
Keadaan Papa Yongki semakin hari semakin mengkhawatirkan, Papa Yongki semakin tidak ingat apa pun akibat obat keras yang Mama Venna berikan.
"Ma, kita bawa saja si tua bangka itu ke panti sosial. Ngapain juga, Mama masih urusin dia bikin susah saja," seru Paras.
"Mama juga sudah ada rencana seperti Paras," sahut Mama Venna.
Bi Sukma yang memang mendengar ucapan keduanya, langsung menghampiri mereka.
"Bu Venna, Mas Paras, Bibi mohon jangan bawa Pak Yongki ke panti sosial, biar saya saja yang mengurus Pak Yongki," seru Bi Sukma.
"Siapa kamu, berani mengatur-ngatur kita!" bentak Paras.
Bi Sukma bertekuk lutut di hadapan Mama Venna dan juga Paras.
"Bu, Mas, saya mohon jangan lakukan itu. Saya janji tidak akan menyusahkan Ibu dan Mas, biarkan Pak Yongki tetap berada di sini," mohon Bi Sukma.
Mama Venna dan Paras saling pandang satu sama lain.
"Bagaimana, Paras?" tanya Mama Venna.
"Baiklah, si tua bangka itu akan tetap di sini tapi ingat, kamu harus bisa jaga ucapan jangan sampai semuanya bocor dan kamu jangan pernah melaporkan semua yang kamu lihat mau pun yang kamu dengar," seru Paras.
"Ba-baik, Mas."
__ADS_1
"Ya sudah, mulai sekarang si tua Bangka itu tidur di kamar pembantu saja karena aku sudah tidak sudi tidur satu ranjang dengannya," ketus Mama Venna.
"Baik, Bu."
Bi Sukma segera pergi untuk membawa Papa Yongki pindah tidur, Bi Sukma tampak meneteskan airmatanya saat melihat Papa Yongki yang hanya bisa melamun dengan tatapan kosongnya.
"Ya Allah, apa salah Pak Yongki dan Mas Armand? kenapa mereka bisa melakukan hal sekejam ini?" batin Bi Sukma.
Bi Sukma menghapus airmatanya sendiri. "Mudah-mudahan saja ada keajaiban, kalau Mas Armand masih hidup," batin Bi Sukma.
***
1 tahun kemudian....
Mereka sangat bahagia, bahkan mereka menghambur-hamburkan uang untuk belanja dan berlibur ke luar negeri. Sedangkan Bi Sukma hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa.
Secara diam-diam, Bi Sukma memeriksakan obat yang selalu diberikan Mama Venna untuk Papa Yongki. Bi Sukma merasa sangat curiga dengan obat itu, dan ternyata kecurigaan Bi Sukma benar kalau obat itu adalah obat keras yang bisa membuat orang yang meminumnya amnesia.
Bi Sukma sangat merasa bersalah karena baru mengetahuinya satu bulan yang lalu, dan saat ini setiap jam minum obat, Bi Sukma tidak memberikannya kepada Papa Yongki melainkan membuangnya.
"Semoga saja Pak Yongki segera sembuh dan bisa mengungkap semua kejahatan mereka," batin Bi Sukma.
Sementara itu, Armand saat ini sedang duduk termenung di pinggir sungai dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
"Mas Armand sedang apa di sini? jangan melamun Mas, nanti kesurupan loh," seru Nur.
"Ah kamu Nur, aku sedang merindukan seseorang."
"Merindukan seseorang? kalau boleh tahu, siapa Mas?" seru Nur.
"Pacar aku Nur, aku sangat merindukannya tapi entahlah dia merindukanku atau tidak," sahut Armand.
Deg...
Hati Nur terasa sangat ngilu, dia pikir laki-laki tampan itu tidak punya kekasih tapi nyatanya Armand mempunyai kekasih yang saat ini sedang dia rindukan.
"Oh, Mas ternyata sudah punya pacar, kirain masih jomblo," goda Nur dengan senyuman mirisnya.
"Iya Nur, dia penyemangat aku selama ini."
"Ya sudah Mas, kalau begitu Nur mau masak nasi dulu."
"Iya Nur."
Nur pun pergi meninggalkan Armand, tidak terasa airmatanya menetes tapi Nur dengan cepat menghapusnya. Seharusnya sejak awal, Nur tahu mana mungkin laki-laki tampan seperti Armand belum punya pacar.
Semenjak satu tahun lalu, Nur memang menyukai Armand tapi Nur hanya bisa memendamnya dan sekarang cinta Nur harus layu sebelum berkembang.
__ADS_1
"Zee, apa kamu baik-baik saja di sana? tunggu aku Zee, aku akan segera kembali dan membongkar semua kebusukan para bajingan-bajingan itu," batin Armand.