger.
"Bos, kamu tidak apa-apa? soalnya tadi Bos kena pukulan balok kayu?" seru Anto.
"Tidak apa-apa, tapi tanganku sepertinya sedikit terkilir," sahut Armand sembari memegang pergelangan tangannya.
"Mau ke rumah sakit, Bos?"
"Tidak usah, aku pulang saja lagipula sebentar lagi malam."
Armand langsung menaiki motornya, namun sayang Armand harus mengendarai motornya dengan satu tangan karena tangannya benar-benar terasa sangat sakit.
Hingga butuh waktu yang lumayan lama untuk Armand sampai di rumah karena Armand melajukan motornya dengan sangat pelan.
"Astagfirullah, Mas Armand kenapa?" tanya Bi Sukma.
"Tangan aku terkilir Bi."
"Terlihat sekali, karena pergelangan tangan Mas Armand tampak bengkak. Ya sudah, Bibi panggilkan tukang urut ya, biar tangan Mas Armand tidak semakin parah."
"Nanti bibi suruh ke kamar aku saja."
"Baik, Mas."
Armand pun melangkahkan kakinya dengan gontai, sungguh saat ini badannya terasa sakit semua.
"Lebih baik kamu mati saja sekalian, daripada setiap hari berantem terus, bikin susah saja," ledek Paras.
Armand menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Paras.
"Sebelum aku mati, aku harus bisa bunuh dirimu dan wanita itu, jadi jangan berharap aku mati karena do'a kamu tidak akan pernah terkabul," sahut Armand.
Armand kembali melangkahkan kakinya tapi Paras sangat emosi, dia hendak memukul Armand dari belakang namun Armand langsung menendang Paras sehingga Paras tersungkur ke lantai dengan memegang perutnya.
"Aku akui kalau masalah ambil uang, kamu dan wanita tua itu sangat pintar, tapi kalau masalah adu kekuatan, kamu sama sekali bukan tandingan ku jadi, jangan coba-coba kamu menantang ku."
__ADS_1
Armand dengan cepat naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.
"Brengsek, ambil uang? maksud dia apa? apa jangan-jangan anak sialan itu sudah tahu mengenai semuanya," batin Paras.
Sementara itu di kamar Papa Yongki, saat ini Papa Yongki sedang mengotak-ngatik laptopnya. Mama Venna datang dengan membawa minum dan obat.
"Pa, jangan kerja terus, ini minum obat dulu," seru Mama Venna.
"Terima kasih, Ma."
Papa Yongki segera meminum obat itu, tanpa dia tahu kalau obat kolestrol yang selama ini dia minum, isinya sudah diganti dengan obat yang sudah Mama Venna beli dari Bobby.
Mama Venna tampak tersenyum, karena sebentar lagi dia dan Paras akan bisa menyingkirkan Armand dan semua harta Papa Yongki akan jatuh ke tangannya.
"Selamat, menderita sayang," batin Mama Venna dengan senyumannya.
Setelah minum obat, Papa Yongki pun memutuskan untuk tidur karena tubuhnya terasa sangat lemas akibat seharian kerja yang sangat melelahkan itu.
Mama Venna memperhatikan wajah suaminya itu. "Sekarang tinggal cari cara untuk menyingkirkan anak sialan itu, karena Papanya sudah aku kuasai sekarang," batin Mama Venna.
***
Zee semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi Armand, bahkan Armand pun tidak menghubunginya. Zee ingin sekali menghubungi Armand, tapi Zee merasa takut dan belum berani.
Pagi ini Zee duduk di depan toko bunganya, menunggu kedatangan Armand karena Zee yakin kalau Armand akan datang untuk menjemputnya.
Tiba-tiba mobil Biru datang. "Ayo Zee, kita berangkat," seru Biru.
"Tidak Bir, aku sedang menunggu Armand."
"Zee, kok kamu seperti itu sih? dulu, kamu gak pernah menolak ajakan Biru," seru Ayah Hendar.
"Zee, sedang menunggu Armand, Ayah."
"Zee, ini yang Ayah tidak suka kamu bergaul dengan anak itu. Kamu jadi berubah, Biru adalah teman kamu sejak masih di kampung dan dia yang selalu membantu kita jika kita dalam masalah. Pokoknya Ayah tidak mau tahu, sekarang kamu berangkat ke kampus bareng Biru!" sentak Ayah Hendar.
__ADS_1
"Tapi Yah, bagaimana kalau nanti Armand datang," seru Zee.
"Nanti biar Ayah yang hadapi anak itu."
Zee merasa tidak mau berangkat bareng Biru, justru saat ini Zee sangat menunggu Armand menjemputnya.
"Ayo, Zee."
Zee pun dengan terpaksa masuk ke dalam mobil Biru, Biru tampak tersenyum bahagia. Walaupun yang dihadapinya seorang ketua Gengster tapi setidaknya Ayah Hendar berada di pihaknya karena bagi Biru yang terpenting mendapatkan dukungan dari Ayah Hendar, masalah Armand itu urusan gampang.
Di kediaman Papa Yongki, Armand hari ini tidak masuk ke kampus karena tangannya masih terasa sangat sakit.
Armand menuruni anak tangga dan ikut bergabung sarapan bersama.
"Armand, apa kamu tidak ke kampus?" tanya Papa Yongki.
"Tidak."
Papa Yongki melihat wajah Armand yang sedikit babak belur, bahkan pergelangan tangannya sedikit bengkak.
"Tangan dan wajah kamu kenapa?" tanya Papa Yongki.
"Apa lagi kalau bukan habis berkelahi, Pa," sahut Paras.
"Armand, kenapa kamu tidak mau mendengarkan nasehat Papa. Kamu itu anak yang akan melanjutkan usaha Papa, lebih baik kamu belajar bisnis daripada bergaul dengan anak-anak berandalan dan urakan seperti mereka," seru Papa Yongki.
"Jangan menyuruh Armand, tanpa di minta pun kalau Armand sudah siap, Armand akan masuk ke dalam perusahaan dengan sendirinya," sahut Armand.
"Pa, selama ini yang mengurus perusahaan Papa kan,aku. Tapi kenapa Papa justru bilang, kalau yang akan melanjutkan usaha Papa justru Armand? memangnya Papa gak takut perusahaan Papa hancur di tangan Armand," kesal Paras.
"Papa pilih kasih, tidak menghargai usaha Paras. Padahal selama ini Paras yang sudah ikut memajukan perusahaan Papa," sambung Mama Venna dengan kesalnya.
"Tenang saja, nanti Paras juga akan mendapatkan satu perusahaan untuk dia kelola tapi bukan perusahaan ini karena perusahaan ini memang Papa peruntukan untuk Armand karena perusahan ini adalah perusahaan yang didirikan oleh Papa dan almarhum Mama Armand," sahut Papa Yongki.
Paras dan Mama Venna langsung cemberut, pasalnya perusahaan Papa Yongki yang sedang Paras kelola adalah perusahaan pusat yang sangat besar dan Paras sangat menginginkan perusahaan itu untuk dia kuasai.
__ADS_1
"Sial, enak banget si Armand. Aku yang urus selama ini, dia yang akan mendapatkan semuanya. Awas saja, sebelum kamu bisa menguasai perusahaan itu, aku akan membuat bangkrut terlebih dahulu," batin Paras.
Sedangkan Armand tampak menyunggingkan senyumannya, dia tahu apa yang sedang direncanakan Paras dan Mama Venna karena selama ini Armand sudah memasang cctv tanpa sepengetahuan mereka semua.